seorang putri terdiam, dia terduduk sendiri di sebuah kursi taman. tak ada bebungaan wangi maupun berwarna-warni. karena salju sedang turun meski tak begitu banyak. tangannya memucat ditelan dingin. bibirnya yang merah mulai mengeluarkan kepulan asap. entah berapa lama dia duduk sendiri disana. membiarkan rambut kecoklatannya begidik dikelitiki udara sore itu.
matahari seakan enggan untuk lengser, meski akhirnya ia mengantuk jua. si putri sesekali memandang ke sekeliling. hanya ada ranting yang dihinggapi sisa salju semalam, beberapa orang yang berjalan dan meninggalkan jejak diatas gumpal salju, dan juga bangunan yang seolah menjadi saksi bisu momen kali itu.
ia tak bisu, jelas putri bisa berbicara. ia juga tak buta, untuk melihat jika yang ditunggu tak juga hadir. ia juga tak bodoh, meski menunggu di tengah dinginnya salju sudah membuat badannya separo kaku. hanya saja ia tak ingin beranjak. ia yakin pangerannya akan datang. cepat maupun lambat. iya yakin pangerannya tak akan tega membuatnya bersedih hanya karena tak bisa menuangkan rindunya.
tak khayal, matanya berbinar. seolah melihat sebuah keajaiban yang indah, iapun bangkit dari kursi yang sedari tadi ia tempati, berjalan pelan menuju sesosok yang berada beberapa meter darinya.
senyum lelaki itu membuat rona pipinya muncul, sepasang lengannya siap untuk membawa gadis itu menuju kedalam hangat peluknya. dengan sigap sang putri berlari, menjemput pangeran yang juga berjalan ke arahnya.
dalam satu momentum yang indah, mereka saling berpelukan. berbagi hangat tubuh masig-masing saat keduanya bisa saja tengah begidik kedinginan. menunggu memang tak menyenangkan. menunggu memang membuat jengah. tapi jika menunggu membawamu pada sesuatu yang mengubah seluruh jalan hidupmu, sepertinya putri tidak keberatan.
matahari seakan enggan untuk lengser, meski akhirnya ia mengantuk jua. si putri sesekali memandang ke sekeliling. hanya ada ranting yang dihinggapi sisa salju semalam, beberapa orang yang berjalan dan meninggalkan jejak diatas gumpal salju, dan juga bangunan yang seolah menjadi saksi bisu momen kali itu.
ia tak bisu, jelas putri bisa berbicara. ia juga tak buta, untuk melihat jika yang ditunggu tak juga hadir. ia juga tak bodoh, meski menunggu di tengah dinginnya salju sudah membuat badannya separo kaku. hanya saja ia tak ingin beranjak. ia yakin pangerannya akan datang. cepat maupun lambat. iya yakin pangerannya tak akan tega membuatnya bersedih hanya karena tak bisa menuangkan rindunya.
tak khayal, matanya berbinar. seolah melihat sebuah keajaiban yang indah, iapun bangkit dari kursi yang sedari tadi ia tempati, berjalan pelan menuju sesosok yang berada beberapa meter darinya.
senyum lelaki itu membuat rona pipinya muncul, sepasang lengannya siap untuk membawa gadis itu menuju kedalam hangat peluknya. dengan sigap sang putri berlari, menjemput pangeran yang juga berjalan ke arahnya.
dalam satu momentum yang indah, mereka saling berpelukan. berbagi hangat tubuh masig-masing saat keduanya bisa saja tengah begidik kedinginan. menunggu memang tak menyenangkan. menunggu memang membuat jengah. tapi jika menunggu membawamu pada sesuatu yang mengubah seluruh jalan hidupmu, sepertinya putri tidak keberatan.
Komentar
Posting Komentar