Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

kisah yang lalu

hai kau yang lalu, bagaimana kabarmu? bagaimana keseharianmu? apa kau bahagia? apa mungkin kau sedang bersedih? atau mungkin marah dan kecewa? atau kau sedang tidak merasakan apapun? hari ini aku mencoba menghapusmu. hari ini aku mencoba untuk berjalan maju. bukan. bukan menghapusmu, mungkin mengikhlaskan adalah kata yang lebih bagus. memori yang tergambar pada setiap jepret foto itu bisa saja kuhapus dengan mudah. bagaimana dengan apa yang tergambar diangan? tak semudah itu. tapi aku hanya mencoba menerima. kau tau, diriku masuk kedalam lubang yang kita gali bersama. tapi kau terlebih dulu keluar. sedangkan aku masih tertinggal didalam. dengan kepayahan, aku mencoba untuk keluar. susah sekali. kau tau, aku mencoba untuk menemukan dirinya yang lain. dan aku menemukannya. meski belum utuh. begitu pula denganmu kan? dengan kekasih barumu. apa kau bahagia dengannya? hai kau yang lalu, kenapa kau bisa sejahat ini denganku? tidakkah kau ingat ucapanmu saat itu. tidak, aku tida...

pujangga, dengarkanku sejenak

pujangga, aku pernah mencinta hingga rasanya mau mati. pujangga, aku takut. mungkin melebihi rasa takut yang kau rasakan. dan aku ingin lalui itu pujangga. tau kah kau bagaimana sesaknya dulu? tapi aku masih sesekali menoleh jika merindu. pujangga, apa aku bodoh? yah, kurasa aku sangat bodoh. pujangga, jawab aku dengan tutur kata indahmu sekali lagi. buat aku percaya, buat aku merasa ikhlas. menjadikan yang lalu sebuah kisa lalu, dan menjadikannya kisah untuk menuju kedewasaan. pujangga, lihat aku. meski hanya sejenak. tak adakah rasamu ingin melindungi? pujangga, kumohon. jangan jadi pria brengsek sepertinya. karena jika kau juga begitu, mungkin rasa percayaku akan benar-benar hancur sepenuhnya.

ia tak pernah membaca, ia tak pernah mengerti

tak peduli jika orang lain berkata aku bodoh, hanya karena menyayangi sosok yang bahkan tak peduli padaku. memangnya semua harus berbalas? tidak. karena hal itu bukan prioritas saat ini. aku hanya menyayang, aku yakin nantinya ada jawabnya. hati yang keras tak selamanya menjadi keras. boleh saja kau berujar, boleh juga aku bertindak. karena semua memiliki penilaiannya masing-masing. pujangga tertunduk, aku disisinya. mengamati tanpa ia sadari. banyak kata yang kututurkan untuknya, meski tak selalu ia dengar dan ia baca. tak apa, aku tak memaksa. 'hei' itu sapaan yang selalu ingin kuutarakan saat bertemu dengannya. tapi aku tak bisa. kadang hanya bisa membisu sembari memandang. aku malu. kadang ia pun mencuri pandang, aku tau. hanya seperti itupun aku sudah sangat bersyukur. karena sayang yang kumau bukan yang 'memaksakan untuk ada'. tapi memang 'karena itu ada'. pujangga, bagaimana pagimu? sedang menyibukkan apa kau pagi ini? pernahkah terlintas dibenakmu a...

kelabu

beberapa waktu berlanjut, masih tergambar wajahmu diangan. potongan-potongan ingatan tentang bagaimana kau jalani harimu, ada atau tak ada diriku. taukah kau? dirimu menjadi salah satu bagian spesial dalam diriku. penyalur rasa bahagia sekaligus rasa kecewa. aku meragu pujangga, dirimu semakin terlihat kelabu. kenapa? bisa kau jelaskan padaku kenapa? apakah ini hanya sepenggal kisah yang lagi-lagi akan terputus ditengah persimpangan? kau tau, kau yang memegang bolanya. dan aku yang berputaran disekitarnya. bodohnya.. bayangku mengabur, dirimu berdiri di persimpangan jalan, tersenyum ikhlas memandang alam disekitarmu. damai. aku ikut tersenyum, sendu tapi. karena kau jauh. belum bisa kugapai. seolah aku hanya menggenggam udara yang berada di sekelilingmu. genggam semu yang sewaktu-waktu akan hilang juga. aku merindumu, tidakkah kau tau? tunggu aku. diujung jalan itu. kejar aku jika saatnya tiba, atau mungkin lebih baik kita saling mengejar dan mempertemukan?

ha-lo

hai kau yang sedang berundung muram, berselimutkan aura hitam yang membuatku sedih. dimana tawamu? dimana semangatmu? dimana goda dan rayumu? dimana semua kekonyolanmu pergi? apa ini saat yang berat bagimu? ada apa? kemarilah, raih telapak tanganku yang terbuka lebar untukmu. tersenyumlah, tidakkah kau lihat betapa terik matahari siang ini? tidakkah kau tau jika mentari sedang berbahagia? ia tidak sedang malu-malu seperti sore kemarin. ia tak merona, tapi sedang terkekeh memandang makhluk bumi. dan mengapa kau tak ikut terkekeh bersama? meski sinarnya kadang membakar kulit? bahkan jika kau tak percaya, gurat tinta diata lembarku yang sengaja kubuat berantakanpun masih bsia menunjukkan seulas senyum, kau bisa. karena ini bukan yang terberat, tetapi tetap harus dilalui. dengan senyuman :)

bersama senja

bersama gradasi sinar mentari sore ini, kulihat lagi parasmu. lagi-lagi kupandang wajah letih itu. mengapa? inginkah kau untuk bertutur? atau hanya menikmati semilir angin yang menabrak tubuhmu yang mulai gontai? bibirku mencoba untuk menunjukkan seulas senyum, kau tak mungkin tau bagaimana rasanya jantungku memompa dengan kecepatan ekstrem. 'kamu dimana?' kata itu yang terngiang di satu, dua, tiga dan langkah seterusnya yang membawaku kearahmu. kumohon, demi apapun. jangan kau bersedih. dimana dirimu yang penuh dengan tawa itu? aku merindunya. dimana tutur kata bijak yang biasa kau dendangkan hingga membuat hatiku merasa syahdu? lihat aku pujangga, kau tak sendiri. kau tak perlu melihatku sebagai seseorang yang kau suka, lihat saja aku sebagai apapun yang kau mau. yang kau butuhkan. karena untuk kali kedua, aku tak mau mengacaukannya lagi. aku ingin menebus yang lalu. tidakkah kau lihat sinarnya semakin menggelap, berubah menjadi pendar warna orange, bercampur dengan warna ...

kamu tetap citpaanNya yang sempurna

mungkin kau rasakan apa yang kurasakan. tetapi berbeda. perasaanmu mungkin tidak sekompleks milikku. rasamu tak sespesial yang kupunya. tapi kau tetap makhlukNya yang kupuja. tak peduli wajah kusutmu saat lelah, tak peduli wajah kucelmu saat terbangun dari tidurmu. tak peduli ujung rambutmu yang acak-acakan atau sengaja kau kuncung meski tak tau apa alasannya. aku tetap suka, meski kadang ikut tergelitik. tak peduli apa yang mereka katakan tentangmu, aku yakin mereka hanya sebagaian orang sepertiku. yang tak benar-benar mengenalmu dengan baik. bisa saja hanya menyuka atau membenci. tak ada yang tau. tapi aku bersyukur, aku bisa menyayangmu dengan semua hal yang kini kulihat, dengan semua hal yang kurasa saat aku berada di dekatmu. dengan semua ingatan yang dulu coba untuk kututup meski tau aku terlalu membodohi perasaan yang mulai tumbuh. yah... semuanya akhirnya berbalik lagi. aku masih memujamu, aku masih mengagummu, dan aku masih menyayangmu. dengan rasa yang sama. dilembaran bar...

Mungkin Bodoh

pujangga, mungkin aku wanita bodoh. sedari dulu. pujangga, aku menyayangmu. dengan semua ambisi dan kelembutan yang tak semua orang lihat dibalik kerasmu. pujangga, aku tau nantinya lagi-lagi aku akan kecewa. tapi itu tak mematahkan inginku untuk memandang lelah wajahmu. pujangga, aku memang bodoh. dulu, kutanyakan pada bintang. kudongakkan wajahku dan berharap langit akan menyampaikan rinduku pada semesta. kuharap semesta bisa membuatmu merasakan rinduku. aku bodoh. karena itu pastilah mustahil. aku bodoh karena mencintamu saat itu, karena ada genggam lelaki lain yang menahanku. tapi kini, aku ingin mencintamu dengan sempurna. sesempurna semesta yang kita tempati. bukan mengapa, senyum sendumu membuatku luluh. ucapanmu membuatku tenang. meski kau masih meragu, aku hanya bisa berdoa. karena sedari dulu, sesuatu yang kucoba untuk menimbun dalam-dalam tak pernah benar-benar mau untuk hanya dijadikan sebuah kisah lalu.

Di-Lema

aku jengah, aku muak, aku kalap. otakku nyadat, seperti ada sambungan yang terputus. sakit, menyakiti, tersakiti, aku tak mau lagi. sesal akhirnya aku lakukan. perihnya masih terasa, bahkan nanahnya masih tertinggal. luka baru menoreh, bodoh kutau diriku. ia, yaah ia hanya pionir. salah satu yang inginkan tawa. tapi aku terlalu jengah, lalu kubuat ia luka. jahat, haha kau tak khalnya seperti dirinya. siapa? dia. yang ku benci. tenggelam kita dalam ratap dan bimbangmu sendiri. kemana kelegaan yang selama ini tak ada ambangnya? kemana rasa ikhlas yang dulu coba kugenggam. maafkan aku, maafkan. aku tak mau menoreh luka. tapi kucinta pujanggaku. kucinta dia yang mungkin akan menoreh luka padaku. bukan kau, bukan kau yang menerimaku dengan senyuman.

bulan

bulan, apakah kau lihat dimana pujanggaku? bisakah kau rasakan kemelut dalam raganya? ah, didalam salah satu titik di raganya. ia menangis wahai bulan... dan begitu ingin kudekap ringkih tubuhnya. bulan, bisakah kau rasakan tubuhnya yang mulai begidik? ya, pujanggaku. mengapa ia begitu berkepala batu bulan? tidakkah ia tau, itu semuanya percuma? bulan... sulit kujangkau dirinya yang sedang meronta minta tolong. tapi kau, kau bulan. kau ada diantara kami. kau ada dimanapun mataku menatap. bulan, tolong ... untuk kali ini saja .. bisakah kau jaga pujangga itu untukku ?

rude~

sepi, sendiri aku dipenghujung malamku. sepi yang menyeruak seakan siap untuk menelanku. bersama lamunan, memori. kita. yah, kita yang lalu. kejahatanmu. jemariku menggapai angin, angin yang bahkan tak berbentuk. seperti janji semu yang menguap pergi. sesalku, ratapku. kau jahat. lagi-lagi kugumamkan itu. sorot matamu yg kabur, tersamar tawanya yang membuatku jengah. 'is she better than me?' gemerincing tawa terdengar, dia hanya bodoh. dan aku? terlalu bodoh untuk sempat berharap angin bisa kugenggam.

Selamat Pagi

kubuka mataku perlahan, membiarkan dinginnya udara pagi ini memelukku sendu. hai kamu, bagaimana pagimu? Apa kau memikirkanku sekarang? Apa sempat terlintas di benakmu akan sosokku saat kau terbangun? Karena gelitik sikap manismu saat terakhir kita bertemu membuatku geli bahkan sampai saat ini. Hai sosok yang kusebut pujangga, apa kau masih merasa kesepian? tenanglah pujangga, semuanya akan indah nantinya. Bahkan disaat hari terasa sangat berat hingga kakimu mulai lengser sebelah, aku yakin kau bisa. karena kamu adalah kamu. Aku tak ingin kau hilang harapan, bahkan untuk sekali tarikan nafas, aku ingin kau selalu ingat jika kau tak sendiri. meski disaat matamu terpejam. sekali lagi bolehkah aku bertanya? Bagaimana pagimu? Semuga ada seulas senyum saat kedua bola mata itu melihat binar sinar mentari pagi ini :))

pujangga - itu kau.

sebut saja dengan panggilan pujangga. gerikmu menggelitik, kadang juga membuatku gerah. tapi kau satu. satu yang tak tergantikan dengan yang lain. bahkan masih satu saat mereka meremehkan dan meninggalkanmu. kamu satu. pujangga yang kesepian didera waktu. penyayang yang berkelana mencari jati diri. itu kamu. hai pujangga, sapaku setelah sekian lama mencari cela untuk menghapusmu. sosokmu bak nirvana, gabungan warna dari palet yang kupegang. kau campuran warna yang antik, tetapi indah. keindahanmu sedikit samar, meski sudah kau coba untuk tunjukkan. hai pujangga, apa kau merindu?

Mimpi

Oke, bukan berarti aku membesar-besarkannya. Tapi memang ini adalah sesuatu yang 'Besar' dalam artian, aku tak tau bagaimana jika itu benar terjadi. oke, semalam aku bermimpi. cukup aneh karena setiap kali aku bermimpi tentangnya yang lalu, pasti ada sesuatu yang terjadi. *sudah kupastikan sendiri. sepucuk surat datang, entah dari mana. dan aku melihat sebuah nama. bukan. sepasang nama disana. wow. celetukku. sungguh kau tak akan bisa mengatakan sepatah katapun jika melihatnya secara langsung, bahkan meski sejujurnya aku sudah merasa masa bodoh tetap saja aku tak bisa berujar. ada namanya dan namamu disana. diselembar kertas. katakan saja 'undangan pernikahan' bagaimana perasaanmu sebagai wanita yang dulu sangat mencintanya dan sekarang sedang membereskan apa yang sudah terlanjur ia mulai dan ia tutup paksa? nyeri? bukan. datar? tidak juga. hanya saja semuanya terasa aneh. ada gejolak aneh disini. yah, didalam organ tubuhku. dan sungguh itu sangat mengganggu. seda...

Anggap Saja Awalan

Anggap saja awalan ... awalan baru dari luka hati yang belum mengering. Awalan dari lembar baru yang sedikit kusut. Yah,semua orang punya luka, begitu pula den ganku juga dengan kalian yang ingin membuat sebuah 'A walan' setelah sekian lama terpuruk. S iapa aku? Bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang gadis yang suka menden dangkan ceiritaku lewat tulisan. Kenapa harus lewat kata? Karena kata bisa menjadi bukti, saksi hidup dari sebuah perjalanku. Sesuatu yang tak bisa terhapus seperti ucapan yang bisa dengan mudah dilupakan. Yah, anggap saja ini awalan. Awalan dari semua luka dan perjalanan memperbaiki semua retakan yang ada ~