Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

kawan yang hilang

betapa lucunya jemari itu berlarian. betapa ironinya seorang teman menjadi tak berkawan. aku mengenalmu. sedikit. dan kini sedikit demi sedikit semakin terkuak tentangmu. sungguh aku tak menyangka apa yang kau cibirkan kini kau lakukan. mana dirimu yang kutau? seolah hilang ditelan kabut. samar dan tak tergapai. kau salah. aku juga salah. kita sama-sama salah. entah ego siapa yang memimpin. aku kehilangan kawan. berawal dari dustamu dan kecewaku. lalu mengapa kau berbalik menjauh? kawan yang selalu kusuka ceritanya hilang. terima kasih sempat berkawan denganku, pujangga.

aku disini

jarum jam terus berputar. aku dan kamu tetap melangkah. meski langkah kita tak selaras dulu. mereka yang disekelilingmu mungkin juga mencintamu. tetapi jangan kau samakan dengan rasaku yang masih terendap. bagi mereka, mungkin kau lelaki dengan tawa manis dan wajah tampan. bagiku, kau pemilik janji semu yang kini entah berlaku atau kadaluarsa. yang mereka lihat mungkin penampilan atau jabatanmu. yang kulihat senyum centil dengan potongan rambut ala wanita kala itu. badan keceng yang mencoba berdiri tegap meski bahumu terasa sangat berat untuk menopang. kelopak mata hitam kebanyakan begadang untuk sekedar nonton anim dan bersenda gurau. gigi marmut kecil dibagian paling depan dengan hidung mancung besar. bayangan sosokmu yang kadang bergumal di anganku. aku melihatmu sebagai sosok kala itu. sepertinya masih terpaku dengan hangat pelukmu tempo itu. bukan mereka tak mengenalmu, tapi aku lebih tau kamu. kenangan yang tinggal memori kadang terasa lucu. bagaimana kita bisa se...

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

manusia.

kita, hanya manusia. manusia congkak yang selalu ingin dimengerti kita memiliki kecenderungan. saling menyakiti. sadar maupun tidak. bukankah saling memaafkan itu indah? bukankah sudah dimaafkan setelah melakukan kesalahan itu hal yang luar biasa nikmat? tapi lagi-lagi kita hanya manusia mengumpat adalah hal yang seolah wajib untuk dilakukan mengumpat dan menyalahkan. salahmu salahku. itu hanya masalah sudut pandang kenapa masih saja bersombong diri? saling memunggungi tetapi masih terbawa diangan? jangan dusta. kita semua juga tau didalam otak konslet itu kadang masih terbayang lalu kenapa? bukankah saling memaafkan itu indah? aku memang sama dengan manusia manapun. kecenderungan kami pun sama. begitu juga denganmu. yang lalu mungkin berbekas. tapi bukan berarti membuat yang sekarang ternoda jika bisa ikhlas. kita sudah impas. lalu kenapa kau masih terlihat murka?

putri tidak keberatan menunggu

seorang putri terdiam, dia terduduk sendiri di sebuah kursi taman. tak ada bebungaan wangi maupun berwarna-warni. karena salju sedang turun meski tak begitu banyak. tangannya memucat ditelan dingin. bibirnya yang merah mulai mengeluarkan kepulan asap. entah berapa lama dia duduk sendiri disana. membiarkan rambut kecoklatannya begidik dikelitiki udara sore itu. matahari seakan enggan untuk lengser, meski akhirnya ia mengantuk jua. si putri sesekali memandang ke sekeliling. hanya ada ranting yang dihinggapi sisa salju semalam, beberapa orang yang berjalan dan meninggalkan jejak diatas gumpal salju, dan juga bangunan yang seolah menjadi saksi bisu momen kali itu. ia tak bisu, jelas putri bisa berbicara. ia juga tak buta, untuk melihat jika yang ditunggu tak juga hadir. ia juga tak bodoh, meski menunggu di tengah dinginnya salju sudah membuat badannya separo kaku. hanya saja ia tak ingin beranjak. ia yakin pangerannya akan datang. cepat maupun lambat. iya yakin pangerannya tak akan tega ...

kenapa?

udara menghangat. sinar mentari masuk melalui cela pintu yang tertutup masih bergumul dengan tanya, diam-diam kau memaki. aku bertanya dalam sepi pagi ini. setelah tak kudengar lagi sayup suara masjid menyeru. kenapa kau ngotot? apa kau merasa bersalah? atau hanya ingin membenarkan tindakan? mataku berkaca pada langit pagi ini. mencoba tersenyum meski entah terasa berat. tanganku mencoba menggapai. angin yang tak berasa seolah ia tak lewat bayang seklebat muncul. kau yang duduk diam dengan wajah keras. mungkin sedang berfikir sembari mengingat. yah, jalan saja seperti kau yang biasa. aku tidak risau dengan tindakanmu yang lalu. jadi tak perlu kau bawa beban. bukankah kau selalu seperti itu? aku menengadah ke langit. Tuhan, kau tau jika pionmu ini selalu berbuat salah. tapi kau tetap menyayangi kami. tidak bisakah pionmu ini juga melakukan hal yang sama?

malam itu

bukan lagi senja berwarna jingga. bukan lagi balutan semerbak dingin gemelut menuju malam cahaya mengudara, terik dan menyilaukan mata suara tawamu masih terjaga. suara yang menemani tidurku semalam diujung jarak yang terasa dekat hanya karena sebuah layar aku masih takut. jujur aku kalut. bayang yang membawa bumbu lama seolah siap meracik tapi aku masih enggan membiarkan jemariku tergenggam lagi. langit menggelap. bintang menyeringai sinis seolah menertawakan kegundahan yang masih saja memutari diriku. ditengah sunyi yang kubuat sendiri. kekehanmu seolah mencoba merobos masuk. kedalam lubang yang dulunya ada dan kini kututup. rinduku tak ingin kuungkap. seperti rasa yang enggan kubuka lagi. tetapi katamu, sudah antarkan aku ke dimensi lain malam tadi.

biarkan aku jatuh cinta

saat kedua kakiku menghujam diatas daratan. saat jemariku mencoba untuk menggenggam angin yang berlarian disekitarku. aku menikmati kesendirianku. aku menikmati sepiku. bersama lantun irama yang terngiang di gendangku. kuacuhkan semua cibir yang ada dibelakangku. kata yang hanya merusak suasana senjaku. kututup telinga dan mataku. menikmati sejuk dan wanginya udara sore ini. dengan gurat kasar dalam lembaranku. aku menggambarkan sosok seorang lelaki. tersenyum. senyum tertulus yang pernah kugoreskan dengan pena. perlahan kubiarkan wajahku terdongak. memandang langit keorangean yang indah. Tuhan. biarkan aku jatuh cinta PadaMu, dan juga segala keindahan yang sengaja kau ciptakan.