Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

matahari

bagai mentari yang kadang kutunggu dan kadang kubenci kunanti kilau jingganya yang indah kucaci saat teriknya membuat merah raga jarak antar kota terpaut, jemari kita tak pernah bisa bertautan. dalam binar keorangean senja lalu, pernah kubiarkan ragaku bersatu dengan bahumu akal otakku kubiarkan bebas, menikmati keindahan itu dalam separo pelukmu. langitnya berbeda. bukan karena ada kamu. tapi gemerlapnya sedang cantik-cantiknya. seolah semesta ingin memberi kenangan sebelum kau hilang dari pandang lagi. tak ada keorangean seperti yang biasa kulihat saat menunggumu. ungu, dengan sedikit bias warna biru cerah. beberapa bintang mulai nampak, meski tak kentara. senyummu mengudara, menambah cantik sore kala itu. jemari kita tak lagi berjauhan, bisa kurasakan peluk jemarimu diujung pundakku. bahkan semilir anginpun tak bisa memisah dua hati yang sedang bersanding. seolah tak ingin dipisah cepat-cepat. aku masih menunggumu, matahari ulungku dengan sedikit perasaan kesal saa...

kata

kata-kata bagai belati. kata-kata kadang bisa menjadi bukti sekaligus caci. kata-kata bisa menjadi dengki, dan juga benci. kata-kata menyayat hati, menusuk gendang kata-kata menggoyak hati, meruntuhkan diri. kalian, yah, kalian. hanya bisa berucap tanpa mengerti. kalian hanya berucap dan memandang yang bisa terpapar mata. kalian hanya mencibir sekaligus menyindir. sedang aku, mencoba memeluk jemari meski sedikit gontai ragaku memapah. kau yang jauh masih mengharu biru, selalu memeluk ringkih yakin yang selalu mereka koyak. aku tak ingin goyah, aku tak ingin yakinku dibuat cacat. aku ingin mereka melihat yang ada didalam, bukan praduga yang tak pasti. aku ingin bayar semua kata, aku ingin buat mereka yakin. dengan genggamku yang gemetar. ia selalu mencoba mendendang. hidup akan baik saja asal aku ada. dan akupun yakin, hidup akan baik saja jika senyumnya tak kunjung terbenam.