Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

gundah

aku mengejanya dalam sebuah kata. aku menantinya dalam gelisah. aku mempercayainya dalam rapuhku. kataNya, semua sudah tertulis, mungkin lebih dulu sebelum aku bahkan megenal huruf. apalagi mengenalmu. aku berbisik dalam pengap malam. dadaku nyut-nyutan meski kucoba untuk berebah saja. ada tanya yang selalu tak terjawab. aku benci itu. disaaat berat dan terasa datar. aku mencoba mengingat bagaimana caramu yang selalu berhasil buatku merona. tapi nampaknya kita sama-sama lelah. rasanya seperti ada yang memukul keras dadaku. dipukul lagi dan lagi. dum. dum. dum. kenapa kata yang selalu kau dendang tak lagi kubaca? kenapa tawa yang selalu tergerai tak lagi kudengar? dan kenapa, aku hanya berdiam tanpa tau kapan berhenti dan kapan memulai. aku jengah dengan semua ini. kebodohanku hanya membuatku semakin jatuh. dan langit, masih saja menyeringai menatap jeritku. seolah ia senang melihat ronta kesakitanku. hei kau,sungguhkah ingin menggenggam atau hanya ingin menebus ...

hantu.

ditengah hembus napas yang sedikit tercekat. kudengar suaranya mendendangkan namanya. sekali lagi. dengan teramat santai. ya, sekali lagi kudengar nama itu melantun dalam lubang telingaku. napasku berat. dan aku hanya diam. sekali lagi perihnya terasa. gadis itu, yaah gadis yang tak kukenal. gadis yang tak kutau apa ia baik, buruk, cantik, atau berbopeng. kenapa? kenapa ia muncul lagi seperti hantu? kenapa? namanya harus lagi-lagi kudengar dan seolah menyayat luka yang masih belum kering jua kenapa? aku harus mendengarnya langsung dari pita suaramu yang membuatku begidik? diujung sana, kau mulai khawatir jika putrimu akan goyah. diujung sana, ada rasa takut jika putrimu akan terluka lagi. dan yah. kau benar. wajah kakuku seolah menyiratkan. jika saking perihnya, akupun tak bisa bersua.