Langsung ke konten utama

putri tidak keberatan menunggu

seorang putri terdiam, dia terduduk sendiri di sebuah kursi taman. tak ada bebungaan wangi maupun berwarna-warni. karena salju sedang turun meski tak begitu banyak. tangannya memucat ditelan dingin. bibirnya yang merah mulai mengeluarkan kepulan asap. entah berapa lama dia duduk sendiri disana. membiarkan rambut kecoklatannya begidik dikelitiki udara sore itu.
matahari seakan enggan untuk lengser, meski akhirnya ia mengantuk jua. si putri sesekali memandang ke sekeliling. hanya ada ranting yang dihinggapi sisa salju semalam, beberapa orang yang berjalan dan meninggalkan jejak diatas gumpal salju, dan juga bangunan yang seolah menjadi saksi bisu momen kali itu.
ia tak bisu, jelas putri bisa berbicara. ia juga tak buta, untuk melihat jika yang ditunggu tak juga hadir. ia juga tak bodoh, meski menunggu di tengah dinginnya salju sudah membuat badannya separo kaku. hanya saja ia tak ingin beranjak. ia yakin pangerannya akan datang. cepat maupun lambat. iya yakin pangerannya tak akan tega membuatnya bersedih hanya karena tak bisa menuangkan rindunya.
tak khayal, matanya berbinar. seolah melihat sebuah keajaiban yang indah, iapun bangkit dari kursi yang sedari tadi ia tempati, berjalan pelan menuju sesosok yang berada beberapa meter darinya.
senyum lelaki itu membuat rona pipinya muncul, sepasang lengannya siap untuk membawa gadis itu menuju kedalam hangat peluknya. dengan sigap sang putri berlari, menjemput pangeran yang juga berjalan ke arahnya.
dalam satu momentum yang indah, mereka saling berpelukan. berbagi hangat tubuh masig-masing saat keduanya bisa saja tengah begidik kedinginan. menunggu memang tak menyenangkan. menunggu memang membuat jengah. tapi jika menunggu membawamu pada sesuatu yang mengubah seluruh jalan hidupmu, sepertinya putri tidak keberatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...