Langsung ke konten utama

kisah yang lalu

hai kau yang lalu, bagaimana kabarmu?
bagaimana keseharianmu? apa kau bahagia? apa mungkin kau sedang bersedih? atau mungkin marah dan kecewa? atau kau sedang tidak merasakan apapun?
hari ini aku mencoba menghapusmu. hari ini aku mencoba untuk berjalan maju.
bukan. bukan menghapusmu, mungkin mengikhlaskan adalah kata yang lebih bagus.
memori yang tergambar pada setiap jepret foto itu bisa saja kuhapus dengan mudah.
bagaimana dengan apa yang tergambar diangan? tak semudah itu.
tapi aku hanya mencoba menerima.
kau tau, diriku masuk kedalam lubang yang kita gali bersama. tapi kau terlebih dulu keluar.
sedangkan aku masih tertinggal didalam. dengan kepayahan, aku mencoba untuk keluar. susah sekali.
kau tau, aku mencoba untuk menemukan dirinya yang lain.
dan aku menemukannya. meski belum utuh.
begitu pula denganmu kan? dengan kekasih barumu. apa kau bahagia dengannya?
hai kau yang lalu, kenapa kau bisa sejahat ini denganku?
tidakkah kau ingat ucapanmu saat itu.
tidak, aku tidak mau mengungkit janji fanamu. tapi ucapanmu kali itu.
saat kau bilang ingin menjadi temanku, sahabatku.
apa itu salah satu omong kosongmu? omong kosong yang kupercaya begitu saja?
karena kau bukan lagi temanku. kau memutus pertemanan itu, dengan alasan yang tak kumengerti.
kenapa? karena gadismu? ironi sekali kau.
dimana kau yang kukenal? kenapa kau mau menjadi orang lain hanya karena kondisi?
terkadang aku teringat akan dirimu. tapi bukan berarti aku ingin kembali.
setelah kupikir lagi, aku memang mencintamu. hingga rasanya ingin mati.
tapi aku mencintamu yang saat itu.
aku mencintamu yang selalu memandangku saat aku sedang berbincang denganmu.
aku mencintamu yang selalu memelukku disaat aku menangis.
aku mencintamu yang selalu memberiku semangat disaat aku goyah.
aku mencintamu yang selalu membuatku merasa diterima.
aku mencintaimu yang lalu. sebelum kau menjadi orang asing. sebelum kau menjadi seperti sekarang. sebelum kau mengenal dia. dan sebelum kau bersama dengannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...