Langsung ke konten utama

terima kasih cinta fanamu

aku masih ingat, bagaimana kita duduk bersama memandang langit yang mulai menggelap.
aku masih ingat, bagaimana serak suaramu membuatku luluh dan merasa tenang.
aku masih sangat ingat, bagaimana tawa dan senyummu berhasil membuat degup di jantungku berjalan lebih dan lebih cepat.
kini aku terdiam, aku mencoba mengingat semua kata yang pernah kau utarakan.
semua yang kau bilang hanyalah dusta belaka. yah, hanya dusta.
pujangga, apa yakinku salah?
pujangga, apa memang tak ada satupun dari semua itu yang menggugah hatimu?
pujangga, benarkah kau setega itu?
rasaku kau biarkan melambung, kau beri bubuk hingga ia terus berkembang, lalu dengan perlahan kau buka satu demi satu hal yang tak kuduga.
semuanya hanya cerita yang kutulis dalam skenarioku.
itu katamu.
apa lelaki yang sempat membuat mataku berbinar hanyalah lelaki yang pintar memainkan kata?
apa kau gila? atau kau sedang setengah waras?


Pujangga, lagi-lagi sayapku patah. Bukan karena sakit kali ini. 
Tapi karena kecewa. Karenamu, atau mungkin karena rasaku. 
Yah, rasaku yang ada dan rasa palsumu. 
Pujangga, lelaki macam apa dirimu ini? 
Yang kusayangi? Yang sempat membuatku enggan untuk beranjak dari sisimu.
Katamu semua dusta. Katamu kamu hanya seorang pendusta. Tapi tidakkah firasatku ada benarnya, jika tak semuanya dusta? Pujangga … oh pujangga. Aku hanya bisa menyebut namamu dalam bait puisiku. Alunan iramamu membekukan diriku sesaat.
Aku ingat bagaimana aku menahan lengkungan di wajahku. Malu untuk terkekeh dihadapmu. Membiarkan dirimu menggoyak hatiku hanya dengan satu senyum dan tawamu. Lalu kini aku tau jika itu palsu. Salahkah jika aku merasa itu nyata? Salahkah jika aku merasa itu semua memang ada. Meski singkat.
pujangga, jawab aku! jangan diam saja.
diammu mulai membuat hatiku kembali beku.
apa itu tandanya sudah benar-benar kau tutup semua lembar skenariomu?
pujangga. terima kasih.
untuk kebohongan terindah yang sempat memporak porandakan hatiku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...