aku jengah, aku muak, aku kalap.
otakku nyadat, seperti ada sambungan yang terputus.
sakit, menyakiti, tersakiti, aku tak mau lagi.
sesal akhirnya aku lakukan.
perihnya masih terasa, bahkan nanahnya masih tertinggal.
luka baru menoreh, bodoh kutau diriku.
ia, yaah ia hanya pionir. salah satu yang inginkan tawa.
tapi aku terlalu jengah, lalu kubuat ia luka.
jahat, haha kau tak khalnya seperti dirinya. siapa? dia. yang ku benci.
tenggelam kita dalam ratap dan bimbangmu sendiri.
kemana kelegaan yang selama ini tak ada ambangnya?
kemana rasa ikhlas yang dulu coba kugenggam.
maafkan aku, maafkan. aku tak mau menoreh luka.
tapi kucinta pujanggaku.
kucinta dia yang mungkin akan menoreh luka padaku.
bukan kau, bukan kau yang menerimaku dengan senyuman.
otakku nyadat, seperti ada sambungan yang terputus.
sakit, menyakiti, tersakiti, aku tak mau lagi.
sesal akhirnya aku lakukan.
perihnya masih terasa, bahkan nanahnya masih tertinggal.
luka baru menoreh, bodoh kutau diriku.
ia, yaah ia hanya pionir. salah satu yang inginkan tawa.
tapi aku terlalu jengah, lalu kubuat ia luka.
jahat, haha kau tak khalnya seperti dirinya. siapa? dia. yang ku benci.
tenggelam kita dalam ratap dan bimbangmu sendiri.
kemana kelegaan yang selama ini tak ada ambangnya?
kemana rasa ikhlas yang dulu coba kugenggam.
maafkan aku, maafkan. aku tak mau menoreh luka.
tapi kucinta pujanggaku.
kucinta dia yang mungkin akan menoreh luka padaku.
bukan kau, bukan kau yang menerimaku dengan senyuman.
Komentar
Posting Komentar