adakah aku salah mengira yang telah ada?
adakah aku salah menilai jika kamu yang memang seharusnya kutunggu?
aku tau, kau tak pernah benar-benar lakukan apa yang kulakukan.
kadang sedikit ketulusan, dan ada beberapa rentet keterpaksaan.
kamu selalu sukses membuatku merasa bahagia sekaligus merana. kamu selalu sukses membuatku merasa jika saya hanya seseorang yang akan kau panggil jika tubuhmu mulai lemas, semangatmu mulai luntur, dan bahumu sudah tak kuat menopang. tapi adakah kau peduli denganku? dengan apa yang bergejolak dalam dada dan anganku? tentangmu.
kita berjarak, seperti yang lalu-lalu, dan aku seolah sudah lama mengenalmu jauh dari waktu yang bergulir diantara kita kini. kau disana, dan aku disini. dalam bentang kilometer yang tak bisa dibilang dalam takaran angka ribuan.
hatiku pernah hancur. lebur. masih dengan bongkah kepingan tentangmu. senyum terpapar, meski hati kelu, dan angan meloncat-loncat mencarimu. sedang apa kamu. sedang dimana dirimu. apa kau sehat. bagaimana dengan orang-orang yang ada disekitarmu. tanpa sadar, aku sudah terperangkap dalam lingkaran itu meski kau sudah bisa tertawa lepas dengan orang lain.
disaat aku merasa semuanya benar-benar semu, saat aku merasa tak ingin lagi mengadu rasa, kau kembali datang. seolah dengan binar tulus memberi sebuket bunga dengan wewangiannya. semuanya manis, tanganku selalu ingin bertautan denganmu, tubuhku selalu ingin berada dalam dekapmu, dan mataku, selalu ingin bertemu dengan binar milikmu. tapi berat. sama seperti yang lampau.
sesuatu yang berat itu tetap kupikul tak peduli arah mana nantinya akan berlabuh.
satu dua celah, aku hanya benar-benar takut tak bisa memandang binar mata itu lagi secara langsung. aku takut pandangan itu akan beralih pada dua bola mata lain. aku takut dan lagi-lagi bebannya bertambah.
satu dua kata yang terlontar dari bibirmu bisa kapan saja menyayat hati bopengku. begitu juga dengan sikap dan tuturku. hingga pada satu titik, rasanya aku tak bisa membendung semuanya. dirimu, dan semua kemelut yang berada dalam lingkaran kita. kau tak tau, karena tak pernah bertanya. kau tak tau, karena kau terlalu sibuk dengan duniamu.
sementara aku, semakin membungkuk karena beban yang semakin membuatku gontai.
aku menangis kencang tanpa peduli orang akan mencaci dan mencibir. aku hanya tak kuat lagi, dan kulihat kau berpaling wajah. seolah tak peduli. aku terdiam dalam lingkaran itu, seolah melihat sosokmu kembali tersamar. debar jantungku bertalu-talu, aku tak mau kehilangan lagi. tapi kau berjarak lebih dari satu kilometer dariku. lalu apa yang harus kulakukan dan kukatakan jika kata tak lagi bisa terucap dari bibir yang seolah tertutup sembari memandangmu berjalan pergi?
adakah aku salah menilai jika kamu yang memang seharusnya kutunggu?
aku tau, kau tak pernah benar-benar lakukan apa yang kulakukan.
kadang sedikit ketulusan, dan ada beberapa rentet keterpaksaan.
kamu selalu sukses membuatku merasa bahagia sekaligus merana. kamu selalu sukses membuatku merasa jika saya hanya seseorang yang akan kau panggil jika tubuhmu mulai lemas, semangatmu mulai luntur, dan bahumu sudah tak kuat menopang. tapi adakah kau peduli denganku? dengan apa yang bergejolak dalam dada dan anganku? tentangmu.
kita berjarak, seperti yang lalu-lalu, dan aku seolah sudah lama mengenalmu jauh dari waktu yang bergulir diantara kita kini. kau disana, dan aku disini. dalam bentang kilometer yang tak bisa dibilang dalam takaran angka ribuan.
hatiku pernah hancur. lebur. masih dengan bongkah kepingan tentangmu. senyum terpapar, meski hati kelu, dan angan meloncat-loncat mencarimu. sedang apa kamu. sedang dimana dirimu. apa kau sehat. bagaimana dengan orang-orang yang ada disekitarmu. tanpa sadar, aku sudah terperangkap dalam lingkaran itu meski kau sudah bisa tertawa lepas dengan orang lain.
disaat aku merasa semuanya benar-benar semu, saat aku merasa tak ingin lagi mengadu rasa, kau kembali datang. seolah dengan binar tulus memberi sebuket bunga dengan wewangiannya. semuanya manis, tanganku selalu ingin bertautan denganmu, tubuhku selalu ingin berada dalam dekapmu, dan mataku, selalu ingin bertemu dengan binar milikmu. tapi berat. sama seperti yang lampau.
sesuatu yang berat itu tetap kupikul tak peduli arah mana nantinya akan berlabuh.
satu dua celah, aku hanya benar-benar takut tak bisa memandang binar mata itu lagi secara langsung. aku takut pandangan itu akan beralih pada dua bola mata lain. aku takut dan lagi-lagi bebannya bertambah.
satu dua kata yang terlontar dari bibirmu bisa kapan saja menyayat hati bopengku. begitu juga dengan sikap dan tuturku. hingga pada satu titik, rasanya aku tak bisa membendung semuanya. dirimu, dan semua kemelut yang berada dalam lingkaran kita. kau tak tau, karena tak pernah bertanya. kau tak tau, karena kau terlalu sibuk dengan duniamu.
sementara aku, semakin membungkuk karena beban yang semakin membuatku gontai.
aku menangis kencang tanpa peduli orang akan mencaci dan mencibir. aku hanya tak kuat lagi, dan kulihat kau berpaling wajah. seolah tak peduli. aku terdiam dalam lingkaran itu, seolah melihat sosokmu kembali tersamar. debar jantungku bertalu-talu, aku tak mau kehilangan lagi. tapi kau berjarak lebih dari satu kilometer dariku. lalu apa yang harus kulakukan dan kukatakan jika kata tak lagi bisa terucap dari bibir yang seolah tertutup sembari memandangmu berjalan pergi?
Komentar
Posting Komentar