Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

kamu. dan lagi-lagi kamu.

ragaku meringkuk memeluk rindu yah, rindu yang seolah tak terjawab karena belum tiba masanya berjumpa sembari meringkuk kutatapi jemari kakiku bayangan akan jemari besarmu yang mengganggu milikku tiba-tiba mencuat memainkan lembutnya pasir yang sedikit bercampur air ditepian pantai ujung jemari kita tak berjarak, begitu juga dengan bahuku yang bersandaran di dadamu panasnya mentari bercampur dengan panasnya cinta yang sedang bertumbuh lenganmu mendekap raga mungkilku seolah tak enak hati untuk melepasnya dan kubiarkan kenangan itu menjalari seluruh indraku hai kau, yah lagi-lagi kau. tak jua jengah kau buatku terganggu membuatku meringis seperti orang gila di tengah sepi membuat degup jantungku berpacu kala kutatap kedua bola mata itu anehnya hangat dekapmu bisa membuat semuanya kembali berjalan normal. yah, seaneh itu.

bayang

seperti bayang. sosoknya mulai kabur dan tersamar. dalam bentang jarak. dalam kuat ego. lagi-lagi saling tanduk menanduk dan menggores luka. ah, jengah. satu rasa sesal tersayat. seharusnya tidak begitu. seharusnya begini. yah apalah daya, sudah jadi bubur. tak bisa menggenggam tanganmu sudah terasa buruk. tapi nyatanya ada yang lebih buruk .. mengerti jka kau ada, tetapi sangat tak terjangkau. bias dan seolah mulai mati ditelan luka. kau tau, kadang memang harus menelan pahitnya sesal untuk tau kau berharga. kadang harus menyayat dinding hati dulu untuk tau kau yang didamba. tapi mungkin aku terlalu bodoh untuk belajar. dan kau, terlalu lelah untuk menghatur apa yang ingin kutau. aku hanya bisa menulis sajak. berharap kau tau. aku hanya bisa memaki diri dan memendam sesal. aku hanya bisa tertunduk kesal dan mengutuki diri sendiri. hanya aku. jangan lagi ada kau rasakan pilunya juga. karena tak semestinya kau dirundung mendung.