Langsung ke konten utama

mereka, bukan sebatas teman.

mereka, bukan gadis kecil yang spesial awalnya.
bersama kami menguatkan. bersama kami saling memeluk dalam duka, haru, bahagia.
mereka, anak-anak yang kuat. mencoba bangkit meski tergerus polemik masing-masing.
mereka, perhiasan terindah yang kumiliki selain keluarga.
tangan mungil yang kini menjadi lentik tetap setia mengusap bahu saat sedang terluka.
mereka, saling terpisah jarak. tapi saling mengingatkan dan menyayang.
mereka berlian yang kutemui diantara beribu kapas yang menggulung
mereka sahabatku, mereka ibuku, mereka ayahku, mereka adikku, mereka kakakku.
mereka mencakup semua peran itu.
ditengah dilema akan berat hidup masing-masing, mereka tak enggan untuk menoleh, sekedar menjadi pendengar.
mereka keluarga lain yang kumiliki ditengah sedihku.
mereka sosok yang begitu berharga disaat aku tak tau harus mengeluarkan cerita kemana.
mereka tong sampah dalam segala bentuk.
menampung cerita, menampung duka, menampung bahagia.
mereka cintaku. mereka berharga.
aku bersyukur karena kalian menorehkan warna.
aku bersyukur karena aku memiliki kalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...