aku nyaris menyerah.
otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut.
tentang kau, inginmu, dan egoku.
kemelut yang ada berujung badai.
tak terlalu dasyat memang.
tetapi sempat buatku menyeringai sinis.
jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain.
tak kubiarkan ada jemari yang mengikat.
aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong.
aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka.
wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut.
ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak
langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap.
ingin kuhempas semua biar beban hilang.
tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira.
satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan.
berjalan, terseret, sendiri.
otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut.
tentang kau, inginmu, dan egoku.
kemelut yang ada berujung badai.
tak terlalu dasyat memang.
tetapi sempat buatku menyeringai sinis.
jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain.
tak kubiarkan ada jemari yang mengikat.
aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong.
aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka.
wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut.
ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak
langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap.
ingin kuhempas semua biar beban hilang.
tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira.
satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan.
berjalan, terseret, sendiri.
Komentar
Posting Komentar