aku tak pandai mengucap kata. hanya bisa merangkai beberapa kata untuk kau baca.
aku kesal dengan keadaan, kesal dengan cibiran mereka, kesal dengan tanggapanmu, kesal dengan jarak yang tak juga mendekat, kesal dengan kepekaanmu yang kadang setipis tissue, kesal dengan semua hal yang bersangkutan dengan 'Kamu'.
mereka bisa bilang ini itu, dan aku tak akan peduli. setidaknya itu yang kubuat tekat.
tapi nyatanya aku salah. apapun ucapannya, apapun gelagat tingkahnya yang tiba-tiba mencuat, apapun hal baru yang kuketahui setelah kepo sana sini hanya membuat rasaku terenyuh.
'ah ayolah, kau kenal dia. kau tau apa alasan yang akan ia utarakan'
karena aku tau semua itu, maka aku tak bisa diam tanpa menggingiti bagian bawah bibirku.
tak bisa hanya tersenyum tanpa membiarkan akalku meloncat kesana kemari.
dewasa. bagaimana kabar dari kedewasaan itu? kenapa ia tak kunjung tumbuh dalam roman percintaan yang kadang membuatku muak dan ingin pergi saja.
melihat sosoknya seolah merayu senyum lain. apa normal jika aku diam saja?
tak ada debar marah ataupun emosi yang melunta-lunta.
rasanya aku lelah dengan torehan sana sini yang lebih banyak berwarna kelabu.
tapi mengapa tak jua menyerah? meski sudah ditimpa sana sini?
andai aku tau jawabnya, mungkin akan kutanyakan lagi. apa masih mau berdiri disini?
aku kesal dengan keadaan, kesal dengan cibiran mereka, kesal dengan tanggapanmu, kesal dengan jarak yang tak juga mendekat, kesal dengan kepekaanmu yang kadang setipis tissue, kesal dengan semua hal yang bersangkutan dengan 'Kamu'.
mereka bisa bilang ini itu, dan aku tak akan peduli. setidaknya itu yang kubuat tekat.
tapi nyatanya aku salah. apapun ucapannya, apapun gelagat tingkahnya yang tiba-tiba mencuat, apapun hal baru yang kuketahui setelah kepo sana sini hanya membuat rasaku terenyuh.
'ah ayolah, kau kenal dia. kau tau apa alasan yang akan ia utarakan'
karena aku tau semua itu, maka aku tak bisa diam tanpa menggingiti bagian bawah bibirku.
tak bisa hanya tersenyum tanpa membiarkan akalku meloncat kesana kemari.
dewasa. bagaimana kabar dari kedewasaan itu? kenapa ia tak kunjung tumbuh dalam roman percintaan yang kadang membuatku muak dan ingin pergi saja.
melihat sosoknya seolah merayu senyum lain. apa normal jika aku diam saja?
tak ada debar marah ataupun emosi yang melunta-lunta.
rasanya aku lelah dengan torehan sana sini yang lebih banyak berwarna kelabu.
tapi mengapa tak jua menyerah? meski sudah ditimpa sana sini?
andai aku tau jawabnya, mungkin akan kutanyakan lagi. apa masih mau berdiri disini?
Komentar
Posting Komentar