aku masih ingat, bagaimana kita duduk bersama memandang langit yang mulai menggelap.
aku masih ingat, bagaimana serak suaramu membuatku luluh dan merasa tenang.
aku masih sangat ingat, bagaimana tawa dan senyummu berhasil membuat degup di jantungku berjalan lebih dan lebih cepat.
kini aku terdiam, aku mencoba mengingat semua kata yang pernah kau utarakan.
semua yang kau bilang hanyalah dusta belaka. yah, hanya dusta.
pujangga, apa yakinku salah?
pujangga, apa memang tak ada satupun dari semua itu yang menggugah hatimu?
pujangga, benarkah kau setega itu?
rasaku kau biarkan melambung, kau beri bubuk hingga ia terus berkembang, lalu dengan perlahan kau buka satu demi satu hal yang tak kuduga.
semuanya hanya cerita yang kutulis dalam skenarioku.
itu katamu.
apa lelaki yang sempat membuat mataku berbinar hanyalah lelaki yang pintar memainkan kata?
apa kau gila? atau kau sedang setengah waras?
aku masih ingat, bagaimana serak suaramu membuatku luluh dan merasa tenang.
aku masih sangat ingat, bagaimana tawa dan senyummu berhasil membuat degup di jantungku berjalan lebih dan lebih cepat.
kini aku terdiam, aku mencoba mengingat semua kata yang pernah kau utarakan.
semua yang kau bilang hanyalah dusta belaka. yah, hanya dusta.
pujangga, apa yakinku salah?
pujangga, apa memang tak ada satupun dari semua itu yang menggugah hatimu?
pujangga, benarkah kau setega itu?
rasaku kau biarkan melambung, kau beri bubuk hingga ia terus berkembang, lalu dengan perlahan kau buka satu demi satu hal yang tak kuduga.
semuanya hanya cerita yang kutulis dalam skenarioku.
itu katamu.
apa lelaki yang sempat membuat mataku berbinar hanyalah lelaki yang pintar memainkan kata?
apa kau gila? atau kau sedang setengah waras?
Pujangga, lagi-lagi sayapku patah. Bukan karena sakit kali
ini.
Tapi karena kecewa. Karenamu, atau mungkin karena rasaku.
Yah, rasaku yang
ada dan rasa palsumu.
Pujangga, lelaki macam apa dirimu ini?
Yang kusayangi? Yang
sempat membuatku enggan untuk beranjak dari sisimu.
Katamu semua dusta. Katamu kamu hanya seorang pendusta. Tapi
tidakkah firasatku ada benarnya, jika tak semuanya dusta? Pujangga … oh
pujangga. Aku hanya bisa menyebut namamu dalam bait puisiku. Alunan iramamu
membekukan diriku sesaat.
Aku ingat bagaimana aku menahan lengkungan di wajahku. Malu untuk
terkekeh dihadapmu. Membiarkan dirimu menggoyak hatiku hanya dengan satu senyum
dan tawamu. Lalu kini aku tau jika itu palsu. Salahkah jika aku merasa itu
nyata? Salahkah jika aku merasa itu semua memang ada. Meski singkat.
pujangga, jawab aku! jangan diam saja.
diammu mulai membuat hatiku kembali beku.
apa itu tandanya sudah benar-benar kau tutup semua lembar skenariomu?
pujangga. terima kasih.
untuk kebohongan terindah yang sempat memporak porandakan hatiku.
Komentar
Posting Komentar