jarum jam terus berputar. aku dan kamu tetap melangkah.
meski langkah kita tak selaras dulu.
mereka yang disekelilingmu mungkin juga mencintamu.
tetapi jangan kau samakan dengan rasaku yang masih terendap.
bagi mereka, mungkin kau lelaki dengan tawa manis dan wajah tampan.
bagiku, kau pemilik janji semu yang kini entah berlaku atau kadaluarsa.
yang mereka lihat mungkin penampilan atau jabatanmu.
yang kulihat senyum centil dengan potongan rambut ala wanita kala itu.
badan keceng yang mencoba berdiri tegap meski bahumu terasa sangat berat untuk menopang.
kelopak mata hitam kebanyakan begadang untuk sekedar nonton anim dan bersenda gurau.
gigi marmut kecil dibagian paling depan dengan hidung mancung besar.
bayangan sosokmu yang kadang bergumal di anganku.
aku melihatmu sebagai sosok kala itu.
sepertinya masih terpaku dengan hangat pelukmu tempo itu.
bukan mereka tak mengenalmu, tapi aku lebih tau kamu.
kenangan yang tinggal memori kadang terasa lucu.
bagaimana kita bisa selalu sampai pada titik argumen yang berbeda.
tapi kita selalu menemukan cara untuk menyelaraskan.
hanya saja itu dulu, sebelum keyakinanku kau goyahkan dengan seketika.
aku mencintamu yang dulu. lelaki yang kurasa sederhana.
dengan mimpi-mimpi yang selalu coba kau gapai.
dan aku yang mencoba menjunjungmu ke atas meski tak kentara.
tak perlu risau jika ingin pergi. kau masih ingin menjelajah.
kau selalu begitu bukan? lagi-lagi ego.
tak jarang ego hanya membuat kita sama-sama terluka
dan entah seberapa keras kepalanya, nampaknya kau akan menyerah jua.
tak perlu tanyakan bagaimana rasa.
jika hadirmu saja sudah bisa kuterima.
mengapa masih bertanya adakah rumah ini masih kosong?
meski sempat terisi, penghuni lain tak benar-benar ingin masuk.
rasa akan muncul jika kau mau percaya.
jalan akan terbuka jika yakinmu sudah mantap.
tak perlu risau, aku disini.
meski langkah kita tak selaras dulu.
mereka yang disekelilingmu mungkin juga mencintamu.
tetapi jangan kau samakan dengan rasaku yang masih terendap.
bagi mereka, mungkin kau lelaki dengan tawa manis dan wajah tampan.
bagiku, kau pemilik janji semu yang kini entah berlaku atau kadaluarsa.
yang mereka lihat mungkin penampilan atau jabatanmu.
yang kulihat senyum centil dengan potongan rambut ala wanita kala itu.
badan keceng yang mencoba berdiri tegap meski bahumu terasa sangat berat untuk menopang.
kelopak mata hitam kebanyakan begadang untuk sekedar nonton anim dan bersenda gurau.
gigi marmut kecil dibagian paling depan dengan hidung mancung besar.
bayangan sosokmu yang kadang bergumal di anganku.
aku melihatmu sebagai sosok kala itu.
sepertinya masih terpaku dengan hangat pelukmu tempo itu.
bukan mereka tak mengenalmu, tapi aku lebih tau kamu.
kenangan yang tinggal memori kadang terasa lucu.
bagaimana kita bisa selalu sampai pada titik argumen yang berbeda.
tapi kita selalu menemukan cara untuk menyelaraskan.
hanya saja itu dulu, sebelum keyakinanku kau goyahkan dengan seketika.
aku mencintamu yang dulu. lelaki yang kurasa sederhana.
dengan mimpi-mimpi yang selalu coba kau gapai.
dan aku yang mencoba menjunjungmu ke atas meski tak kentara.
tak perlu risau jika ingin pergi. kau masih ingin menjelajah.
kau selalu begitu bukan? lagi-lagi ego.
tak jarang ego hanya membuat kita sama-sama terluka
dan entah seberapa keras kepalanya, nampaknya kau akan menyerah jua.
tak perlu tanyakan bagaimana rasa.
jika hadirmu saja sudah bisa kuterima.
mengapa masih bertanya adakah rumah ini masih kosong?
meski sempat terisi, penghuni lain tak benar-benar ingin masuk.
rasa akan muncul jika kau mau percaya.
jalan akan terbuka jika yakinmu sudah mantap.
tak perlu risau, aku disini.
Komentar
Posting Komentar