Langsung ke konten utama

lihat, dan katakan dengan jelas.

apa mungkin yang selama ini kudengar hanyalah omong kosong belaka. apa mungkin beberapa hal yang kau dendangkan hanyalah kalimat yang muncul dikala kau sepi ? atau mungkinkah aku salah mencerna semua kata-kata yang kau utarakan padaku ? entah. dan lagi, lagi lagi aku merasa seperti saat itu. yah, saat dimana suasana jadi se-aneh hari ini.
bukan enggan untuk menyapamu, hanya saja aku ragu.
bukan takut untuk memandangmu, tapi kurasa kedua bola matamu tak kan balik memandang
bukan berusaha untuk melupakan, karena semuanya berputaran di kepalaku.
ada apa denganmu? atau mungkin ada apa denganku?
sejenak aku berharap kau tak pernah mengatakan semua kata itu.
sejenak aku berharap kau tak pernah mencoba untuk berjalan di lembarku.
sejenak, sejenak sekali aku berharap aku tak pernah mencoba untuk menghancurkan dindingmu.
sejenak, sebelum akhirnya aku membiarkan pengharapanku tak terjawab lagi.
kau indah, indahmu tersembunyi, dan aku mencoba untuk menerobos, mencoba untuk melihat sesuatu yang indah itu. tapi dimana? kenapa ia bagai fatamorgana yang bisa hilang sewaktu-waktu dari pandanganku?
jangan berbicara di belakang kepalaku, tatap mataku dan katakan semua caci dan keluhmu tentangku.
pandang aku, dan katakan semuanya dengan jelas, tak peduli jika nantinya aku akan merasa begah.
apa itu sulit untukmu? apa itu kelewat sulit untuk kau lakukan?
wahai kau yang sedang dirundung badai, salahkah jika aku hanya ingin menikmati badai itu bersamamu? mencoba untuk menggenggam lemah tanganmu yang berusaha menerobos badai?
katakan jika salah. agar aku bisa menutup mata untuk tidak melihatmu yang berusaha berdiri meski terhuyung. karena pada satu momen, aku selalu ingin berada disana, bersamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...