Langsung ke konten utama

firasat

seperti buku yang kutulis, lalu kubaca dan nelangsa sendiri
tertawa sinis seraya merasa bodoh pada diri sendiri
selalu saja memilih dengan kepercayaan penuh
selalu saja memilih sosok yang belum tentu membalas peluk tulusku
yah, punggung itu. dengan jelas ia semakin bias
langkahnya menapak keluar, sedang aku masih termangu.
tertunduk memandang bayangnya menghilang
senyumnya masih tergambar jelas, seolah hendak meloncat ke jurang kenangan
pilihan, pertama atau kesekian itu tetap sebuah pilihan
apa benar aku sudah membaca semuanya dengan jelas?
apa tidak ada yang terlewat darinya? satu bait, dua bait?
apa benar firasat burukku terjawab?
apa benar kau masuk kedalam deretan firasat burukku?
oh ayolah pujangga, jangan buat aku menampar diriku sendiri
jangan kau rontokkan bulu percayaku yang sudah kususun sedemikian rapi
jangan kau porak-porandakan potongan puzle yang kunamai dengan bait tentangmu
sungguh, meski aku berkata jangan aku tetap tak bisa berkutik
aku tetap mencintaimu secara utuh.
meski aku hanya menjadi pilihan terakhirmu pujangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...