bukan lagi senja berwarna jingga.
bukan lagi balutan semerbak dingin gemelut menuju malam
cahaya mengudara, terik dan menyilaukan mata
suara tawamu masih terjaga.
suara yang menemani tidurku semalam
diujung jarak yang terasa dekat hanya karena sebuah layar
aku masih takut. jujur aku kalut.
bayang yang membawa bumbu lama seolah siap meracik
tapi aku masih enggan membiarkan jemariku tergenggam lagi.
langit menggelap. bintang menyeringai sinis
seolah menertawakan kegundahan yang masih saja memutari diriku.
ditengah sunyi yang kubuat sendiri.
kekehanmu seolah mencoba merobos masuk.
kedalam lubang yang dulunya ada dan kini kututup.
rinduku tak ingin kuungkap.
seperti rasa yang enggan kubuka lagi.
tetapi katamu, sudah antarkan aku ke dimensi lain
malam tadi.
bukan lagi balutan semerbak dingin gemelut menuju malam
cahaya mengudara, terik dan menyilaukan mata
suara tawamu masih terjaga.
suara yang menemani tidurku semalam
diujung jarak yang terasa dekat hanya karena sebuah layar
aku masih takut. jujur aku kalut.
bayang yang membawa bumbu lama seolah siap meracik
tapi aku masih enggan membiarkan jemariku tergenggam lagi.
langit menggelap. bintang menyeringai sinis
seolah menertawakan kegundahan yang masih saja memutari diriku.
ditengah sunyi yang kubuat sendiri.
kekehanmu seolah mencoba merobos masuk.
kedalam lubang yang dulunya ada dan kini kututup.
rinduku tak ingin kuungkap.
seperti rasa yang enggan kubuka lagi.
tetapi katamu, sudah antarkan aku ke dimensi lain
malam tadi.
Komentar
Posting Komentar