ini masih pagi, dan aku masih disini bersama beberapa lembaran kertas yang tertulis namamu.
aku menunggu dirimu yang acuh, berharap waktu yang hangat bisa kembali lagi
aku menunggu manjamu yang sempat hadir kembali menyeruak dan membuat hariku berbunga
dan aku hanya menunggu, karena bukan perkara kau suka atau tidak
tetapi aku ragu jika memang kau ingin. jika memang kau tulus.
kau selalu berkata, jika aku hanya perlu melihatmu bersikap.
kau selalu menekankan, jika tak perlu diutarakan dengan kata.
lalu bagaimana kubaca sikapmu kali ini?
bisakah kubaca jika langkahmu mulai pergi menuju arah yang lain?
dimana namaku tak akan pernah ada dalam anganmu?
aku harus bagaimana? melupakan kata indah yang kukira penuh makna?
atau mungkin aku salah? itu hanya omong kosong yang ingin kau serukan?
wahai engkau pujanggaku, mahluk tak bersayap yang mampu buatku melambung sepersekian detik.
mengapa tak bisa aku membencimu? membenci untuk melupakan rasa ini?
mengapa kau biarkan ini ada jika kau tak benar-benar ingin menggenggam jemariku?
aku menunggu dirimu yang acuh, berharap waktu yang hangat bisa kembali lagi
aku menunggu manjamu yang sempat hadir kembali menyeruak dan membuat hariku berbunga
dan aku hanya menunggu, karena bukan perkara kau suka atau tidak
tetapi aku ragu jika memang kau ingin. jika memang kau tulus.
kau selalu berkata, jika aku hanya perlu melihatmu bersikap.
kau selalu menekankan, jika tak perlu diutarakan dengan kata.
lalu bagaimana kubaca sikapmu kali ini?
bisakah kubaca jika langkahmu mulai pergi menuju arah yang lain?
dimana namaku tak akan pernah ada dalam anganmu?
aku harus bagaimana? melupakan kata indah yang kukira penuh makna?
atau mungkin aku salah? itu hanya omong kosong yang ingin kau serukan?
wahai engkau pujanggaku, mahluk tak bersayap yang mampu buatku melambung sepersekian detik.
mengapa tak bisa aku membencimu? membenci untuk melupakan rasa ini?
mengapa kau biarkan ini ada jika kau tak benar-benar ingin menggenggam jemariku?
Komentar
Posting Komentar