Dalam hidupmu, kamu pasti pernah berharap waktu dapat dipercepat maupun diperlambat. disaat momen yang kau rasa buruk terjadi, kau selalu ingin memutar jarum jam lebih cepat dari kecepatan biasanya. sebaliknya, jika terjadi momen yang membuat harimu merona, jangankan bergerak lambat, kau ingin jarum jam berhenti seketika. agar kau bisa menikmati momen tersebut sedikit lebih lama.
begitulah kita, manusia. ego kita kuat. dalam hal apapun. itu sudah wajar, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersedia untuk megontrol apalagi menyelaraskannya dengan orang yang ada disekitarnya.
aku masih sangat ingat, bagaimana aku pernah mencoba untuk menuruti ego seseorang. yang kuharap disetiap pertemuannya, akulah pemegang kontrol play stop dari jam waktu. tapi itu tak mungkin. aku tunduk, yang terlintas hanya bagaimana aku bisa membuatnya bahagia. kebahagiaanku menjadi opsi kesekian, tak peduli apakah hatiku sudah tak berupa, atau nantinya aku hanya akan kecewa. aku tak peduli. hingga pada suatu momen, ia menjadi salah satu pemegang kontrol jam kami, ia menyetopnya barang sepersekian detik yang menyakitkan. dan baru kusadari waktu benar-benar nyaris berhenti. kurasa itu yang dinamakan kiamat personal.
setelah momen itu terjadi, aku mencoba untuk berjalan dengan beberapa kepingan kisah yang ada. potongan potret bersama, kata-kata yang tersimpan di handpone, dan beberapa pesan rahasia yang tertinggal. waktu terus berjalan, sementara aku terpuruk. keterpurukanku cukup memakan waktu yang lama, hingga kutemukan sosok yang dulunya sempat hadir. kunamai dirinya pujangga.
kukira aku akan jatuh cinta, dan benar.. aku jatuh. sekaligus mencinta. tapi mencintanya bukan perkara mudah, jauh lebih sulit. egonya, moodynya, semua hal yang bertabrakan dengan diriku kadang membuatku benar-benar jatuh. disaat aku benar-benar butuh pelukan, ia tak pernah hadir. ia seolah hanya singgah lalu pergi jika ingin, lalu singgah lagi jika lelah. ia membayar lukaku dengan melambungkanku tinggi, lalu membuatku lupa caranya untuk mendarat karena ia meninggalkanku diatas sendiri.
disaat kurasa aku sudah bisa membuat guratan baru dengan sosok yang tak benar-benar kukenal, ksatriaku datang lagi. membawa bongkahan cerita yang sempat pergi. aku menoleh enggan, tetapi rumah kumal itu siap mendekapku dalam pengapnya. aku tetap enggan, meski sedikit menilik kedalam. lagi-lagi aku teringat pujanggaku.
aku berlari menuju pintunya, tak terkunci, tetapi tak benar terbuka. masih ada misteri yang coba ditutup. ini, itu, atau apa? aku tak mengerti perkataan mana yang benar dari pujanggaku. aku terlalu hanyut dalam irama yang ia dendangkan, hingga aku bisa tersedu saat ragaku menjauhi punggungnya. aku terlalu masuk kedalam baitnya, hingga mulai buta mana yang nyata mana yang fana.
ksatriaku pergi lagi, menghapus jalan pulang yang sempat terbuka dihadapku. aku melambai tanda selamat jalan. dengan sedikit enggan berjalan maju, mencari rumah yang bisa kutinggali. sesekali melirik pekarangan yang terlihat kusam, dimana pujanggaku ada. iya, dia disana.
aku merunduk bingung, kesemuanya sekarang berada di belakang pundakku, tak ada lengan yang memeluk ringkih ragaku, hanya jemari kurus milikku yang saling menguatkan, berjalan, maju, sendiri.
begitulah kita, manusia. ego kita kuat. dalam hal apapun. itu sudah wajar, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersedia untuk megontrol apalagi menyelaraskannya dengan orang yang ada disekitarnya.
aku masih sangat ingat, bagaimana aku pernah mencoba untuk menuruti ego seseorang. yang kuharap disetiap pertemuannya, akulah pemegang kontrol play stop dari jam waktu. tapi itu tak mungkin. aku tunduk, yang terlintas hanya bagaimana aku bisa membuatnya bahagia. kebahagiaanku menjadi opsi kesekian, tak peduli apakah hatiku sudah tak berupa, atau nantinya aku hanya akan kecewa. aku tak peduli. hingga pada suatu momen, ia menjadi salah satu pemegang kontrol jam kami, ia menyetopnya barang sepersekian detik yang menyakitkan. dan baru kusadari waktu benar-benar nyaris berhenti. kurasa itu yang dinamakan kiamat personal.
setelah momen itu terjadi, aku mencoba untuk berjalan dengan beberapa kepingan kisah yang ada. potongan potret bersama, kata-kata yang tersimpan di handpone, dan beberapa pesan rahasia yang tertinggal. waktu terus berjalan, sementara aku terpuruk. keterpurukanku cukup memakan waktu yang lama, hingga kutemukan sosok yang dulunya sempat hadir. kunamai dirinya pujangga.
kukira aku akan jatuh cinta, dan benar.. aku jatuh. sekaligus mencinta. tapi mencintanya bukan perkara mudah, jauh lebih sulit. egonya, moodynya, semua hal yang bertabrakan dengan diriku kadang membuatku benar-benar jatuh. disaat aku benar-benar butuh pelukan, ia tak pernah hadir. ia seolah hanya singgah lalu pergi jika ingin, lalu singgah lagi jika lelah. ia membayar lukaku dengan melambungkanku tinggi, lalu membuatku lupa caranya untuk mendarat karena ia meninggalkanku diatas sendiri.
disaat kurasa aku sudah bisa membuat guratan baru dengan sosok yang tak benar-benar kukenal, ksatriaku datang lagi. membawa bongkahan cerita yang sempat pergi. aku menoleh enggan, tetapi rumah kumal itu siap mendekapku dalam pengapnya. aku tetap enggan, meski sedikit menilik kedalam. lagi-lagi aku teringat pujanggaku.
aku berlari menuju pintunya, tak terkunci, tetapi tak benar terbuka. masih ada misteri yang coba ditutup. ini, itu, atau apa? aku tak mengerti perkataan mana yang benar dari pujanggaku. aku terlalu hanyut dalam irama yang ia dendangkan, hingga aku bisa tersedu saat ragaku menjauhi punggungnya. aku terlalu masuk kedalam baitnya, hingga mulai buta mana yang nyata mana yang fana.
ksatriaku pergi lagi, menghapus jalan pulang yang sempat terbuka dihadapku. aku melambai tanda selamat jalan. dengan sedikit enggan berjalan maju, mencari rumah yang bisa kutinggali. sesekali melirik pekarangan yang terlihat kusam, dimana pujanggaku ada. iya, dia disana.
aku merunduk bingung, kesemuanya sekarang berada di belakang pundakku, tak ada lengan yang memeluk ringkih ragaku, hanya jemari kurus milikku yang saling menguatkan, berjalan, maju, sendiri.
Komentar
Posting Komentar