Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label tulus

jawaban semu

ini masih pagi, dan aku masih disini bersama beberapa lembaran kertas yang tertulis namamu. aku menunggu dirimu yang acuh, berharap waktu yang hangat bisa kembali lagi aku menunggu manjamu yang sempat hadir kembali menyeruak dan membuat hariku berbunga dan aku hanya menunggu, karena bukan perkara kau suka atau tidak tetapi aku ragu jika memang kau ingin. jika memang kau tulus. kau selalu berkata, jika aku hanya perlu melihatmu bersikap. kau selalu menekankan, jika tak perlu diutarakan dengan kata. lalu bagaimana kubaca sikapmu kali ini? bisakah kubaca jika langkahmu mulai pergi menuju arah yang lain? dimana namaku tak akan pernah ada dalam anganmu? aku harus bagaimana? melupakan kata indah yang kukira penuh makna? atau mungkin aku salah? itu hanya omong kosong yang ingin kau serukan? wahai engkau pujanggaku, mahluk tak bersayap yang mampu buatku melambung sepersekian detik. mengapa tak bisa aku membencimu? membenci untuk melupakan rasa ini? mengapa kau biarkan ini ada jik...

yang lalu kembali

yang lalu masih terasa hangat. meski tidak lagi terkepul yang lalu masih teringat. meski tak lagi tegas dan sedikit mangkak. yang lalu datang. membawa salam. membawa sesal. yang lalu datang. membawa rasa. membawa nostalgia. membawa kenangan lalu. yang lalu datang. mengombang ambingkan diri. yang lalu, kenapa kau datang? apa sudah lelah kau berkelana? apa akhirnya kau merasa jika ragaku yang ringkih ini yang bisa memelukmu? apa kau pikir tubuh mungil ini yang bisa mencambukmu menjadi lebih baik? yang lalu, kenapa kau datang? ingin menghapus luka dan memperbaiki, atau sekedar menyapa? ingin meyakinkan dan berusaha, atau sekedar singgah sebentar? yang lalu, mengapa kau berdendang lagi? ingin membuatku yakin dan meminta maaf atau hanya sekedar mengeluarkan angan? ingin melihat reaksi atau tulus memohon agar dimaafkan? yang lalu, jangan katakan sayang. jangan katakan harapan taukah kau, aku tak tau lagi. mana yang dulu kusebut sayang. mana yang kurasa cinta. aku buta. dan ...

dalam sayup, kuberbisik

tak apa, meski kau terlihat abuabu tak apa, meski kau tak seperti buku yang biasa kubaca. tak masalah, jika niatmu berbeda denganku. semuanya akan ada balasannya. aku tulus, mungkin tulusku bisa merangkulmu dari jauh lewat sayup doaku yang terdendang namamu. mungkin juga tulusku bisa membelai rambut gelombangmu, dikala kau ingin terlelap. meski aku berjalan sendiri, tanpamu disisi. cukup dengan memandang senyum dan tawa itu. diujung jarak yang ada, aku yakin aku bisa menyapamu. meski dalam bisik hatiku yang kadang tak kau dengar. siapapun yang berdusta, nantinya akan menyesal. maka dari itu, aku tak mau berdusta. aku mencintaimu. pujangga.