udara menghangat. sinar mentari masuk melalui cela pintu yang tertutup
masih bergumul dengan tanya, diam-diam kau memaki.
aku bertanya dalam sepi pagi ini.
setelah tak kudengar lagi sayup suara masjid menyeru.
kenapa kau ngotot?
apa kau merasa bersalah?
atau hanya ingin membenarkan tindakan?
mataku berkaca pada langit pagi ini.
mencoba tersenyum meski entah terasa berat.
tanganku mencoba menggapai.
angin yang tak berasa seolah ia tak lewat
bayang seklebat muncul.
kau yang duduk diam dengan wajah keras.
mungkin sedang berfikir sembari mengingat.
yah, jalan saja seperti kau yang biasa.
aku tidak risau dengan tindakanmu yang lalu.
jadi tak perlu kau bawa beban.
bukankah kau selalu seperti itu?
aku menengadah ke langit.
Tuhan, kau tau jika pionmu ini selalu berbuat salah.
tapi kau tetap menyayangi kami.
tidak bisakah pionmu ini juga melakukan hal yang sama?
masih bergumul dengan tanya, diam-diam kau memaki.
aku bertanya dalam sepi pagi ini.
setelah tak kudengar lagi sayup suara masjid menyeru.
kenapa kau ngotot?
apa kau merasa bersalah?
atau hanya ingin membenarkan tindakan?
mataku berkaca pada langit pagi ini.
mencoba tersenyum meski entah terasa berat.
tanganku mencoba menggapai.
angin yang tak berasa seolah ia tak lewat
bayang seklebat muncul.
kau yang duduk diam dengan wajah keras.
mungkin sedang berfikir sembari mengingat.
yah, jalan saja seperti kau yang biasa.
aku tidak risau dengan tindakanmu yang lalu.
jadi tak perlu kau bawa beban.
bukankah kau selalu seperti itu?
aku menengadah ke langit.
Tuhan, kau tau jika pionmu ini selalu berbuat salah.
tapi kau tetap menyayangi kami.
tidak bisakah pionmu ini juga melakukan hal yang sama?
Komentar
Posting Komentar