Langsung ke konten utama

bisakah kau dengar sebentar

adakah aku salah mengira yang telah ada?
adakah aku salah menilai jika kamu yang memang seharusnya kutunggu?
aku tau, kau tak pernah benar-benar lakukan apa yang kulakukan.
kadang sedikit ketulusan, dan ada beberapa rentet keterpaksaan.
kamu selalu sukses membuatku merasa bahagia sekaligus merana. kamu selalu sukses membuatku merasa jika saya hanya seseorang yang akan kau panggil jika tubuhmu mulai lemas, semangatmu mulai luntur, dan bahumu sudah tak kuat menopang. tapi adakah kau peduli denganku? dengan apa yang bergejolak dalam dada dan anganku? tentangmu.
kita berjarak, seperti yang lalu-lalu, dan aku seolah sudah lama mengenalmu jauh dari waktu yang bergulir diantara kita kini. kau disana, dan aku disini. dalam bentang kilometer yang tak bisa dibilang dalam takaran angka ribuan.
hatiku pernah hancur. lebur. masih dengan bongkah kepingan tentangmu. senyum terpapar, meski hati kelu, dan angan meloncat-loncat mencarimu. sedang apa kamu. sedang dimana dirimu. apa kau sehat. bagaimana dengan orang-orang yang ada disekitarmu. tanpa sadar, aku sudah terperangkap dalam lingkaran itu meski kau sudah bisa tertawa lepas dengan orang lain.
disaat aku merasa semuanya benar-benar semu, saat aku merasa tak ingin lagi mengadu rasa, kau kembali datang. seolah dengan binar tulus memberi sebuket bunga dengan wewangiannya. semuanya manis, tanganku selalu ingin bertautan denganmu, tubuhku selalu ingin berada dalam dekapmu, dan mataku, selalu ingin bertemu dengan binar milikmu. tapi berat. sama seperti yang lampau.
sesuatu yang berat itu tetap kupikul tak peduli arah mana nantinya akan berlabuh.
satu dua celah, aku hanya benar-benar takut tak bisa memandang binar mata itu lagi secara langsung. aku takut pandangan itu akan beralih pada dua bola mata lain. aku takut dan lagi-lagi bebannya bertambah.
satu dua kata yang terlontar dari bibirmu bisa kapan saja menyayat hati bopengku. begitu juga dengan sikap dan tuturku. hingga pada satu titik, rasanya aku tak bisa membendung semuanya. dirimu, dan semua kemelut yang berada dalam lingkaran kita. kau tak tau, karena tak pernah bertanya. kau tak tau, karena kau terlalu sibuk dengan duniamu.
sementara aku, semakin membungkuk karena beban yang semakin membuatku gontai.
aku menangis kencang tanpa peduli orang akan mencaci dan mencibir. aku hanya tak kuat lagi, dan kulihat kau berpaling wajah. seolah tak peduli. aku terdiam dalam lingkaran itu, seolah melihat sosokmu kembali tersamar. debar jantungku bertalu-talu, aku tak mau kehilangan lagi. tapi kau berjarak lebih dari satu kilometer dariku. lalu apa yang harus kulakukan dan kukatakan jika kata tak lagi bisa terucap dari bibir yang seolah tertutup sembari memandangmu berjalan pergi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...