seperti bayang. sosoknya mulai kabur dan tersamar.
dalam bentang jarak. dalam kuat ego.
lagi-lagi saling tanduk menanduk dan menggores luka.
ah, jengah.
satu rasa sesal tersayat. seharusnya tidak begitu.
seharusnya begini.
yah apalah daya, sudah jadi bubur.
tak bisa menggenggam tanganmu sudah terasa buruk.
tapi nyatanya ada yang lebih buruk ..
mengerti jka kau ada, tetapi sangat tak terjangkau.
bias dan seolah mulai mati ditelan luka.
kau tau, kadang memang harus menelan pahitnya sesal untuk tau kau berharga.
kadang harus menyayat dinding hati dulu untuk tau kau yang didamba.
tapi mungkin aku terlalu bodoh untuk belajar.
dan kau, terlalu lelah untuk menghatur apa yang ingin kutau.
aku hanya bisa menulis sajak. berharap kau tau.
aku hanya bisa memaki diri dan memendam sesal.
aku hanya bisa tertunduk kesal dan mengutuki diri sendiri.
hanya aku. jangan lagi ada kau rasakan pilunya juga.
karena tak semestinya kau dirundung mendung.
dalam bentang jarak. dalam kuat ego.
lagi-lagi saling tanduk menanduk dan menggores luka.
ah, jengah.
satu rasa sesal tersayat. seharusnya tidak begitu.
seharusnya begini.
yah apalah daya, sudah jadi bubur.
tak bisa menggenggam tanganmu sudah terasa buruk.
tapi nyatanya ada yang lebih buruk ..
mengerti jka kau ada, tetapi sangat tak terjangkau.
bias dan seolah mulai mati ditelan luka.
kau tau, kadang memang harus menelan pahitnya sesal untuk tau kau berharga.
kadang harus menyayat dinding hati dulu untuk tau kau yang didamba.
tapi mungkin aku terlalu bodoh untuk belajar.
dan kau, terlalu lelah untuk menghatur apa yang ingin kutau.
aku hanya bisa menulis sajak. berharap kau tau.
aku hanya bisa memaki diri dan memendam sesal.
aku hanya bisa tertunduk kesal dan mengutuki diri sendiri.
hanya aku. jangan lagi ada kau rasakan pilunya juga.
karena tak semestinya kau dirundung mendung.
Komentar
Posting Komentar