Langsung ke konten utama

Postingan

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?
Postingan terbaru

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...

Bayangan

Bayangannya masih ada, tak kunjung juga ia menghilang. Tak ada angin yang membantuku untuk menghapus bentukan gas itu. Mengambil sebagian dari udara yang kuhirup. Sesak. Kau membuatku sesak. Bayangan hitam yang masih saja ada di belakang meski sudah beberapa kali kumaki untuk pergi. Beberapa kali kuejek untuk minggir Beberapa kali kuhujat untuk merasa marah dan akhirnya hengkang Tapi nyatanya, ia masih disana menyeringai memandangku yang menoleh kearahnya dengan wajah jengkel. Sialan. Kenapa kamu tidak capek mengikutiku dibelakang? Dan lagi-lagi ia tertawa, seolah menyiksaku dengan kehadirannya adalah sebuah lelucon yang sanggup membuatnya terpingkal. Aku terus berjalan, membiarkan bayang hitam itu mengejekku. Berjalan kedepan, meski bayangan hitam itu sesekali menyentilku saat sedang tertawa Membawa aura gelap yang membuatku jengah. Aku geram. Tak khayal aku hanya bisa menangis dalam gelap. Berharap untuk diselamatkan. Sudah ku udarakan bendera putih se...

Jarak

Teduh, nyatanya kau tak jauh berbeda dengan mereka. Yah.. namanya juga kau manusia. Sama seperti mereka yang datang lalu pergi. Datang karena keingin tahuan, menjalin karena terbiasa. Lalu pergi saat ditanyakan mengenai sesuatu yang tak ingin kau bicarakan. Jarak itu nyata ternyata, tak ada lagi mimpi mimpi akan jawaban dari beberapa tanya yang terlintas dari anganku. Tak ada lagi gurauan yang bersliweran di layar handphoneku. Dan yang kau bilang ... Ah sudahlah. Kau tau teduh, anganku bertanya2 lagi. Tapi aku lelah, teman bicaraku lagi2 hilang. Kamu. Meski kadang aku tidak bisa mendapatkan jawaban pasti dari pertanyaanku, but thanks. Setidaknya kamu ada untuk menjadi teman bicaraku. Teduh, aku masih ingin berdendang lagi. Aku masih ingin bertukar hari lagi. Apa itu sudah tidak memungkinkan lagi ?

Apa aku rindu (?)

Hei teduh. Aku ingin bercerita. Aku tidak tau apa namanya. Apakah aku rindu, atau aku hanya sekilas teringat lagi. Tentang kesalahan terbesarku untuk membiarkan diriku tunduk oleh janji yang nyatanya kini ia ingkari. Yah, si bodoh. Teduh, kadang batinku menjerit. Aku ingin bercerita banyak sekali. Tentang penyesalan yang tak kunjung sembuh dengan total. Meski aku berujar jika aku baik2saja. Nyatanya, tidak. Aku masih mencoba untuk baik2 saja. Dan terima kasih sudah membantu. Aku brengsek. Begitu juga dengan dia. Kau jangan coba2 jadi brengsek juga ya. Jika kau seklai saja mencobanya, mungkin aku benar2 tidak akan berani untuk ambil resiko lagi. Berbicara dengan sosok yang tak kutau asal usul sejelas2nya. Yah. Aku takut dan aku pengecut. Teduh, kadang rasanya sepi. Kadang tanyaku membumbung tinggi. Tapi aku tak ingin terus2an bertanya padamu. Jadi kubiarkan ia hilang ditelan percakapan kita. Teduh, apa aku orang baik? Apa aku akan bisa mendapatkan kebahagiaan seperti dengan dirinya?

Tanda Tanya

Ada apa dengan anganku. Selalu saja membuat pertanyaan pertanyaan yang hanya membuatku tidak tenang. Padahal hidup memang seperti itu kan? Tidak ada kepastian yang hakiki. Begitu juga dengan perkenalanku denganmu, harus kusebut dengan panggilan apa dirimu? Teduh. Yah. Panggil saja teduh. Sejak pertama kali namamu muncul dilayar ponselku, ada perasaan aneh yang muncul dari dalam diriku. Dia siapa? Kenapa dia berteman dengan teman lamaku? Rasa rasanya aku ingin abai saja. Tapi teduh, aku tidak bisa. Buktinya aku sempat membagi kehadiranmu kepada temanku. Jika memang kamu hanya sosok yang sekedar datang dan kupandang sebelah mata. Aku tak mungkin setertarik itu untuk berbagi dengan mereka. Mungkin karena aku tau, ini tidak munngki kebetulan. Jikapun ini kebetulan, sepertinya ini akan menjadi salah satu kebetulan yang menarik. Teduh, sedari awal kita berbincang, aku merasa ada yang aneh. Pembawaanmu yang sopan, dan caramu menanyakan dan mengutarakan sesuatu. Awalnya kaku sekali bukan. Aku...

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...