Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

anxiety

setiap orang memiliki kisahnya sendiri. setiap orang memiliki rasa sakitnya sendiri. ceritaku, mungkin bukan cerita yang tak pernah ada sebelumnya. sebagian orang tentu pernah merasakannya, sampai ke bagian terburuk sekalipun. aku tak pandai mengutarakan kata lewat tutur halus. aku lebih suka menurturnya lewat tulisan. aku tau aku orang yang penuh dengan nilai negatif, begitu juga dengan mereka yang selalu membuatku merasa terhimpit. pernah pada suatu ketika rasanya sesak sekali. tetapi bibir tetap menunjukkan seulas senyuman. jemariku hanya bisa menggenggam erat bagian punggungnya yang kokoh, membiarkan sesaknya hilang hanya dengan berada di pelukan seseorang yang kau sayangi. ya, itu berhasi. kala itu. akan tetapi ceritanya tidak selalu semudah itu. aku terbangun dengan debaran menyakitkan, dan mengetahui tak ada yang bisa mendekapku. gambaran dirinya ada di sebrang sana, entah dengan gemelut pemikiran semacam apa. kau tak selalu bisa menghakimi apa yang dipikirkan maupun d...

waktu

waktu membuka tabir mata dan hatiku. bagaimana sesuatu tumbuh dan berkembang. tetapi yang kutau, waktu seolah berjalan lambat. seolah nyadat dan tak lagi ingin memutar pegasnya. waktuku terhenti di momen dimana aku bisa menyentuh gurat wajahnya, tanpa merasa akan menadapat balasan kosong dari udara. karena sosoknya nyata didepan muka. rasa-rasanya juga waktu berhenti di situasi saat aku bisa mendengar kekehan itu secara langsung. waktuku terhenti di momen pertengkaran yang seolah menjadi pelengkap kejenuhan. waktuku terhenti, di saat kamu dan aku tak terpisah oleh kilometer yang kelewat jauh. pemegang kendali seolah tak lagi menjadi milikku. gambling karena situasi dan rasa takut. waktu ... haruskah menjadi pemecah sekaligus penyatu?

chit chat [2]

maaf jika sekenanya saya tidak bisa mengucapkan apa yang ingin anda dengar. maaf karena saya juga memiliki keteguhan hati sendiri saat anda seolah memaksa saya untuk menuturkan apa yang begitu ingin anda dengar. maaf karena saya tidak pandai mengucap kata yang nantinya hanya akan anda sanggah dengan beberapa kalimat yang sudah saya hapal diluar kepala. buat apa berhatur maaf jika tidak datang dari dalam hati? buat apa memaksakan sesuatu yang tak seharusnya dipaksa hanya untuk kesenangan diri semata? aku sudah jengah. berada dalam posisi terhimpit dan seolah bisa sesak napas kapan saja saat dindingnya lagi-lagi mulai bergerak menghimpit. aku sudah jengah, selalu merasakan debaran jantung karena ketakutan yang entah harus berujung sampai titik mana. mohon maaf, tapi saya tak ingin mendengar sindiran apapun keluar dari pihak anda. saya selalu merasa sendiri. meski saya punya keluarga, punya beberapa sahabat, bahkan semu memiliki anda. karena hakikatnya, saya memang tak punya siap...

chit chat

pernahkah kau merasa lelah hanya karena hal yang bergulir tak juga usai? dimana hal itu bukanlah sesuatu yang baik untuk berdiam didalamnya? alhasil kau hanya bisa memillih untuk diam atau mengabaikan. disaat sesuatu menjadi buruk dan kau merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, haruskah kau memina maaf? sepertinya iya. karena meski kau tak lakukan apapun yang menurutmu salah, kau punya kewajiban untuk menjaga semuanya baik-baik saja. dan itu butuh keteguhan hati yang besar. memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang dimau oleh orang lain tidak selalu membuat kita bahagia. itu nyatanya. bahkan kadang malah membuat eksistensi kita seolah samar. karena apa? harus ini. harus itu. sesuai kata dia. sesuai kata si A si B. kau tau kau punya pendirian dan jawaban atas apa yang sudah kau tunjuk. tetapi harus berbelok dan harus menerima pembelokan itu terjadi meski kau tak ingin. apakah ada yang peduli? kadang tidak. pihak yang berucap hanya akan tersenyum saat tau kau melakukan tepa...

bisakah kau dengar sebentar

adakah aku salah mengira yang telah ada? adakah aku salah menilai jika kamu yang memang seharusnya kutunggu? aku tau, kau tak pernah benar-benar lakukan apa yang kulakukan. kadang sedikit ketulusan, dan ada beberapa rentet keterpaksaan. kamu selalu sukses membuatku merasa bahagia sekaligus merana. kamu selalu sukses membuatku merasa jika saya hanya seseorang yang akan kau panggil jika tubuhmu mulai lemas, semangatmu mulai luntur, dan bahumu sudah tak kuat menopang. tapi adakah kau peduli denganku? dengan apa yang bergejolak dalam dada dan anganku? tentangmu. kita berjarak, seperti yang lalu-lalu, dan aku seolah sudah lama mengenalmu jauh dari waktu yang bergulir diantara kita kini. kau disana, dan aku disini. dalam bentang kilometer yang tak bisa dibilang dalam takaran angka ribuan. hatiku pernah hancur. lebur. masih dengan bongkah kepingan tentangmu. senyum terpapar, meski hati kelu, dan angan meloncat-loncat mencarimu. sedang apa kamu. sedang dimana dirimu. apa kau sehat. bagai...

kataku

aku tak pandai mengucap kata. hanya bisa merangkai beberapa kata untuk kau baca. aku kesal dengan keadaan, kesal dengan cibiran mereka, kesal dengan tanggapanmu, kesal dengan jarak yang tak juga mendekat, kesal dengan kepekaanmu yang kadang setipis tissue, kesal dengan semua hal yang bersangkutan dengan 'Kamu'. mereka bisa bilang ini itu, dan aku tak akan peduli. setidaknya itu yang kubuat tekat. tapi nyatanya aku salah. apapun ucapannya, apapun gelagat tingkahnya yang tiba-tiba mencuat, apapun hal baru yang kuketahui setelah kepo sana sini hanya membuat rasaku terenyuh. 'ah ayolah, kau kenal dia. kau tau apa alasan yang akan ia utarakan' karena aku tau semua itu, maka aku tak bisa diam tanpa menggingiti bagian bawah bibirku. tak bisa hanya tersenyum tanpa membiarkan akalku meloncat kesana kemari. dewasa. bagaimana kabar dari kedewasaan itu? kenapa ia tak kunjung tumbuh dalam roman percintaan yang kadang membuatku muak dan ingin pergi saja. melihat sosoknya seol...

bagaimana?

bagaimana jika aku hanya ingin dengannya? bagaimana jika aku hanya memaksakan egoku untuk tinggal? bagaimana jika semua ini hanya demi kebahagiaanku saja? bagaimana jika dia tidak? bagaimana jika ternyata ia tak merasakan hal yang sama? haruskah aku melepas lagi? sesuatu yang sangat ingin kudekap untukku sendiri? sesak. sesak sekali rasanya. seperti ada sesuatu yang tertahan dan tak terungkap. hanya saling melukai dan akhirnya saling terdiam dengan diri masing-masing. aku meringkuk dalam kelu dan membiarkan anganku berlarian ganas. melompat kesana kemari berfantasi akan sesuatu yang tak pasti. ada kemelut emosi yang menderu ingin meledak. kedua mataku nanar tapi tak jua terlinang air mata. rasa kecewa dan marah membumbung di dada. aku harus apa? tak ingin kejadian beberapa tahun silam datang dan buatku sesak seperti sekarat. aku tak ingin mati dalam dekap tanganku sendiri.

jengah?

lagi-lagi jadi kelabu. seolah tanganku enggan dan takut untuk sekedar meraih sendu. enggan untuk mendengar egois yang membusungkan dadanya dengan percaya diri. enggan untuk sekedar mengintip apa yang ia tuturkan dan dengan siapa. aku terlalu muak hingga rasa kesalku memuncak. air mataku mengering karena terlalu lelah dengan cacian yang itu itu saja. lagi-lagi aku merasa jika ia hanyalah pembohong. yah, ia seperti pendusta yang ingin membenarkan apa yang sudah ia tulis. kututup telingaku. aku tak mau mendengar apapun keluar dari mulutmu. kualihkan pandangku. aku tak mau melihat kobaran kesombongan di matamu. aku hanya ingin sendiri.membiarkan musik keras memakiku. membiarkan mereka tertawa dan bertanya kenapa aku pengecut. karena memang, saya adalah pengecut ulung. saya dewasa, tetapi saya terlalu takut menggenggam harapan yang seolah telah berlalu. saya pengecut, berusaha dan akhirnya terdiam di tengah persimpangan. dasar penjahat ulung! kau tidak bisa mengem...

dua jalan

kubuka lenganku lebar, tapi kau seolah ingin lebih dari peluk pengap. kubasuh pilumu pelan, tapi seolah kau tampis dengan kata kelumu. kubuat siasat hanya untuk buatmu tersenyum lupakan bebanmu, tapi seolah kau hanya tersenyum sinis memandang tingkah bodohku. kau, iya kau. matamu seolah bisa tercongkel keluar padahal hanya kubaca sekilas pesan sinismu. kututup rapat katub bibirku dari pada mendengar teriakanmu karena tak selaras. disaat kuingin kau memelukku barang sedetik. yang kudapat hanya keluhmu dan akhirnya kusingkirkan manjaku. dua jalan nampak jelas didepan. kamu dan aku hanya menatap nanar. kamu berjalan berbalik. bukan memilih dua jalan itu. dan aku? hanya diam. tanpa alasan.

kamu. dan lagi-lagi kamu.

ragaku meringkuk memeluk rindu yah, rindu yang seolah tak terjawab karena belum tiba masanya berjumpa sembari meringkuk kutatapi jemari kakiku bayangan akan jemari besarmu yang mengganggu milikku tiba-tiba mencuat memainkan lembutnya pasir yang sedikit bercampur air ditepian pantai ujung jemari kita tak berjarak, begitu juga dengan bahuku yang bersandaran di dadamu panasnya mentari bercampur dengan panasnya cinta yang sedang bertumbuh lenganmu mendekap raga mungkilku seolah tak enak hati untuk melepasnya dan kubiarkan kenangan itu menjalari seluruh indraku hai kau, yah lagi-lagi kau. tak jua jengah kau buatku terganggu membuatku meringis seperti orang gila di tengah sepi membuat degup jantungku berpacu kala kutatap kedua bola mata itu anehnya hangat dekapmu bisa membuat semuanya kembali berjalan normal. yah, seaneh itu.

bayang

seperti bayang. sosoknya mulai kabur dan tersamar. dalam bentang jarak. dalam kuat ego. lagi-lagi saling tanduk menanduk dan menggores luka. ah, jengah. satu rasa sesal tersayat. seharusnya tidak begitu. seharusnya begini. yah apalah daya, sudah jadi bubur. tak bisa menggenggam tanganmu sudah terasa buruk. tapi nyatanya ada yang lebih buruk .. mengerti jka kau ada, tetapi sangat tak terjangkau. bias dan seolah mulai mati ditelan luka. kau tau, kadang memang harus menelan pahitnya sesal untuk tau kau berharga. kadang harus menyayat dinding hati dulu untuk tau kau yang didamba. tapi mungkin aku terlalu bodoh untuk belajar. dan kau, terlalu lelah untuk menghatur apa yang ingin kutau. aku hanya bisa menulis sajak. berharap kau tau. aku hanya bisa memaki diri dan memendam sesal. aku hanya bisa tertunduk kesal dan mengutuki diri sendiri. hanya aku. jangan lagi ada kau rasakan pilunya juga. karena tak semestinya kau dirundung mendung.

gundah

aku mengejanya dalam sebuah kata. aku menantinya dalam gelisah. aku mempercayainya dalam rapuhku. kataNya, semua sudah tertulis, mungkin lebih dulu sebelum aku bahkan megenal huruf. apalagi mengenalmu. aku berbisik dalam pengap malam. dadaku nyut-nyutan meski kucoba untuk berebah saja. ada tanya yang selalu tak terjawab. aku benci itu. disaaat berat dan terasa datar. aku mencoba mengingat bagaimana caramu yang selalu berhasil buatku merona. tapi nampaknya kita sama-sama lelah. rasanya seperti ada yang memukul keras dadaku. dipukul lagi dan lagi. dum. dum. dum. kenapa kata yang selalu kau dendang tak lagi kubaca? kenapa tawa yang selalu tergerai tak lagi kudengar? dan kenapa, aku hanya berdiam tanpa tau kapan berhenti dan kapan memulai. aku jengah dengan semua ini. kebodohanku hanya membuatku semakin jatuh. dan langit, masih saja menyeringai menatap jeritku. seolah ia senang melihat ronta kesakitanku. hei kau,sungguhkah ingin menggenggam atau hanya ingin menebus ...

hantu.

ditengah hembus napas yang sedikit tercekat. kudengar suaranya mendendangkan namanya. sekali lagi. dengan teramat santai. ya, sekali lagi kudengar nama itu melantun dalam lubang telingaku. napasku berat. dan aku hanya diam. sekali lagi perihnya terasa. gadis itu, yaah gadis yang tak kukenal. gadis yang tak kutau apa ia baik, buruk, cantik, atau berbopeng. kenapa? kenapa ia muncul lagi seperti hantu? kenapa? namanya harus lagi-lagi kudengar dan seolah menyayat luka yang masih belum kering jua kenapa? aku harus mendengarnya langsung dari pita suaramu yang membuatku begidik? diujung sana, kau mulai khawatir jika putrimu akan goyah. diujung sana, ada rasa takut jika putrimu akan terluka lagi. dan yah. kau benar. wajah kakuku seolah menyiratkan. jika saking perihnya, akupun tak bisa bersua.

matahari

bagai mentari yang kadang kutunggu dan kadang kubenci kunanti kilau jingganya yang indah kucaci saat teriknya membuat merah raga jarak antar kota terpaut, jemari kita tak pernah bisa bertautan. dalam binar keorangean senja lalu, pernah kubiarkan ragaku bersatu dengan bahumu akal otakku kubiarkan bebas, menikmati keindahan itu dalam separo pelukmu. langitnya berbeda. bukan karena ada kamu. tapi gemerlapnya sedang cantik-cantiknya. seolah semesta ingin memberi kenangan sebelum kau hilang dari pandang lagi. tak ada keorangean seperti yang biasa kulihat saat menunggumu. ungu, dengan sedikit bias warna biru cerah. beberapa bintang mulai nampak, meski tak kentara. senyummu mengudara, menambah cantik sore kala itu. jemari kita tak lagi berjauhan, bisa kurasakan peluk jemarimu diujung pundakku. bahkan semilir anginpun tak bisa memisah dua hati yang sedang bersanding. seolah tak ingin dipisah cepat-cepat. aku masih menunggumu, matahari ulungku dengan sedikit perasaan kesal saa...

kata

kata-kata bagai belati. kata-kata kadang bisa menjadi bukti sekaligus caci. kata-kata bisa menjadi dengki, dan juga benci. kata-kata menyayat hati, menusuk gendang kata-kata menggoyak hati, meruntuhkan diri. kalian, yah, kalian. hanya bisa berucap tanpa mengerti. kalian hanya berucap dan memandang yang bisa terpapar mata. kalian hanya mencibir sekaligus menyindir. sedang aku, mencoba memeluk jemari meski sedikit gontai ragaku memapah. kau yang jauh masih mengharu biru, selalu memeluk ringkih yakin yang selalu mereka koyak. aku tak ingin goyah, aku tak ingin yakinku dibuat cacat. aku ingin mereka melihat yang ada didalam, bukan praduga yang tak pasti. aku ingin bayar semua kata, aku ingin buat mereka yakin. dengan genggamku yang gemetar. ia selalu mencoba mendendang. hidup akan baik saja asal aku ada. dan akupun yakin, hidup akan baik saja jika senyumnya tak kunjung terbenam.

kawan yang hilang

betapa lucunya jemari itu berlarian. betapa ironinya seorang teman menjadi tak berkawan. aku mengenalmu. sedikit. dan kini sedikit demi sedikit semakin terkuak tentangmu. sungguh aku tak menyangka apa yang kau cibirkan kini kau lakukan. mana dirimu yang kutau? seolah hilang ditelan kabut. samar dan tak tergapai. kau salah. aku juga salah. kita sama-sama salah. entah ego siapa yang memimpin. aku kehilangan kawan. berawal dari dustamu dan kecewaku. lalu mengapa kau berbalik menjauh? kawan yang selalu kusuka ceritanya hilang. terima kasih sempat berkawan denganku, pujangga.

aku disini

jarum jam terus berputar. aku dan kamu tetap melangkah. meski langkah kita tak selaras dulu. mereka yang disekelilingmu mungkin juga mencintamu. tetapi jangan kau samakan dengan rasaku yang masih terendap. bagi mereka, mungkin kau lelaki dengan tawa manis dan wajah tampan. bagiku, kau pemilik janji semu yang kini entah berlaku atau kadaluarsa. yang mereka lihat mungkin penampilan atau jabatanmu. yang kulihat senyum centil dengan potongan rambut ala wanita kala itu. badan keceng yang mencoba berdiri tegap meski bahumu terasa sangat berat untuk menopang. kelopak mata hitam kebanyakan begadang untuk sekedar nonton anim dan bersenda gurau. gigi marmut kecil dibagian paling depan dengan hidung mancung besar. bayangan sosokmu yang kadang bergumal di anganku. aku melihatmu sebagai sosok kala itu. sepertinya masih terpaku dengan hangat pelukmu tempo itu. bukan mereka tak mengenalmu, tapi aku lebih tau kamu. kenangan yang tinggal memori kadang terasa lucu. bagaimana kita bisa se...

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

manusia.

kita, hanya manusia. manusia congkak yang selalu ingin dimengerti kita memiliki kecenderungan. saling menyakiti. sadar maupun tidak. bukankah saling memaafkan itu indah? bukankah sudah dimaafkan setelah melakukan kesalahan itu hal yang luar biasa nikmat? tapi lagi-lagi kita hanya manusia mengumpat adalah hal yang seolah wajib untuk dilakukan mengumpat dan menyalahkan. salahmu salahku. itu hanya masalah sudut pandang kenapa masih saja bersombong diri? saling memunggungi tetapi masih terbawa diangan? jangan dusta. kita semua juga tau didalam otak konslet itu kadang masih terbayang lalu kenapa? bukankah saling memaafkan itu indah? aku memang sama dengan manusia manapun. kecenderungan kami pun sama. begitu juga denganmu. yang lalu mungkin berbekas. tapi bukan berarti membuat yang sekarang ternoda jika bisa ikhlas. kita sudah impas. lalu kenapa kau masih terlihat murka?

putri tidak keberatan menunggu

seorang putri terdiam, dia terduduk sendiri di sebuah kursi taman. tak ada bebungaan wangi maupun berwarna-warni. karena salju sedang turun meski tak begitu banyak. tangannya memucat ditelan dingin. bibirnya yang merah mulai mengeluarkan kepulan asap. entah berapa lama dia duduk sendiri disana. membiarkan rambut kecoklatannya begidik dikelitiki udara sore itu. matahari seakan enggan untuk lengser, meski akhirnya ia mengantuk jua. si putri sesekali memandang ke sekeliling. hanya ada ranting yang dihinggapi sisa salju semalam, beberapa orang yang berjalan dan meninggalkan jejak diatas gumpal salju, dan juga bangunan yang seolah menjadi saksi bisu momen kali itu. ia tak bisu, jelas putri bisa berbicara. ia juga tak buta, untuk melihat jika yang ditunggu tak juga hadir. ia juga tak bodoh, meski menunggu di tengah dinginnya salju sudah membuat badannya separo kaku. hanya saja ia tak ingin beranjak. ia yakin pangerannya akan datang. cepat maupun lambat. iya yakin pangerannya tak akan tega ...

kenapa?

udara menghangat. sinar mentari masuk melalui cela pintu yang tertutup masih bergumul dengan tanya, diam-diam kau memaki. aku bertanya dalam sepi pagi ini. setelah tak kudengar lagi sayup suara masjid menyeru. kenapa kau ngotot? apa kau merasa bersalah? atau hanya ingin membenarkan tindakan? mataku berkaca pada langit pagi ini. mencoba tersenyum meski entah terasa berat. tanganku mencoba menggapai. angin yang tak berasa seolah ia tak lewat bayang seklebat muncul. kau yang duduk diam dengan wajah keras. mungkin sedang berfikir sembari mengingat. yah, jalan saja seperti kau yang biasa. aku tidak risau dengan tindakanmu yang lalu. jadi tak perlu kau bawa beban. bukankah kau selalu seperti itu? aku menengadah ke langit. Tuhan, kau tau jika pionmu ini selalu berbuat salah. tapi kau tetap menyayangi kami. tidak bisakah pionmu ini juga melakukan hal yang sama?

malam itu

bukan lagi senja berwarna jingga. bukan lagi balutan semerbak dingin gemelut menuju malam cahaya mengudara, terik dan menyilaukan mata suara tawamu masih terjaga. suara yang menemani tidurku semalam diujung jarak yang terasa dekat hanya karena sebuah layar aku masih takut. jujur aku kalut. bayang yang membawa bumbu lama seolah siap meracik tapi aku masih enggan membiarkan jemariku tergenggam lagi. langit menggelap. bintang menyeringai sinis seolah menertawakan kegundahan yang masih saja memutari diriku. ditengah sunyi yang kubuat sendiri. kekehanmu seolah mencoba merobos masuk. kedalam lubang yang dulunya ada dan kini kututup. rinduku tak ingin kuungkap. seperti rasa yang enggan kubuka lagi. tetapi katamu, sudah antarkan aku ke dimensi lain malam tadi.

biarkan aku jatuh cinta

saat kedua kakiku menghujam diatas daratan. saat jemariku mencoba untuk menggenggam angin yang berlarian disekitarku. aku menikmati kesendirianku. aku menikmati sepiku. bersama lantun irama yang terngiang di gendangku. kuacuhkan semua cibir yang ada dibelakangku. kata yang hanya merusak suasana senjaku. kututup telinga dan mataku. menikmati sejuk dan wanginya udara sore ini. dengan gurat kasar dalam lembaranku. aku menggambarkan sosok seorang lelaki. tersenyum. senyum tertulus yang pernah kugoreskan dengan pena. perlahan kubiarkan wajahku terdongak. memandang langit keorangean yang indah. Tuhan. biarkan aku jatuh cinta PadaMu, dan juga segala keindahan yang sengaja kau ciptakan.

terima kasih cinta fanamu

aku masih ingat, bagaimana kita duduk bersama memandang langit yang mulai menggelap. aku masih ingat, bagaimana serak suaramu membuatku luluh dan merasa tenang. aku masih sangat ingat, bagaimana tawa dan senyummu berhasil membuat degup di jantungku berjalan lebih dan lebih cepat. kini aku terdiam, aku mencoba mengingat semua kata yang pernah kau utarakan. semua yang kau bilang hanyalah dusta belaka. yah, hanya dusta. pujangga, apa yakinku salah? pujangga, apa memang tak ada satupun dari semua itu yang menggugah hatimu? pujangga, benarkah kau setega itu? rasaku kau biarkan melambung, kau beri bubuk hingga ia terus berkembang, lalu dengan perlahan kau buka satu demi satu hal yang tak kuduga. semuanya hanya cerita yang kutulis dalam skenarioku. itu katamu. apa lelaki yang sempat membuat mataku berbinar hanyalah lelaki yang pintar memainkan kata? apa kau gila? atau kau sedang setengah waras? Pujangga, lagi-lagi sayapku patah. Bukan karena sakit kali ini.  Tapi karen...

jawaban semu

ini masih pagi, dan aku masih disini bersama beberapa lembaran kertas yang tertulis namamu. aku menunggu dirimu yang acuh, berharap waktu yang hangat bisa kembali lagi aku menunggu manjamu yang sempat hadir kembali menyeruak dan membuat hariku berbunga dan aku hanya menunggu, karena bukan perkara kau suka atau tidak tetapi aku ragu jika memang kau ingin. jika memang kau tulus. kau selalu berkata, jika aku hanya perlu melihatmu bersikap. kau selalu menekankan, jika tak perlu diutarakan dengan kata. lalu bagaimana kubaca sikapmu kali ini? bisakah kubaca jika langkahmu mulai pergi menuju arah yang lain? dimana namaku tak akan pernah ada dalam anganmu? aku harus bagaimana? melupakan kata indah yang kukira penuh makna? atau mungkin aku salah? itu hanya omong kosong yang ingin kau serukan? wahai engkau pujanggaku, mahluk tak bersayap yang mampu buatku melambung sepersekian detik. mengapa tak bisa aku membencimu? membenci untuk melupakan rasa ini? mengapa kau biarkan ini ada jik...

lepas.

Dalam hidupmu, kamu pasti pernah berharap waktu dapat dipercepat maupun diperlambat. disaat momen yang kau rasa buruk terjadi, kau selalu ingin memutar jarum jam lebih cepat dari kecepatan biasanya. sebaliknya, jika terjadi momen yang membuat harimu merona, jangankan bergerak lambat, kau ingin jarum jam berhenti seketika. agar kau bisa menikmati momen tersebut sedikit lebih lama. begitulah kita, manusia. ego kita kuat. dalam hal apapun. itu sudah wajar, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersedia untuk megontrol apalagi menyelaraskannya dengan orang yang ada disekitarnya. aku masih sangat ingat, bagaimana aku pernah mencoba untuk menuruti ego seseorang. yang kuharap disetiap pertemuannya, akulah pemegang kontrol play stop dari jam waktu. tapi itu tak mungkin. aku tunduk, yang terlintas hanya bagaimana aku bisa membuatnya bahagia. kebahagiaanku menjadi opsi kesekian, tak peduli apakah hatiku sudah tak berupa, atau nantinya aku hanya akan kecewa. aku tak peduli. hingga pada suatu mom...

pudar

Apa kau sudah cukup jatuh? mendamba sosok yang hanya mengedepankan egonya? apa kau sudah cukup lelah? hingga akhirnya kau pikir lebih baik sendiri saja? pujangga, mungkin bagimu aku hanya kerikil dijalanan. satu tapi banyak kesamaan dengan kerikil lain. tapi bentukku tak benar-benar sama. membacamu tak pernah usai. dan juga tak pernah bosan. tapi mencintamu menyakitkan. menuruti moodmu. egomu. semua itu keras, sekeras bebatuan di bibir sungai benarkah tidak bisa menyatu? benarkah hanya aku yg mendamba? sayang, aku lelah. entah lebih baik tau jika kau merasa atau hanya melihatmu bermain dengan rasaku. dendang suara lembutmu buatku luluh aku selalu suka melihatmu bertingkah. meski menyebalkan. pernahkah kau dengar bisikku? aku ingin dimengerti. bukan hanya diterima dengan terpaksa. jika memang pergi adalah pilihan yang ada. kehilangankah dirimu saat aku tak lagi ada?

rinduku

merindumu dan hanya bisa memandangmu dari jauh. merindumu dan hanya bisa menikmati tawamu bersama mereka. merindumu dan hanya bisa bertegur dalam hati, berharap kau juga rasa yang sama. sosokmu seperti halnya tayangan televisi yang selalu kutunggu hadirnya kutunggui hingga kesal jika ada iklan yang membuat adeganmu terpotong dan aku hanya bisa duduk dan bergumam sendiri sembari menanti kau muncul lagi kau ada didalam layar, sedangkan aku ada diluar, menonton. merasa sangsi dan kadang ingin ikut memainkan peran. aku merindu, dan kadang kuungkap. tapi itu tak benar-benar berarti. karena aku hanya merindu berharap bisa memandangmu lagi berharap bisa mendengar serak suaramu berharap bisa menghabiskan waktu bersama denganmu.

aku juga mencintamu

dibawah langit berwarna jingga, aku memandangmu. teringat kata yang terlontar dan bergumul dalam imajiku. aku selalu suka caramu tertawa. aku selalu suka caramu memandang. aku selalu suka caramu berfikir dengan langkah yang tak terduga. pujangga, hari ini kau lambungkan lagi jejakku. kau biarkan aku menari-nari bebas seolah aku bisa saja melayang kau biarkan aku tersenyum hingga bibirku bisa saja kaku karena terlalu sering menarik keatas singkatnya, kau buatku bahagia. mungkin itu kata yang banyak mereka utarakan untuk apa yang kurasa. sederhana. sepertimu yang terlihat dihadapku. tersenyum manja mencoba untuk mengungkap rasa. bersikap hangat seolah ingin menunjukkan jika aku diterima. pujangga, terima kasih. aku juga mencintamu

sempat ada rindu

bagaimana tidak rindu, jika ia tiba-tiba datang membuka cerita bagaimana tidak rindu, jika ia terlihat begitu dekat bagaimana tidak rindu, jika setelah lama menanti dan menerah akhirnya dapat jawab tetapi ... datangnya tidak sesuai. datangnya terlambat. yang paling mengerti, tidak semengerti itu kesalahan menjadi sesal yang dalam aku bisa apa? hanya merindu yang lalu. tak berani untuk memilih karena sudah kucoba untuk tutup lembar itu ingin bertegur, takut hanya semakin membuatnya luka tuhan, aku hanya rindu. dan itupun dariMu. meski hanya sempat, terima kasih sudah datang kembali rindu yang sempat kabur mencari ..

katakan

pujangga, katakan padaku apa yang ingin kudengar. pujangga, perlakukan aku seperti bagaimana aku ingin diperlakukan. jangan biarkan orang lain melakukannya. jangan biarkan ada senyum sesal diwajahmu. pujangga, apa kau ingin menggenggam tanganku? atau kau hanya ingin menyentuh tepiannya? pujangga, apa sudah luluh hatimu yang sempat mengeras? apa sudah berakhir sandiwara diantara kau dan kebingunganmu? sampai kapan kau ingin dikejar? atau memang aku yang terlalu ingin mengejar? pujangga, yakinkan aku. karena aku butuh kata, bukan hanya sikap yang kadang anomali.

Senyum malu

hanya dengan mengetahui ia ada, aku tersenyum hanya dengan mengetahui ia berada di sekitar, aku tersenyum. siapa? jangan tanyakan siapa. karena kau pasti tau siapa. kau. kau yang hadir dengan senyum manja itu, dengan pandang sendu itu. aku merindumu. aku merindumu meski beberapa waktu yang lalu kutatap kedua bola mata itu. aku merindumu. meski beberapa saat yang lalu raga kita hanya berjarak tak lebih dari satu meter jauhnya. aku merindumu, yang mungkin kini sedang terlelap. aku merindumu, yang mungkin kini sedang menikmati mimpi indah atau burukmu. senyummu masih tertinggal, di balik kelopak mataku. siap untuk kulihat lagi, disaat aku terlelap. selamat malam pujangga.

kedua kalinya

lembarnya terbuka lagi, terhenti di halaman dimana namanya mulai muncul. ia melambaikan tangan, mengajakku untuk melihat ulangan cerita yang pernah tertoreh. aku mengikuti, dengan perlahan. membiarkan ia berdendang. ia menceritakan semuanya, yang membuatku rindu kala itu. ia menceritakan semuanya, yang membuatku jatuh kedalam rasa hangat. lalu kupandang dirinya yang berbisik semu meminta pelukan selamat datang sekali lagi. aku memandangnya barang beberapa menit. beberapa tanya muncul. aku tak lekas menjawab, tapi membiarkan ia terus saja melambai tangan. apa iya ini jalannya? apa iya aku harus menerimanya lagi? bukankah sudah ada sosok lain yang kini hadir di pelataranku? lalu kenapa ia juga hadir dan membuka indah yang lalu? bagaimana dengan pahit yang selalu mengiringi? apa memang pantas? aku tersenyum, senyum yang entah bermakna apa. aku hanya tersenyum. karena aku tak tau. bolehkah kenangan yang lalu membuatku lagi-lagi dilema? bolehkah aku terjun ke jurang yang su...

mereka, bukan sebatas teman.

mereka, bukan gadis kecil yang spesial awalnya. bersama kami menguatkan. bersama kami saling memeluk dalam duka, haru, bahagia. mereka, anak-anak yang kuat. mencoba bangkit meski tergerus polemik masing-masing. mereka, perhiasan terindah yang kumiliki selain keluarga. tangan mungil yang kini menjadi lentik tetap setia mengusap bahu saat sedang terluka. mereka, saling terpisah jarak. tapi saling mengingatkan dan menyayang. mereka berlian yang kutemui diantara beribu kapas yang menggulung mereka sahabatku, mereka ibuku, mereka ayahku, mereka adikku, mereka kakakku. mereka mencakup semua peran itu. ditengah dilema akan berat hidup masing-masing, mereka tak enggan untuk menoleh, sekedar menjadi pendengar. mereka keluarga lain yang kumiliki ditengah sedihku. mereka sosok yang begitu berharga disaat aku tak tau harus mengeluarkan cerita kemana. mereka tong sampah dalam segala bentuk. menampung cerita, menampung duka, menampung bahagia. mereka cintaku. mereka berharga. aku bers...

lindungi mereka Tuhan

tuhan, sungguh lucu bagaimana realita menghempas yakinku. kau pasti ingat, betapa di dalam sujud aku selalu mendendang namanya. kau pasti ingat, betapa aku sungguh memohon agar ia kembali pada ragaku yang butuh peluknya. betapa aku mengharap lelaki itu akan kembali tersenyum seraya mengatakan jika perjalanannya telah berhenti. ia telah sampai. dan ia pulang. tuhan, kau pasti ingat saat aku mulai menyerah dengan doa yang kukira tak pernah kau dengar. kau pasti ingat saat aku menyelipkan nama lain untuk melupakan dia. tuhan, lagi-lagi aku ingin memohon. ditengah kegundahan yang kini kurasakan. lindungi mereka, lindungi orang yang kusayangi. lindungi mereka meski mereka melukai. lindungi dan sayangi mereka meski mereka tak jarang membuat kesal. hanya saja aku tak bisa memeluk mereka lagi. tidak hingga kau memutuskan siapa yang mengisi genggamku. disaat yang tepat sampai saat itu datang, kumohon bantu aku untuk menjaga mereka tuhan.

pujanggaku merajuk

pujangga, bukan siapa-siapa. hanya seorang teman yang kusayang hanya seorang lelaki yang berjuang dengan caranya sendiri. pujanggaku mendekat, lalu menjauh. pujangga sering melakukan apapun sesuai inginnya. tak peduli orang lain menerima atau menolak. pujangga tiba-tiba hadir, merajuk, kesal. kenapa? aku tidak tau, karena kadang pujangga tak bisa dibaca. pujangga bukan siapa-siapa, inginnya banyak, dan selalu ingin dimengerti. pujangga membuatku bingung, kadang ketegasannya muncul, kadang ia luluh lagi. pujangga tak khayal seperti anak kecil. merajuk lalu mulai berlaku seolah tak ada yang terjadi. pujangga memang suka seperti itu. tapi dia unik. pujangga pernah membuatku seolah punya sayap, tapi ia juga yang membuat sayapku patah. ia tak lebih dari seorang pemimpi. pemimpi yang tangguh. ia buka dunia yang belum pernah kumasuki sebelumnya. ia bimbing, lalu ia tiba-tiba pergi. yah, memang begitulah pujangga.

pujangga, kau penuntut ulung.

berbincang denganmu mungkin butuh energi lebih. mungkin butuh lebih banyak pemahaman. mungkin juga butuh lebih banyak pengorbanan. mungkin. kenapa? karena kebebasan yang kau inginkan. dan keegoisanmu untuk meminta mereka mengerti. ingatkah kau bagaimana kau pinta aku untuk jadi sosok tak berperasa? jika kau kira itu mudah, kau salah. ingatkah kau bagaimana aku harus mencoba menerima kepikunanmu? jika kau kira aku tak menghela napas panjang saat mengetahuinya, kau salah besar. jika itu caramu untuk menguji. kau salah. tak harusnya kau menguji rasa. bukan seperti itu caranya. dari tak berperasa, kini lagi-lagi kau menuntut. tak ingatkah kau jika kau tak suka dituntut. lalu mengapa kau menuntut dariku? oh ayolah, renungkan. tak perlu aku berujar bagaimana caramu memaksa. aku diam. meski kau tempa. aku diam. meski kadang seperti kau jadikan boneka teddymu. aku diam. meski kau selalu berbuat sesukamu. aku diam. hingga aku kebas. aku diam. hingga aku merasa benar-benar tak...

yang lalu kembali

yang lalu masih terasa hangat. meski tidak lagi terkepul yang lalu masih teringat. meski tak lagi tegas dan sedikit mangkak. yang lalu datang. membawa salam. membawa sesal. yang lalu datang. membawa rasa. membawa nostalgia. membawa kenangan lalu. yang lalu datang. mengombang ambingkan diri. yang lalu, kenapa kau datang? apa sudah lelah kau berkelana? apa akhirnya kau merasa jika ragaku yang ringkih ini yang bisa memelukmu? apa kau pikir tubuh mungil ini yang bisa mencambukmu menjadi lebih baik? yang lalu, kenapa kau datang? ingin menghapus luka dan memperbaiki, atau sekedar menyapa? ingin meyakinkan dan berusaha, atau sekedar singgah sebentar? yang lalu, mengapa kau berdendang lagi? ingin membuatku yakin dan meminta maaf atau hanya sekedar mengeluarkan angan? ingin melihat reaksi atau tulus memohon agar dimaafkan? yang lalu, jangan katakan sayang. jangan katakan harapan taukah kau, aku tak tau lagi. mana yang dulu kusebut sayang. mana yang kurasa cinta. aku buta. dan ...

aku senang. meski hanya sebatas itu.

aku senang melihat caranya berbicara. aku senang melihat ia tertawa aku senang melihat caranya berdendang. aku senang melihat gurat aneh yang ada di wajahnya tiap kali ia mulai berekspresi aneh aku senang melihatnya berteori aku senang melihat geriknya yang kadang tak biasa. geriknya yang aneh. geriknya yang tak mudah kutebak. aku senang, meski ada jarak diantara kita aku senang, meski hanya dijadikan sampingan aku senang, meski hanya dijadikan bahan untuk pembicaraan aku senang, asal ia bisa tertawa selepas itu. asal ia bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. asal ia bisa terlihat seperti dirinya sendiri. aku senang..

firasat

seperti buku yang kutulis, lalu kubaca dan nelangsa sendiri tertawa sinis seraya merasa bodoh pada diri sendiri selalu saja memilih dengan kepercayaan penuh selalu saja memilih sosok yang belum tentu membalas peluk tulusku yah, punggung itu. dengan jelas ia semakin bias langkahnya menapak keluar, sedang aku masih termangu. tertunduk memandang bayangnya menghilang senyumnya masih tergambar jelas, seolah hendak meloncat ke jurang kenangan pilihan, pertama atau kesekian itu tetap sebuah pilihan apa benar aku sudah membaca semuanya dengan jelas? apa tidak ada yang terlewat darinya? satu bait, dua bait? apa benar firasat burukku terjawab? apa benar kau masuk kedalam deretan firasat burukku? oh ayolah pujangga, jangan buat aku menampar diriku sendiri jangan kau rontokkan bulu percayaku yang sudah kususun sedemikian rapi jangan kau porak-porandakan potongan puzle yang kunamai dengan bait tentangmu sungguh, meski aku berkata jangan aku tetap tak bisa berkutik aku tetap mencint...

dalam sayup, kuberbisik

tak apa, meski kau terlihat abuabu tak apa, meski kau tak seperti buku yang biasa kubaca. tak masalah, jika niatmu berbeda denganku. semuanya akan ada balasannya. aku tulus, mungkin tulusku bisa merangkulmu dari jauh lewat sayup doaku yang terdendang namamu. mungkin juga tulusku bisa membelai rambut gelombangmu, dikala kau ingin terlelap. meski aku berjalan sendiri, tanpamu disisi. cukup dengan memandang senyum dan tawa itu. diujung jarak yang ada, aku yakin aku bisa menyapamu. meski dalam bisik hatiku yang kadang tak kau dengar. siapapun yang berdusta, nantinya akan menyesal. maka dari itu, aku tak mau berdusta. aku mencintaimu. pujangga.

aku terbang

jelas, jelas kudengar. jelas, meski merunduk malu. jelas. gelitik sikapnya, aku ingin tersenyum. aku ingin melihatnya. tapi aku menahannya, meski sesekali menatap. gemerincing suaranya, serak, tapi jelas. dadaku memompa lambat, berirama, susunan yang indah. ia bangkit, kukira akan menyapa, tapi tidak. lagi dan lagi ia nampak tersipu, aku penasaran. ia siap berdendang, meski sedikit berantakan. ia berdendang jua. sepetik dua petik ia mainkan nada, mengalun di telingaku. ah, lihat aku. aku melihatmu. lihat aku, aku selalu memandangmu. lihat aku, aku akan menunggumu. lihat aku, seolah aku bisa terbang. yah, sedetik saat kau dendangkan itu, aku ingin terbang. aku ingin terbang bersamamu.

pencipta jarak

purnamaku menangis, kelu rasa hati. sebab ku tak mengerti mengapa tetapi leleh menuruni wajahku tangis ini wahai pencipta jarak, mengapa kau tega? membolak balikkan hati yang dirundung sepi dan rindu mengapa kau buka tabir itu dan menciptakan jarak disana? meninggikan dinding yang sempat terkikis oleh waktu. ringkih aku memandang dengan nestapa dihadap dinding itu tak bisakah kutembus? lalu mengapa kau masih mencuri pandang? adakah aku hanya seonggok kerang kering ditepian pantai? wahai kau yang kini mencipta jarak, apakah kau ingin pergi? adakah ini isyarat darimu untuk melangkahkan kaki kearah yang berlawanan? adakah ini tanda darimu jika kau tak memilihku? adakah ini jawaban jika sukamu hanyalah perasaan yang bisa berlalu bagai fatamorgana? kumohon. jangan lebarkan jarak ini. sungguh aku jengah. sungguh itu menyiksa. karena aku hanya ingin memandang tawamu, dan menangkap tatapan hangatmu menuju kearahku.

kau adalah aku

kau selalu berbuat gegabah. kau selalu berbuat bodoh. pikirkan dulu sebelum melangkah, atau lebih baik asal saja dengan hati tangguh? lihat genggammu, apa yang kini kau genggam? tak ada. kau melepas yang baik, dan kau coba menggenggam yang semu. kau bodoh. dan hatimu belum sembuh betul. kau merusaknya lagi, karena pilihanmu yang berdasar hati bopeng terburu-buru, mungkin bisa jadi begitu nyatanya. dan lagi-lagi kau gali lubangnya, ditanah yang sama. mungkin berdampingan dengan lubang yang lama. apa kau mau mengubur diri lagi? dasar bodoh. jangan menyesal. itu tak ada guna. perbaiki, itu yang bisa kau lakukan. tak perlu lagi menoleh, mencari dia atau dia yang lain. kau hanya perlu berdiri. melangkah, maju. meski sendiri. karena memang itu yang kini bisa kau lakukan. bukan menunggu sesuatu yang menghentikan langkahmu. bukan menanti sosok yang membuatmu terkubur sedikit demi sedikit. seratus kalipun kukatakan kau tak kan paham. seratus kalipun kudendangkan kau tak akan pedu...

lihat, dan katakan dengan jelas.

apa mungkin yang selama ini kudengar hanyalah omong kosong belaka. apa mungkin beberapa hal yang kau dendangkan hanyalah kalimat yang muncul dikala kau sepi ? atau mungkinkah aku salah mencerna semua kata-kata yang kau utarakan padaku ? entah. dan lagi, lagi lagi aku merasa seperti saat itu. yah, saat dimana suasana jadi se-aneh hari ini. bukan enggan untuk menyapamu, hanya saja aku ragu. bukan takut untuk memandangmu, tapi kurasa kedua bola matamu tak kan balik memandang bukan berusaha untuk melupakan, karena semuanya berputaran di kepalaku. ada apa denganmu? atau mungkin ada apa denganku? sejenak aku berharap kau tak pernah mengatakan semua kata itu. sejenak aku berharap kau tak pernah mencoba untuk berjalan di lembarku. sejenak, sejenak sekali aku berharap aku tak pernah mencoba untuk menghancurkan dindingmu. sejenak, sebelum akhirnya aku membiarkan pengharapanku tak terjawab lagi. kau indah, indahmu tersembunyi, dan aku mencoba untuk menerobos, mencoba untuk melihat sesuat...

kisah yang lalu

hai kau yang lalu, bagaimana kabarmu? bagaimana keseharianmu? apa kau bahagia? apa mungkin kau sedang bersedih? atau mungkin marah dan kecewa? atau kau sedang tidak merasakan apapun? hari ini aku mencoba menghapusmu. hari ini aku mencoba untuk berjalan maju. bukan. bukan menghapusmu, mungkin mengikhlaskan adalah kata yang lebih bagus. memori yang tergambar pada setiap jepret foto itu bisa saja kuhapus dengan mudah. bagaimana dengan apa yang tergambar diangan? tak semudah itu. tapi aku hanya mencoba menerima. kau tau, diriku masuk kedalam lubang yang kita gali bersama. tapi kau terlebih dulu keluar. sedangkan aku masih tertinggal didalam. dengan kepayahan, aku mencoba untuk keluar. susah sekali. kau tau, aku mencoba untuk menemukan dirinya yang lain. dan aku menemukannya. meski belum utuh. begitu pula denganmu kan? dengan kekasih barumu. apa kau bahagia dengannya? hai kau yang lalu, kenapa kau bisa sejahat ini denganku? tidakkah kau ingat ucapanmu saat itu. tidak, aku tida...

pujangga, dengarkanku sejenak

pujangga, aku pernah mencinta hingga rasanya mau mati. pujangga, aku takut. mungkin melebihi rasa takut yang kau rasakan. dan aku ingin lalui itu pujangga. tau kah kau bagaimana sesaknya dulu? tapi aku masih sesekali menoleh jika merindu. pujangga, apa aku bodoh? yah, kurasa aku sangat bodoh. pujangga, jawab aku dengan tutur kata indahmu sekali lagi. buat aku percaya, buat aku merasa ikhlas. menjadikan yang lalu sebuah kisa lalu, dan menjadikannya kisah untuk menuju kedewasaan. pujangga, lihat aku. meski hanya sejenak. tak adakah rasamu ingin melindungi? pujangga, kumohon. jangan jadi pria brengsek sepertinya. karena jika kau juga begitu, mungkin rasa percayaku akan benar-benar hancur sepenuhnya.

ia tak pernah membaca, ia tak pernah mengerti

tak peduli jika orang lain berkata aku bodoh, hanya karena menyayangi sosok yang bahkan tak peduli padaku. memangnya semua harus berbalas? tidak. karena hal itu bukan prioritas saat ini. aku hanya menyayang, aku yakin nantinya ada jawabnya. hati yang keras tak selamanya menjadi keras. boleh saja kau berujar, boleh juga aku bertindak. karena semua memiliki penilaiannya masing-masing. pujangga tertunduk, aku disisinya. mengamati tanpa ia sadari. banyak kata yang kututurkan untuknya, meski tak selalu ia dengar dan ia baca. tak apa, aku tak memaksa. 'hei' itu sapaan yang selalu ingin kuutarakan saat bertemu dengannya. tapi aku tak bisa. kadang hanya bisa membisu sembari memandang. aku malu. kadang ia pun mencuri pandang, aku tau. hanya seperti itupun aku sudah sangat bersyukur. karena sayang yang kumau bukan yang 'memaksakan untuk ada'. tapi memang 'karena itu ada'. pujangga, bagaimana pagimu? sedang menyibukkan apa kau pagi ini? pernahkah terlintas dibenakmu a...

kelabu

beberapa waktu berlanjut, masih tergambar wajahmu diangan. potongan-potongan ingatan tentang bagaimana kau jalani harimu, ada atau tak ada diriku. taukah kau? dirimu menjadi salah satu bagian spesial dalam diriku. penyalur rasa bahagia sekaligus rasa kecewa. aku meragu pujangga, dirimu semakin terlihat kelabu. kenapa? bisa kau jelaskan padaku kenapa? apakah ini hanya sepenggal kisah yang lagi-lagi akan terputus ditengah persimpangan? kau tau, kau yang memegang bolanya. dan aku yang berputaran disekitarnya. bodohnya.. bayangku mengabur, dirimu berdiri di persimpangan jalan, tersenyum ikhlas memandang alam disekitarmu. damai. aku ikut tersenyum, sendu tapi. karena kau jauh. belum bisa kugapai. seolah aku hanya menggenggam udara yang berada di sekelilingmu. genggam semu yang sewaktu-waktu akan hilang juga. aku merindumu, tidakkah kau tau? tunggu aku. diujung jalan itu. kejar aku jika saatnya tiba, atau mungkin lebih baik kita saling mengejar dan mempertemukan?

ha-lo

hai kau yang sedang berundung muram, berselimutkan aura hitam yang membuatku sedih. dimana tawamu? dimana semangatmu? dimana goda dan rayumu? dimana semua kekonyolanmu pergi? apa ini saat yang berat bagimu? ada apa? kemarilah, raih telapak tanganku yang terbuka lebar untukmu. tersenyumlah, tidakkah kau lihat betapa terik matahari siang ini? tidakkah kau tau jika mentari sedang berbahagia? ia tidak sedang malu-malu seperti sore kemarin. ia tak merona, tapi sedang terkekeh memandang makhluk bumi. dan mengapa kau tak ikut terkekeh bersama? meski sinarnya kadang membakar kulit? bahkan jika kau tak percaya, gurat tinta diata lembarku yang sengaja kubuat berantakanpun masih bsia menunjukkan seulas senyum, kau bisa. karena ini bukan yang terberat, tetapi tetap harus dilalui. dengan senyuman :)

bersama senja

bersama gradasi sinar mentari sore ini, kulihat lagi parasmu. lagi-lagi kupandang wajah letih itu. mengapa? inginkah kau untuk bertutur? atau hanya menikmati semilir angin yang menabrak tubuhmu yang mulai gontai? bibirku mencoba untuk menunjukkan seulas senyum, kau tak mungkin tau bagaimana rasanya jantungku memompa dengan kecepatan ekstrem. 'kamu dimana?' kata itu yang terngiang di satu, dua, tiga dan langkah seterusnya yang membawaku kearahmu. kumohon, demi apapun. jangan kau bersedih. dimana dirimu yang penuh dengan tawa itu? aku merindunya. dimana tutur kata bijak yang biasa kau dendangkan hingga membuat hatiku merasa syahdu? lihat aku pujangga, kau tak sendiri. kau tak perlu melihatku sebagai seseorang yang kau suka, lihat saja aku sebagai apapun yang kau mau. yang kau butuhkan. karena untuk kali kedua, aku tak mau mengacaukannya lagi. aku ingin menebus yang lalu. tidakkah kau lihat sinarnya semakin menggelap, berubah menjadi pendar warna orange, bercampur dengan warna ...

kamu tetap citpaanNya yang sempurna

mungkin kau rasakan apa yang kurasakan. tetapi berbeda. perasaanmu mungkin tidak sekompleks milikku. rasamu tak sespesial yang kupunya. tapi kau tetap makhlukNya yang kupuja. tak peduli wajah kusutmu saat lelah, tak peduli wajah kucelmu saat terbangun dari tidurmu. tak peduli ujung rambutmu yang acak-acakan atau sengaja kau kuncung meski tak tau apa alasannya. aku tetap suka, meski kadang ikut tergelitik. tak peduli apa yang mereka katakan tentangmu, aku yakin mereka hanya sebagaian orang sepertiku. yang tak benar-benar mengenalmu dengan baik. bisa saja hanya menyuka atau membenci. tak ada yang tau. tapi aku bersyukur, aku bisa menyayangmu dengan semua hal yang kini kulihat, dengan semua hal yang kurasa saat aku berada di dekatmu. dengan semua ingatan yang dulu coba untuk kututup meski tau aku terlalu membodohi perasaan yang mulai tumbuh. yah... semuanya akhirnya berbalik lagi. aku masih memujamu, aku masih mengagummu, dan aku masih menyayangmu. dengan rasa yang sama. dilembaran bar...

Mungkin Bodoh

pujangga, mungkin aku wanita bodoh. sedari dulu. pujangga, aku menyayangmu. dengan semua ambisi dan kelembutan yang tak semua orang lihat dibalik kerasmu. pujangga, aku tau nantinya lagi-lagi aku akan kecewa. tapi itu tak mematahkan inginku untuk memandang lelah wajahmu. pujangga, aku memang bodoh. dulu, kutanyakan pada bintang. kudongakkan wajahku dan berharap langit akan menyampaikan rinduku pada semesta. kuharap semesta bisa membuatmu merasakan rinduku. aku bodoh. karena itu pastilah mustahil. aku bodoh karena mencintamu saat itu, karena ada genggam lelaki lain yang menahanku. tapi kini, aku ingin mencintamu dengan sempurna. sesempurna semesta yang kita tempati. bukan mengapa, senyum sendumu membuatku luluh. ucapanmu membuatku tenang. meski kau masih meragu, aku hanya bisa berdoa. karena sedari dulu, sesuatu yang kucoba untuk menimbun dalam-dalam tak pernah benar-benar mau untuk hanya dijadikan sebuah kisah lalu.