hai kau yang lalu, bagaimana kabarmu?
bagaimana keseharianmu? apa kau bahagia? apa mungkin kau sedang bersedih? atau mungkin marah dan kecewa? atau kau sedang tidak merasakan apapun?
hari ini aku mencoba menghapusmu. hari ini aku mencoba untuk berjalan maju.
bukan. bukan menghapusmu, mungkin mengikhlaskan adalah kata yang lebih bagus.
memori yang tergambar pada setiap jepret foto itu bisa saja kuhapus dengan mudah.
bagaimana dengan apa yang tergambar diangan? tak semudah itu.
tapi aku hanya mencoba menerima.
kau tau, diriku masuk kedalam lubang yang kita gali bersama. tapi kau terlebih dulu keluar.
sedangkan aku masih tertinggal didalam. dengan kepayahan, aku mencoba untuk keluar. susah sekali.
kau tau, aku mencoba untuk menemukan dirinya yang lain.
dan aku menemukannya. meski belum utuh.
begitu pula denganmu kan? dengan kekasih barumu. apa kau bahagia dengannya?
hai kau yang lalu, kenapa kau bisa sejahat ini denganku?
tidakkah kau ingat ucapanmu saat itu.
tidak, aku tidak mau mengungkit janji fanamu. tapi ucapanmu kali itu.
saat kau bilang ingin menjadi temanku, sahabatku.
apa itu salah satu omong kosongmu? omong kosong yang kupercaya begitu saja?
karena kau bukan lagi temanku. kau memutus pertemanan itu, dengan alasan yang tak kumengerti.
kenapa? karena gadismu? ironi sekali kau.
dimana kau yang kukenal? kenapa kau mau menjadi orang lain hanya karena kondisi?
terkadang aku teringat akan dirimu. tapi bukan berarti aku ingin kembali.
setelah kupikir lagi, aku memang mencintamu. hingga rasanya ingin mati.
tapi aku mencintamu yang saat itu.
aku mencintamu yang selalu memandangku saat aku sedang berbincang denganmu.
aku mencintamu yang selalu memelukku disaat aku menangis.
aku mencintamu yang selalu memberiku semangat disaat aku goyah.
aku mencintamu yang selalu membuatku merasa diterima.
aku mencintaimu yang lalu. sebelum kau menjadi orang asing. sebelum kau menjadi seperti sekarang. sebelum kau mengenal dia. dan sebelum kau bersama dengannya.
bagaimana keseharianmu? apa kau bahagia? apa mungkin kau sedang bersedih? atau mungkin marah dan kecewa? atau kau sedang tidak merasakan apapun?
hari ini aku mencoba menghapusmu. hari ini aku mencoba untuk berjalan maju.
bukan. bukan menghapusmu, mungkin mengikhlaskan adalah kata yang lebih bagus.
memori yang tergambar pada setiap jepret foto itu bisa saja kuhapus dengan mudah.
bagaimana dengan apa yang tergambar diangan? tak semudah itu.
tapi aku hanya mencoba menerima.
kau tau, diriku masuk kedalam lubang yang kita gali bersama. tapi kau terlebih dulu keluar.
sedangkan aku masih tertinggal didalam. dengan kepayahan, aku mencoba untuk keluar. susah sekali.
kau tau, aku mencoba untuk menemukan dirinya yang lain.
dan aku menemukannya. meski belum utuh.
begitu pula denganmu kan? dengan kekasih barumu. apa kau bahagia dengannya?
hai kau yang lalu, kenapa kau bisa sejahat ini denganku?
tidakkah kau ingat ucapanmu saat itu.
tidak, aku tidak mau mengungkit janji fanamu. tapi ucapanmu kali itu.
saat kau bilang ingin menjadi temanku, sahabatku.
apa itu salah satu omong kosongmu? omong kosong yang kupercaya begitu saja?
karena kau bukan lagi temanku. kau memutus pertemanan itu, dengan alasan yang tak kumengerti.
kenapa? karena gadismu? ironi sekali kau.
dimana kau yang kukenal? kenapa kau mau menjadi orang lain hanya karena kondisi?
terkadang aku teringat akan dirimu. tapi bukan berarti aku ingin kembali.
setelah kupikir lagi, aku memang mencintamu. hingga rasanya ingin mati.
tapi aku mencintamu yang saat itu.
aku mencintamu yang selalu memandangku saat aku sedang berbincang denganmu.
aku mencintamu yang selalu memelukku disaat aku menangis.
aku mencintamu yang selalu memberiku semangat disaat aku goyah.
aku mencintamu yang selalu membuatku merasa diterima.
aku mencintaimu yang lalu. sebelum kau menjadi orang asing. sebelum kau menjadi seperti sekarang. sebelum kau mengenal dia. dan sebelum kau bersama dengannya.
Komentar
Posting Komentar