Langsung ke konten utama

lepas.

Dalam hidupmu, kamu pasti pernah berharap waktu dapat dipercepat maupun diperlambat. disaat momen yang kau rasa buruk terjadi, kau selalu ingin memutar jarum jam lebih cepat dari kecepatan biasanya. sebaliknya, jika terjadi momen yang membuat harimu merona, jangankan bergerak lambat, kau ingin jarum jam berhenti seketika. agar kau bisa menikmati momen tersebut sedikit lebih lama.
begitulah kita, manusia. ego kita kuat. dalam hal apapun. itu sudah wajar, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersedia untuk megontrol apalagi menyelaraskannya dengan orang yang ada disekitarnya.
aku masih sangat ingat, bagaimana aku pernah mencoba untuk menuruti ego seseorang. yang kuharap disetiap pertemuannya, akulah pemegang kontrol play stop dari jam waktu. tapi itu tak mungkin. aku tunduk, yang terlintas hanya bagaimana aku bisa membuatnya bahagia. kebahagiaanku menjadi opsi kesekian, tak peduli apakah hatiku sudah tak berupa, atau nantinya aku hanya akan kecewa. aku tak peduli. hingga pada suatu momen, ia menjadi salah satu pemegang kontrol jam kami, ia menyetopnya barang sepersekian detik yang menyakitkan. dan baru kusadari waktu benar-benar nyaris berhenti. kurasa itu yang dinamakan kiamat personal.
setelah momen itu terjadi, aku mencoba untuk berjalan dengan beberapa kepingan kisah yang ada. potongan potret bersama, kata-kata yang tersimpan di handpone, dan beberapa pesan rahasia yang tertinggal. waktu terus berjalan, sementara aku terpuruk. keterpurukanku cukup memakan waktu yang lama, hingga kutemukan sosok yang dulunya sempat hadir. kunamai dirinya pujangga.
kukira aku akan jatuh cinta, dan benar.. aku jatuh. sekaligus mencinta. tapi mencintanya bukan perkara mudah, jauh lebih sulit. egonya, moodynya, semua hal yang bertabrakan dengan diriku kadang membuatku benar-benar jatuh. disaat aku benar-benar butuh pelukan, ia tak pernah hadir. ia seolah hanya singgah lalu pergi jika ingin, lalu singgah lagi jika lelah. ia membayar lukaku dengan melambungkanku tinggi, lalu membuatku lupa caranya untuk mendarat karena ia meninggalkanku diatas sendiri.
disaat kurasa aku sudah bisa membuat guratan baru dengan sosok yang tak benar-benar kukenal, ksatriaku datang lagi. membawa bongkahan cerita yang sempat pergi. aku menoleh enggan, tetapi rumah kumal itu siap mendekapku dalam pengapnya. aku tetap enggan, meski sedikit menilik kedalam. lagi-lagi aku teringat pujanggaku.
aku berlari menuju pintunya, tak terkunci, tetapi tak benar terbuka. masih ada misteri yang coba ditutup. ini, itu, atau apa? aku tak mengerti perkataan mana yang benar dari pujanggaku. aku terlalu hanyut dalam irama yang ia dendangkan, hingga aku bisa tersedu saat ragaku menjauhi punggungnya. aku terlalu masuk kedalam baitnya, hingga mulai buta mana yang nyata mana yang fana.
ksatriaku pergi lagi, menghapus jalan pulang yang sempat terbuka dihadapku. aku melambai tanda selamat jalan. dengan sedikit enggan berjalan maju, mencari rumah yang bisa kutinggali. sesekali melirik pekarangan yang terlihat kusam, dimana pujanggaku ada. iya, dia disana. 
aku merunduk bingung, kesemuanya sekarang berada di belakang pundakku, tak ada lengan yang memeluk ringkih ragaku, hanya jemari kurus milikku yang saling menguatkan, berjalan, maju, sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...