Langsung ke konten utama

kataku

aku tak pandai mengucap kata. hanya bisa merangkai beberapa kata untuk kau baca.
aku kesal dengan keadaan, kesal dengan cibiran mereka, kesal dengan tanggapanmu, kesal dengan jarak yang tak juga mendekat, kesal dengan kepekaanmu yang kadang setipis tissue, kesal dengan semua hal yang bersangkutan dengan 'Kamu'.
mereka bisa bilang ini itu, dan aku tak akan peduli. setidaknya itu yang kubuat tekat.
tapi nyatanya aku salah. apapun ucapannya, apapun gelagat tingkahnya yang tiba-tiba mencuat, apapun hal baru yang kuketahui setelah kepo sana sini hanya membuat rasaku terenyuh.
'ah ayolah, kau kenal dia. kau tau apa alasan yang akan ia utarakan'
karena aku tau semua itu, maka aku tak bisa diam tanpa menggingiti bagian bawah bibirku.
tak bisa hanya tersenyum tanpa membiarkan akalku meloncat kesana kemari.
dewasa. bagaimana kabar dari kedewasaan itu? kenapa ia tak kunjung tumbuh dalam roman percintaan yang kadang membuatku muak dan ingin pergi saja.
melihat sosoknya seolah merayu senyum lain. apa normal jika aku diam saja?
tak ada debar marah ataupun emosi yang melunta-lunta.
rasanya aku lelah dengan torehan sana sini yang lebih banyak berwarna kelabu.
tapi mengapa tak jua menyerah? meski sudah ditimpa sana sini?
andai aku tau jawabnya, mungkin akan kutanyakan lagi. apa masih mau berdiri disini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...