Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

chit chat [2]

maaf jika sekenanya saya tidak bisa mengucapkan apa yang ingin anda dengar. maaf karena saya juga memiliki keteguhan hati sendiri saat anda seolah memaksa saya untuk menuturkan apa yang begitu ingin anda dengar. maaf karena saya tidak pandai mengucap kata yang nantinya hanya akan anda sanggah dengan beberapa kalimat yang sudah saya hapal diluar kepala. buat apa berhatur maaf jika tidak datang dari dalam hati? buat apa memaksakan sesuatu yang tak seharusnya dipaksa hanya untuk kesenangan diri semata? aku sudah jengah. berada dalam posisi terhimpit dan seolah bisa sesak napas kapan saja saat dindingnya lagi-lagi mulai bergerak menghimpit. aku sudah jengah, selalu merasakan debaran jantung karena ketakutan yang entah harus berujung sampai titik mana. mohon maaf, tapi saya tak ingin mendengar sindiran apapun keluar dari pihak anda. saya selalu merasa sendiri. meski saya punya keluarga, punya beberapa sahabat, bahkan semu memiliki anda. karena hakikatnya, saya memang tak punya siap...

chit chat

pernahkah kau merasa lelah hanya karena hal yang bergulir tak juga usai? dimana hal itu bukanlah sesuatu yang baik untuk berdiam didalamnya? alhasil kau hanya bisa memillih untuk diam atau mengabaikan. disaat sesuatu menjadi buruk dan kau merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, haruskah kau memina maaf? sepertinya iya. karena meski kau tak lakukan apapun yang menurutmu salah, kau punya kewajiban untuk menjaga semuanya baik-baik saja. dan itu butuh keteguhan hati yang besar. memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang dimau oleh orang lain tidak selalu membuat kita bahagia. itu nyatanya. bahkan kadang malah membuat eksistensi kita seolah samar. karena apa? harus ini. harus itu. sesuai kata dia. sesuai kata si A si B. kau tau kau punya pendirian dan jawaban atas apa yang sudah kau tunjuk. tetapi harus berbelok dan harus menerima pembelokan itu terjadi meski kau tak ingin. apakah ada yang peduli? kadang tidak. pihak yang berucap hanya akan tersenyum saat tau kau melakukan tepa...

bisakah kau dengar sebentar

adakah aku salah mengira yang telah ada? adakah aku salah menilai jika kamu yang memang seharusnya kutunggu? aku tau, kau tak pernah benar-benar lakukan apa yang kulakukan. kadang sedikit ketulusan, dan ada beberapa rentet keterpaksaan. kamu selalu sukses membuatku merasa bahagia sekaligus merana. kamu selalu sukses membuatku merasa jika saya hanya seseorang yang akan kau panggil jika tubuhmu mulai lemas, semangatmu mulai luntur, dan bahumu sudah tak kuat menopang. tapi adakah kau peduli denganku? dengan apa yang bergejolak dalam dada dan anganku? tentangmu. kita berjarak, seperti yang lalu-lalu, dan aku seolah sudah lama mengenalmu jauh dari waktu yang bergulir diantara kita kini. kau disana, dan aku disini. dalam bentang kilometer yang tak bisa dibilang dalam takaran angka ribuan. hatiku pernah hancur. lebur. masih dengan bongkah kepingan tentangmu. senyum terpapar, meski hati kelu, dan angan meloncat-loncat mencarimu. sedang apa kamu. sedang dimana dirimu. apa kau sehat. bagai...

kataku

aku tak pandai mengucap kata. hanya bisa merangkai beberapa kata untuk kau baca. aku kesal dengan keadaan, kesal dengan cibiran mereka, kesal dengan tanggapanmu, kesal dengan jarak yang tak juga mendekat, kesal dengan kepekaanmu yang kadang setipis tissue, kesal dengan semua hal yang bersangkutan dengan 'Kamu'. mereka bisa bilang ini itu, dan aku tak akan peduli. setidaknya itu yang kubuat tekat. tapi nyatanya aku salah. apapun ucapannya, apapun gelagat tingkahnya yang tiba-tiba mencuat, apapun hal baru yang kuketahui setelah kepo sana sini hanya membuat rasaku terenyuh. 'ah ayolah, kau kenal dia. kau tau apa alasan yang akan ia utarakan' karena aku tau semua itu, maka aku tak bisa diam tanpa menggingiti bagian bawah bibirku. tak bisa hanya tersenyum tanpa membiarkan akalku meloncat kesana kemari. dewasa. bagaimana kabar dari kedewasaan itu? kenapa ia tak kunjung tumbuh dalam roman percintaan yang kadang membuatku muak dan ingin pergi saja. melihat sosoknya seol...

bagaimana?

bagaimana jika aku hanya ingin dengannya? bagaimana jika aku hanya memaksakan egoku untuk tinggal? bagaimana jika semua ini hanya demi kebahagiaanku saja? bagaimana jika dia tidak? bagaimana jika ternyata ia tak merasakan hal yang sama? haruskah aku melepas lagi? sesuatu yang sangat ingin kudekap untukku sendiri? sesak. sesak sekali rasanya. seperti ada sesuatu yang tertahan dan tak terungkap. hanya saling melukai dan akhirnya saling terdiam dengan diri masing-masing. aku meringkuk dalam kelu dan membiarkan anganku berlarian ganas. melompat kesana kemari berfantasi akan sesuatu yang tak pasti. ada kemelut emosi yang menderu ingin meledak. kedua mataku nanar tapi tak jua terlinang air mata. rasa kecewa dan marah membumbung di dada. aku harus apa? tak ingin kejadian beberapa tahun silam datang dan buatku sesak seperti sekarat. aku tak ingin mati dalam dekap tanganku sendiri.

jengah?

lagi-lagi jadi kelabu. seolah tanganku enggan dan takut untuk sekedar meraih sendu. enggan untuk mendengar egois yang membusungkan dadanya dengan percaya diri. enggan untuk sekedar mengintip apa yang ia tuturkan dan dengan siapa. aku terlalu muak hingga rasa kesalku memuncak. air mataku mengering karena terlalu lelah dengan cacian yang itu itu saja. lagi-lagi aku merasa jika ia hanyalah pembohong. yah, ia seperti pendusta yang ingin membenarkan apa yang sudah ia tulis. kututup telingaku. aku tak mau mendengar apapun keluar dari mulutmu. kualihkan pandangku. aku tak mau melihat kobaran kesombongan di matamu. aku hanya ingin sendiri.membiarkan musik keras memakiku. membiarkan mereka tertawa dan bertanya kenapa aku pengecut. karena memang, saya adalah pengecut ulung. saya dewasa, tetapi saya terlalu takut menggenggam harapan yang seolah telah berlalu. saya pengecut, berusaha dan akhirnya terdiam di tengah persimpangan. dasar penjahat ulung! kau tidak bisa mengem...

dua jalan

kubuka lenganku lebar, tapi kau seolah ingin lebih dari peluk pengap. kubasuh pilumu pelan, tapi seolah kau tampis dengan kata kelumu. kubuat siasat hanya untuk buatmu tersenyum lupakan bebanmu, tapi seolah kau hanya tersenyum sinis memandang tingkah bodohku. kau, iya kau. matamu seolah bisa tercongkel keluar padahal hanya kubaca sekilas pesan sinismu. kututup rapat katub bibirku dari pada mendengar teriakanmu karena tak selaras. disaat kuingin kau memelukku barang sedetik. yang kudapat hanya keluhmu dan akhirnya kusingkirkan manjaku. dua jalan nampak jelas didepan. kamu dan aku hanya menatap nanar. kamu berjalan berbalik. bukan memilih dua jalan itu. dan aku? hanya diam. tanpa alasan.