Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

terima kasih cinta fanamu

aku masih ingat, bagaimana kita duduk bersama memandang langit yang mulai menggelap. aku masih ingat, bagaimana serak suaramu membuatku luluh dan merasa tenang. aku masih sangat ingat, bagaimana tawa dan senyummu berhasil membuat degup di jantungku berjalan lebih dan lebih cepat. kini aku terdiam, aku mencoba mengingat semua kata yang pernah kau utarakan. semua yang kau bilang hanyalah dusta belaka. yah, hanya dusta. pujangga, apa yakinku salah? pujangga, apa memang tak ada satupun dari semua itu yang menggugah hatimu? pujangga, benarkah kau setega itu? rasaku kau biarkan melambung, kau beri bubuk hingga ia terus berkembang, lalu dengan perlahan kau buka satu demi satu hal yang tak kuduga. semuanya hanya cerita yang kutulis dalam skenarioku. itu katamu. apa lelaki yang sempat membuat mataku berbinar hanyalah lelaki yang pintar memainkan kata? apa kau gila? atau kau sedang setengah waras? Pujangga, lagi-lagi sayapku patah. Bukan karena sakit kali ini.  Tapi karen...

jawaban semu

ini masih pagi, dan aku masih disini bersama beberapa lembaran kertas yang tertulis namamu. aku menunggu dirimu yang acuh, berharap waktu yang hangat bisa kembali lagi aku menunggu manjamu yang sempat hadir kembali menyeruak dan membuat hariku berbunga dan aku hanya menunggu, karena bukan perkara kau suka atau tidak tetapi aku ragu jika memang kau ingin. jika memang kau tulus. kau selalu berkata, jika aku hanya perlu melihatmu bersikap. kau selalu menekankan, jika tak perlu diutarakan dengan kata. lalu bagaimana kubaca sikapmu kali ini? bisakah kubaca jika langkahmu mulai pergi menuju arah yang lain? dimana namaku tak akan pernah ada dalam anganmu? aku harus bagaimana? melupakan kata indah yang kukira penuh makna? atau mungkin aku salah? itu hanya omong kosong yang ingin kau serukan? wahai engkau pujanggaku, mahluk tak bersayap yang mampu buatku melambung sepersekian detik. mengapa tak bisa aku membencimu? membenci untuk melupakan rasa ini? mengapa kau biarkan ini ada jik...

lepas.

Dalam hidupmu, kamu pasti pernah berharap waktu dapat dipercepat maupun diperlambat. disaat momen yang kau rasa buruk terjadi, kau selalu ingin memutar jarum jam lebih cepat dari kecepatan biasanya. sebaliknya, jika terjadi momen yang membuat harimu merona, jangankan bergerak lambat, kau ingin jarum jam berhenti seketika. agar kau bisa menikmati momen tersebut sedikit lebih lama. begitulah kita, manusia. ego kita kuat. dalam hal apapun. itu sudah wajar, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersedia untuk megontrol apalagi menyelaraskannya dengan orang yang ada disekitarnya. aku masih sangat ingat, bagaimana aku pernah mencoba untuk menuruti ego seseorang. yang kuharap disetiap pertemuannya, akulah pemegang kontrol play stop dari jam waktu. tapi itu tak mungkin. aku tunduk, yang terlintas hanya bagaimana aku bisa membuatnya bahagia. kebahagiaanku menjadi opsi kesekian, tak peduli apakah hatiku sudah tak berupa, atau nantinya aku hanya akan kecewa. aku tak peduli. hingga pada suatu mom...

pudar

Apa kau sudah cukup jatuh? mendamba sosok yang hanya mengedepankan egonya? apa kau sudah cukup lelah? hingga akhirnya kau pikir lebih baik sendiri saja? pujangga, mungkin bagimu aku hanya kerikil dijalanan. satu tapi banyak kesamaan dengan kerikil lain. tapi bentukku tak benar-benar sama. membacamu tak pernah usai. dan juga tak pernah bosan. tapi mencintamu menyakitkan. menuruti moodmu. egomu. semua itu keras, sekeras bebatuan di bibir sungai benarkah tidak bisa menyatu? benarkah hanya aku yg mendamba? sayang, aku lelah. entah lebih baik tau jika kau merasa atau hanya melihatmu bermain dengan rasaku. dendang suara lembutmu buatku luluh aku selalu suka melihatmu bertingkah. meski menyebalkan. pernahkah kau dengar bisikku? aku ingin dimengerti. bukan hanya diterima dengan terpaksa. jika memang pergi adalah pilihan yang ada. kehilangankah dirimu saat aku tak lagi ada?

rinduku

merindumu dan hanya bisa memandangmu dari jauh. merindumu dan hanya bisa menikmati tawamu bersama mereka. merindumu dan hanya bisa bertegur dalam hati, berharap kau juga rasa yang sama. sosokmu seperti halnya tayangan televisi yang selalu kutunggu hadirnya kutunggui hingga kesal jika ada iklan yang membuat adeganmu terpotong dan aku hanya bisa duduk dan bergumam sendiri sembari menanti kau muncul lagi kau ada didalam layar, sedangkan aku ada diluar, menonton. merasa sangsi dan kadang ingin ikut memainkan peran. aku merindu, dan kadang kuungkap. tapi itu tak benar-benar berarti. karena aku hanya merindu berharap bisa memandangmu lagi berharap bisa mendengar serak suaramu berharap bisa menghabiskan waktu bersama denganmu.

aku juga mencintamu

dibawah langit berwarna jingga, aku memandangmu. teringat kata yang terlontar dan bergumul dalam imajiku. aku selalu suka caramu tertawa. aku selalu suka caramu memandang. aku selalu suka caramu berfikir dengan langkah yang tak terduga. pujangga, hari ini kau lambungkan lagi jejakku. kau biarkan aku menari-nari bebas seolah aku bisa saja melayang kau biarkan aku tersenyum hingga bibirku bisa saja kaku karena terlalu sering menarik keatas singkatnya, kau buatku bahagia. mungkin itu kata yang banyak mereka utarakan untuk apa yang kurasa. sederhana. sepertimu yang terlihat dihadapku. tersenyum manja mencoba untuk mengungkap rasa. bersikap hangat seolah ingin menunjukkan jika aku diterima. pujangga, terima kasih. aku juga mencintamu

sempat ada rindu

bagaimana tidak rindu, jika ia tiba-tiba datang membuka cerita bagaimana tidak rindu, jika ia terlihat begitu dekat bagaimana tidak rindu, jika setelah lama menanti dan menerah akhirnya dapat jawab tetapi ... datangnya tidak sesuai. datangnya terlambat. yang paling mengerti, tidak semengerti itu kesalahan menjadi sesal yang dalam aku bisa apa? hanya merindu yang lalu. tak berani untuk memilih karena sudah kucoba untuk tutup lembar itu ingin bertegur, takut hanya semakin membuatnya luka tuhan, aku hanya rindu. dan itupun dariMu. meski hanya sempat, terima kasih sudah datang kembali rindu yang sempat kabur mencari ..

katakan

pujangga, katakan padaku apa yang ingin kudengar. pujangga, perlakukan aku seperti bagaimana aku ingin diperlakukan. jangan biarkan orang lain melakukannya. jangan biarkan ada senyum sesal diwajahmu. pujangga, apa kau ingin menggenggam tanganku? atau kau hanya ingin menyentuh tepiannya? pujangga, apa sudah luluh hatimu yang sempat mengeras? apa sudah berakhir sandiwara diantara kau dan kebingunganmu? sampai kapan kau ingin dikejar? atau memang aku yang terlalu ingin mengejar? pujangga, yakinkan aku. karena aku butuh kata, bukan hanya sikap yang kadang anomali.

Senyum malu

hanya dengan mengetahui ia ada, aku tersenyum hanya dengan mengetahui ia berada di sekitar, aku tersenyum. siapa? jangan tanyakan siapa. karena kau pasti tau siapa. kau. kau yang hadir dengan senyum manja itu, dengan pandang sendu itu. aku merindumu. aku merindumu meski beberapa waktu yang lalu kutatap kedua bola mata itu. aku merindumu. meski beberapa saat yang lalu raga kita hanya berjarak tak lebih dari satu meter jauhnya. aku merindumu, yang mungkin kini sedang terlelap. aku merindumu, yang mungkin kini sedang menikmati mimpi indah atau burukmu. senyummu masih tertinggal, di balik kelopak mataku. siap untuk kulihat lagi, disaat aku terlelap. selamat malam pujangga.

kedua kalinya

lembarnya terbuka lagi, terhenti di halaman dimana namanya mulai muncul. ia melambaikan tangan, mengajakku untuk melihat ulangan cerita yang pernah tertoreh. aku mengikuti, dengan perlahan. membiarkan ia berdendang. ia menceritakan semuanya, yang membuatku rindu kala itu. ia menceritakan semuanya, yang membuatku jatuh kedalam rasa hangat. lalu kupandang dirinya yang berbisik semu meminta pelukan selamat datang sekali lagi. aku memandangnya barang beberapa menit. beberapa tanya muncul. aku tak lekas menjawab, tapi membiarkan ia terus saja melambai tangan. apa iya ini jalannya? apa iya aku harus menerimanya lagi? bukankah sudah ada sosok lain yang kini hadir di pelataranku? lalu kenapa ia juga hadir dan membuka indah yang lalu? bagaimana dengan pahit yang selalu mengiringi? apa memang pantas? aku tersenyum, senyum yang entah bermakna apa. aku hanya tersenyum. karena aku tak tau. bolehkah kenangan yang lalu membuatku lagi-lagi dilema? bolehkah aku terjun ke jurang yang su...

mereka, bukan sebatas teman.

mereka, bukan gadis kecil yang spesial awalnya. bersama kami menguatkan. bersama kami saling memeluk dalam duka, haru, bahagia. mereka, anak-anak yang kuat. mencoba bangkit meski tergerus polemik masing-masing. mereka, perhiasan terindah yang kumiliki selain keluarga. tangan mungil yang kini menjadi lentik tetap setia mengusap bahu saat sedang terluka. mereka, saling terpisah jarak. tapi saling mengingatkan dan menyayang. mereka berlian yang kutemui diantara beribu kapas yang menggulung mereka sahabatku, mereka ibuku, mereka ayahku, mereka adikku, mereka kakakku. mereka mencakup semua peran itu. ditengah dilema akan berat hidup masing-masing, mereka tak enggan untuk menoleh, sekedar menjadi pendengar. mereka keluarga lain yang kumiliki ditengah sedihku. mereka sosok yang begitu berharga disaat aku tak tau harus mengeluarkan cerita kemana. mereka tong sampah dalam segala bentuk. menampung cerita, menampung duka, menampung bahagia. mereka cintaku. mereka berharga. aku bers...

lindungi mereka Tuhan

tuhan, sungguh lucu bagaimana realita menghempas yakinku. kau pasti ingat, betapa di dalam sujud aku selalu mendendang namanya. kau pasti ingat, betapa aku sungguh memohon agar ia kembali pada ragaku yang butuh peluknya. betapa aku mengharap lelaki itu akan kembali tersenyum seraya mengatakan jika perjalanannya telah berhenti. ia telah sampai. dan ia pulang. tuhan, kau pasti ingat saat aku mulai menyerah dengan doa yang kukira tak pernah kau dengar. kau pasti ingat saat aku menyelipkan nama lain untuk melupakan dia. tuhan, lagi-lagi aku ingin memohon. ditengah kegundahan yang kini kurasakan. lindungi mereka, lindungi orang yang kusayangi. lindungi mereka meski mereka melukai. lindungi dan sayangi mereka meski mereka tak jarang membuat kesal. hanya saja aku tak bisa memeluk mereka lagi. tidak hingga kau memutuskan siapa yang mengisi genggamku. disaat yang tepat sampai saat itu datang, kumohon bantu aku untuk menjaga mereka tuhan.

pujanggaku merajuk

pujangga, bukan siapa-siapa. hanya seorang teman yang kusayang hanya seorang lelaki yang berjuang dengan caranya sendiri. pujanggaku mendekat, lalu menjauh. pujangga sering melakukan apapun sesuai inginnya. tak peduli orang lain menerima atau menolak. pujangga tiba-tiba hadir, merajuk, kesal. kenapa? aku tidak tau, karena kadang pujangga tak bisa dibaca. pujangga bukan siapa-siapa, inginnya banyak, dan selalu ingin dimengerti. pujangga membuatku bingung, kadang ketegasannya muncul, kadang ia luluh lagi. pujangga tak khayal seperti anak kecil. merajuk lalu mulai berlaku seolah tak ada yang terjadi. pujangga memang suka seperti itu. tapi dia unik. pujangga pernah membuatku seolah punya sayap, tapi ia juga yang membuat sayapku patah. ia tak lebih dari seorang pemimpi. pemimpi yang tangguh. ia buka dunia yang belum pernah kumasuki sebelumnya. ia bimbing, lalu ia tiba-tiba pergi. yah, memang begitulah pujangga.

pujangga, kau penuntut ulung.

berbincang denganmu mungkin butuh energi lebih. mungkin butuh lebih banyak pemahaman. mungkin juga butuh lebih banyak pengorbanan. mungkin. kenapa? karena kebebasan yang kau inginkan. dan keegoisanmu untuk meminta mereka mengerti. ingatkah kau bagaimana kau pinta aku untuk jadi sosok tak berperasa? jika kau kira itu mudah, kau salah. ingatkah kau bagaimana aku harus mencoba menerima kepikunanmu? jika kau kira aku tak menghela napas panjang saat mengetahuinya, kau salah besar. jika itu caramu untuk menguji. kau salah. tak harusnya kau menguji rasa. bukan seperti itu caranya. dari tak berperasa, kini lagi-lagi kau menuntut. tak ingatkah kau jika kau tak suka dituntut. lalu mengapa kau menuntut dariku? oh ayolah, renungkan. tak perlu aku berujar bagaimana caramu memaksa. aku diam. meski kau tempa. aku diam. meski kadang seperti kau jadikan boneka teddymu. aku diam. meski kau selalu berbuat sesukamu. aku diam. hingga aku kebas. aku diam. hingga aku merasa benar-benar tak...

yang lalu kembali

yang lalu masih terasa hangat. meski tidak lagi terkepul yang lalu masih teringat. meski tak lagi tegas dan sedikit mangkak. yang lalu datang. membawa salam. membawa sesal. yang lalu datang. membawa rasa. membawa nostalgia. membawa kenangan lalu. yang lalu datang. mengombang ambingkan diri. yang lalu, kenapa kau datang? apa sudah lelah kau berkelana? apa akhirnya kau merasa jika ragaku yang ringkih ini yang bisa memelukmu? apa kau pikir tubuh mungil ini yang bisa mencambukmu menjadi lebih baik? yang lalu, kenapa kau datang? ingin menghapus luka dan memperbaiki, atau sekedar menyapa? ingin meyakinkan dan berusaha, atau sekedar singgah sebentar? yang lalu, mengapa kau berdendang lagi? ingin membuatku yakin dan meminta maaf atau hanya sekedar mengeluarkan angan? ingin melihat reaksi atau tulus memohon agar dimaafkan? yang lalu, jangan katakan sayang. jangan katakan harapan taukah kau, aku tak tau lagi. mana yang dulu kusebut sayang. mana yang kurasa cinta. aku buta. dan ...

aku senang. meski hanya sebatas itu.

aku senang melihat caranya berbicara. aku senang melihat ia tertawa aku senang melihat caranya berdendang. aku senang melihat gurat aneh yang ada di wajahnya tiap kali ia mulai berekspresi aneh aku senang melihatnya berteori aku senang melihat geriknya yang kadang tak biasa. geriknya yang aneh. geriknya yang tak mudah kutebak. aku senang, meski ada jarak diantara kita aku senang, meski hanya dijadikan sampingan aku senang, meski hanya dijadikan bahan untuk pembicaraan aku senang, asal ia bisa tertawa selepas itu. asal ia bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. asal ia bisa terlihat seperti dirinya sendiri. aku senang..

firasat

seperti buku yang kutulis, lalu kubaca dan nelangsa sendiri tertawa sinis seraya merasa bodoh pada diri sendiri selalu saja memilih dengan kepercayaan penuh selalu saja memilih sosok yang belum tentu membalas peluk tulusku yah, punggung itu. dengan jelas ia semakin bias langkahnya menapak keluar, sedang aku masih termangu. tertunduk memandang bayangnya menghilang senyumnya masih tergambar jelas, seolah hendak meloncat ke jurang kenangan pilihan, pertama atau kesekian itu tetap sebuah pilihan apa benar aku sudah membaca semuanya dengan jelas? apa tidak ada yang terlewat darinya? satu bait, dua bait? apa benar firasat burukku terjawab? apa benar kau masuk kedalam deretan firasat burukku? oh ayolah pujangga, jangan buat aku menampar diriku sendiri jangan kau rontokkan bulu percayaku yang sudah kususun sedemikian rapi jangan kau porak-porandakan potongan puzle yang kunamai dengan bait tentangmu sungguh, meski aku berkata jangan aku tetap tak bisa berkutik aku tetap mencint...

dalam sayup, kuberbisik

tak apa, meski kau terlihat abuabu tak apa, meski kau tak seperti buku yang biasa kubaca. tak masalah, jika niatmu berbeda denganku. semuanya akan ada balasannya. aku tulus, mungkin tulusku bisa merangkulmu dari jauh lewat sayup doaku yang terdendang namamu. mungkin juga tulusku bisa membelai rambut gelombangmu, dikala kau ingin terlelap. meski aku berjalan sendiri, tanpamu disisi. cukup dengan memandang senyum dan tawa itu. diujung jarak yang ada, aku yakin aku bisa menyapamu. meski dalam bisik hatiku yang kadang tak kau dengar. siapapun yang berdusta, nantinya akan menyesal. maka dari itu, aku tak mau berdusta. aku mencintaimu. pujangga.

aku terbang

jelas, jelas kudengar. jelas, meski merunduk malu. jelas. gelitik sikapnya, aku ingin tersenyum. aku ingin melihatnya. tapi aku menahannya, meski sesekali menatap. gemerincing suaranya, serak, tapi jelas. dadaku memompa lambat, berirama, susunan yang indah. ia bangkit, kukira akan menyapa, tapi tidak. lagi dan lagi ia nampak tersipu, aku penasaran. ia siap berdendang, meski sedikit berantakan. ia berdendang jua. sepetik dua petik ia mainkan nada, mengalun di telingaku. ah, lihat aku. aku melihatmu. lihat aku, aku selalu memandangmu. lihat aku, aku akan menunggumu. lihat aku, seolah aku bisa terbang. yah, sedetik saat kau dendangkan itu, aku ingin terbang. aku ingin terbang bersamamu.

pencipta jarak

purnamaku menangis, kelu rasa hati. sebab ku tak mengerti mengapa tetapi leleh menuruni wajahku tangis ini wahai pencipta jarak, mengapa kau tega? membolak balikkan hati yang dirundung sepi dan rindu mengapa kau buka tabir itu dan menciptakan jarak disana? meninggikan dinding yang sempat terkikis oleh waktu. ringkih aku memandang dengan nestapa dihadap dinding itu tak bisakah kutembus? lalu mengapa kau masih mencuri pandang? adakah aku hanya seonggok kerang kering ditepian pantai? wahai kau yang kini mencipta jarak, apakah kau ingin pergi? adakah ini isyarat darimu untuk melangkahkan kaki kearah yang berlawanan? adakah ini tanda darimu jika kau tak memilihku? adakah ini jawaban jika sukamu hanyalah perasaan yang bisa berlalu bagai fatamorgana? kumohon. jangan lebarkan jarak ini. sungguh aku jengah. sungguh itu menyiksa. karena aku hanya ingin memandang tawamu, dan menangkap tatapan hangatmu menuju kearahku.

kau adalah aku

kau selalu berbuat gegabah. kau selalu berbuat bodoh. pikirkan dulu sebelum melangkah, atau lebih baik asal saja dengan hati tangguh? lihat genggammu, apa yang kini kau genggam? tak ada. kau melepas yang baik, dan kau coba menggenggam yang semu. kau bodoh. dan hatimu belum sembuh betul. kau merusaknya lagi, karena pilihanmu yang berdasar hati bopeng terburu-buru, mungkin bisa jadi begitu nyatanya. dan lagi-lagi kau gali lubangnya, ditanah yang sama. mungkin berdampingan dengan lubang yang lama. apa kau mau mengubur diri lagi? dasar bodoh. jangan menyesal. itu tak ada guna. perbaiki, itu yang bisa kau lakukan. tak perlu lagi menoleh, mencari dia atau dia yang lain. kau hanya perlu berdiri. melangkah, maju. meski sendiri. karena memang itu yang kini bisa kau lakukan. bukan menunggu sesuatu yang menghentikan langkahmu. bukan menanti sosok yang membuatmu terkubur sedikit demi sedikit. seratus kalipun kukatakan kau tak kan paham. seratus kalipun kudendangkan kau tak akan pedu...

lihat, dan katakan dengan jelas.

apa mungkin yang selama ini kudengar hanyalah omong kosong belaka. apa mungkin beberapa hal yang kau dendangkan hanyalah kalimat yang muncul dikala kau sepi ? atau mungkinkah aku salah mencerna semua kata-kata yang kau utarakan padaku ? entah. dan lagi, lagi lagi aku merasa seperti saat itu. yah, saat dimana suasana jadi se-aneh hari ini. bukan enggan untuk menyapamu, hanya saja aku ragu. bukan takut untuk memandangmu, tapi kurasa kedua bola matamu tak kan balik memandang bukan berusaha untuk melupakan, karena semuanya berputaran di kepalaku. ada apa denganmu? atau mungkin ada apa denganku? sejenak aku berharap kau tak pernah mengatakan semua kata itu. sejenak aku berharap kau tak pernah mencoba untuk berjalan di lembarku. sejenak, sejenak sekali aku berharap aku tak pernah mencoba untuk menghancurkan dindingmu. sejenak, sebelum akhirnya aku membiarkan pengharapanku tak terjawab lagi. kau indah, indahmu tersembunyi, dan aku mencoba untuk menerobos, mencoba untuk melihat sesuat...