Langsung ke konten utama

aku disini

jarum jam terus berputar. aku dan kamu tetap melangkah.
meski langkah kita tak selaras dulu.
mereka yang disekelilingmu mungkin juga mencintamu.
tetapi jangan kau samakan dengan rasaku yang masih terendap.
bagi mereka, mungkin kau lelaki dengan tawa manis dan wajah tampan.
bagiku, kau pemilik janji semu yang kini entah berlaku atau kadaluarsa.
yang mereka lihat mungkin penampilan atau jabatanmu.
yang kulihat senyum centil dengan potongan rambut ala wanita kala itu.
badan keceng yang mencoba berdiri tegap meski bahumu terasa sangat berat untuk menopang.
kelopak mata hitam kebanyakan begadang untuk sekedar nonton anim dan bersenda gurau.
gigi marmut kecil dibagian paling depan dengan hidung mancung besar.
bayangan sosokmu yang kadang bergumal di anganku.
aku melihatmu sebagai sosok kala itu.
sepertinya masih terpaku dengan hangat pelukmu tempo itu.
bukan mereka tak mengenalmu, tapi aku lebih tau kamu.
kenangan yang tinggal memori kadang terasa lucu.
bagaimana kita bisa selalu sampai pada titik argumen yang berbeda.
tapi kita selalu menemukan cara untuk menyelaraskan.
hanya saja itu dulu, sebelum keyakinanku kau goyahkan dengan seketika.
aku mencintamu yang dulu. lelaki yang kurasa sederhana.
dengan mimpi-mimpi yang selalu coba kau gapai.
dan aku yang mencoba menjunjungmu ke atas meski tak kentara.
tak perlu risau jika ingin pergi. kau masih ingin menjelajah.
kau selalu begitu bukan? lagi-lagi ego.
tak jarang ego hanya membuat kita sama-sama terluka
dan entah seberapa keras kepalanya, nampaknya kau akan menyerah jua.
tak perlu tanyakan bagaimana rasa.
jika hadirmu saja sudah bisa kuterima.
mengapa masih bertanya adakah rumah ini masih kosong?
meski sempat terisi, penghuni lain tak benar-benar ingin masuk.
rasa akan muncul jika kau mau percaya.
jalan akan terbuka jika yakinmu sudah mantap.
tak perlu risau, aku disini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...