Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cinta

waktu

waktu membuka tabir mata dan hatiku. bagaimana sesuatu tumbuh dan berkembang. tetapi yang kutau, waktu seolah berjalan lambat. seolah nyadat dan tak lagi ingin memutar pegasnya. waktuku terhenti di momen dimana aku bisa menyentuh gurat wajahnya, tanpa merasa akan menadapat balasan kosong dari udara. karena sosoknya nyata didepan muka. rasa-rasanya juga waktu berhenti di situasi saat aku bisa mendengar kekehan itu secara langsung. waktuku terhenti di momen pertengkaran yang seolah menjadi pelengkap kejenuhan. waktuku terhenti, di saat kamu dan aku tak terpisah oleh kilometer yang kelewat jauh. pemegang kendali seolah tak lagi menjadi milikku. gambling karena situasi dan rasa takut. waktu ... haruskah menjadi pemecah sekaligus penyatu?

bisakah kau dengar sebentar

adakah aku salah mengira yang telah ada? adakah aku salah menilai jika kamu yang memang seharusnya kutunggu? aku tau, kau tak pernah benar-benar lakukan apa yang kulakukan. kadang sedikit ketulusan, dan ada beberapa rentet keterpaksaan. kamu selalu sukses membuatku merasa bahagia sekaligus merana. kamu selalu sukses membuatku merasa jika saya hanya seseorang yang akan kau panggil jika tubuhmu mulai lemas, semangatmu mulai luntur, dan bahumu sudah tak kuat menopang. tapi adakah kau peduli denganku? dengan apa yang bergejolak dalam dada dan anganku? tentangmu. kita berjarak, seperti yang lalu-lalu, dan aku seolah sudah lama mengenalmu jauh dari waktu yang bergulir diantara kita kini. kau disana, dan aku disini. dalam bentang kilometer yang tak bisa dibilang dalam takaran angka ribuan. hatiku pernah hancur. lebur. masih dengan bongkah kepingan tentangmu. senyum terpapar, meski hati kelu, dan angan meloncat-loncat mencarimu. sedang apa kamu. sedang dimana dirimu. apa kau sehat. bagai...

kataku

aku tak pandai mengucap kata. hanya bisa merangkai beberapa kata untuk kau baca. aku kesal dengan keadaan, kesal dengan cibiran mereka, kesal dengan tanggapanmu, kesal dengan jarak yang tak juga mendekat, kesal dengan kepekaanmu yang kadang setipis tissue, kesal dengan semua hal yang bersangkutan dengan 'Kamu'. mereka bisa bilang ini itu, dan aku tak akan peduli. setidaknya itu yang kubuat tekat. tapi nyatanya aku salah. apapun ucapannya, apapun gelagat tingkahnya yang tiba-tiba mencuat, apapun hal baru yang kuketahui setelah kepo sana sini hanya membuat rasaku terenyuh. 'ah ayolah, kau kenal dia. kau tau apa alasan yang akan ia utarakan' karena aku tau semua itu, maka aku tak bisa diam tanpa menggingiti bagian bawah bibirku. tak bisa hanya tersenyum tanpa membiarkan akalku meloncat kesana kemari. dewasa. bagaimana kabar dari kedewasaan itu? kenapa ia tak kunjung tumbuh dalam roman percintaan yang kadang membuatku muak dan ingin pergi saja. melihat sosoknya seol...

bagaimana?

bagaimana jika aku hanya ingin dengannya? bagaimana jika aku hanya memaksakan egoku untuk tinggal? bagaimana jika semua ini hanya demi kebahagiaanku saja? bagaimana jika dia tidak? bagaimana jika ternyata ia tak merasakan hal yang sama? haruskah aku melepas lagi? sesuatu yang sangat ingin kudekap untukku sendiri? sesak. sesak sekali rasanya. seperti ada sesuatu yang tertahan dan tak terungkap. hanya saling melukai dan akhirnya saling terdiam dengan diri masing-masing. aku meringkuk dalam kelu dan membiarkan anganku berlarian ganas. melompat kesana kemari berfantasi akan sesuatu yang tak pasti. ada kemelut emosi yang menderu ingin meledak. kedua mataku nanar tapi tak jua terlinang air mata. rasa kecewa dan marah membumbung di dada. aku harus apa? tak ingin kejadian beberapa tahun silam datang dan buatku sesak seperti sekarat. aku tak ingin mati dalam dekap tanganku sendiri.

dua jalan

kubuka lenganku lebar, tapi kau seolah ingin lebih dari peluk pengap. kubasuh pilumu pelan, tapi seolah kau tampis dengan kata kelumu. kubuat siasat hanya untuk buatmu tersenyum lupakan bebanmu, tapi seolah kau hanya tersenyum sinis memandang tingkah bodohku. kau, iya kau. matamu seolah bisa tercongkel keluar padahal hanya kubaca sekilas pesan sinismu. kututup rapat katub bibirku dari pada mendengar teriakanmu karena tak selaras. disaat kuingin kau memelukku barang sedetik. yang kudapat hanya keluhmu dan akhirnya kusingkirkan manjaku. dua jalan nampak jelas didepan. kamu dan aku hanya menatap nanar. kamu berjalan berbalik. bukan memilih dua jalan itu. dan aku? hanya diam. tanpa alasan.

kamu. dan lagi-lagi kamu.

ragaku meringkuk memeluk rindu yah, rindu yang seolah tak terjawab karena belum tiba masanya berjumpa sembari meringkuk kutatapi jemari kakiku bayangan akan jemari besarmu yang mengganggu milikku tiba-tiba mencuat memainkan lembutnya pasir yang sedikit bercampur air ditepian pantai ujung jemari kita tak berjarak, begitu juga dengan bahuku yang bersandaran di dadamu panasnya mentari bercampur dengan panasnya cinta yang sedang bertumbuh lenganmu mendekap raga mungkilku seolah tak enak hati untuk melepasnya dan kubiarkan kenangan itu menjalari seluruh indraku hai kau, yah lagi-lagi kau. tak jua jengah kau buatku terganggu membuatku meringis seperti orang gila di tengah sepi membuat degup jantungku berpacu kala kutatap kedua bola mata itu anehnya hangat dekapmu bisa membuat semuanya kembali berjalan normal. yah, seaneh itu.

aku disini

jarum jam terus berputar. aku dan kamu tetap melangkah. meski langkah kita tak selaras dulu. mereka yang disekelilingmu mungkin juga mencintamu. tetapi jangan kau samakan dengan rasaku yang masih terendap. bagi mereka, mungkin kau lelaki dengan tawa manis dan wajah tampan. bagiku, kau pemilik janji semu yang kini entah berlaku atau kadaluarsa. yang mereka lihat mungkin penampilan atau jabatanmu. yang kulihat senyum centil dengan potongan rambut ala wanita kala itu. badan keceng yang mencoba berdiri tegap meski bahumu terasa sangat berat untuk menopang. kelopak mata hitam kebanyakan begadang untuk sekedar nonton anim dan bersenda gurau. gigi marmut kecil dibagian paling depan dengan hidung mancung besar. bayangan sosokmu yang kadang bergumal di anganku. aku melihatmu sebagai sosok kala itu. sepertinya masih terpaku dengan hangat pelukmu tempo itu. bukan mereka tak mengenalmu, tapi aku lebih tau kamu. kenangan yang tinggal memori kadang terasa lucu. bagaimana kita bisa se...

biarkan aku jatuh cinta

saat kedua kakiku menghujam diatas daratan. saat jemariku mencoba untuk menggenggam angin yang berlarian disekitarku. aku menikmati kesendirianku. aku menikmati sepiku. bersama lantun irama yang terngiang di gendangku. kuacuhkan semua cibir yang ada dibelakangku. kata yang hanya merusak suasana senjaku. kututup telinga dan mataku. menikmati sejuk dan wanginya udara sore ini. dengan gurat kasar dalam lembaranku. aku menggambarkan sosok seorang lelaki. tersenyum. senyum tertulus yang pernah kugoreskan dengan pena. perlahan kubiarkan wajahku terdongak. memandang langit keorangean yang indah. Tuhan. biarkan aku jatuh cinta PadaMu, dan juga segala keindahan yang sengaja kau ciptakan.

lepas.

Dalam hidupmu, kamu pasti pernah berharap waktu dapat dipercepat maupun diperlambat. disaat momen yang kau rasa buruk terjadi, kau selalu ingin memutar jarum jam lebih cepat dari kecepatan biasanya. sebaliknya, jika terjadi momen yang membuat harimu merona, jangankan bergerak lambat, kau ingin jarum jam berhenti seketika. agar kau bisa menikmati momen tersebut sedikit lebih lama. begitulah kita, manusia. ego kita kuat. dalam hal apapun. itu sudah wajar, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersedia untuk megontrol apalagi menyelaraskannya dengan orang yang ada disekitarnya. aku masih sangat ingat, bagaimana aku pernah mencoba untuk menuruti ego seseorang. yang kuharap disetiap pertemuannya, akulah pemegang kontrol play stop dari jam waktu. tapi itu tak mungkin. aku tunduk, yang terlintas hanya bagaimana aku bisa membuatnya bahagia. kebahagiaanku menjadi opsi kesekian, tak peduli apakah hatiku sudah tak berupa, atau nantinya aku hanya akan kecewa. aku tak peduli. hingga pada suatu mom...

aku juga mencintamu

dibawah langit berwarna jingga, aku memandangmu. teringat kata yang terlontar dan bergumul dalam imajiku. aku selalu suka caramu tertawa. aku selalu suka caramu memandang. aku selalu suka caramu berfikir dengan langkah yang tak terduga. pujangga, hari ini kau lambungkan lagi jejakku. kau biarkan aku menari-nari bebas seolah aku bisa saja melayang kau biarkan aku tersenyum hingga bibirku bisa saja kaku karena terlalu sering menarik keatas singkatnya, kau buatku bahagia. mungkin itu kata yang banyak mereka utarakan untuk apa yang kurasa. sederhana. sepertimu yang terlihat dihadapku. tersenyum manja mencoba untuk mengungkap rasa. bersikap hangat seolah ingin menunjukkan jika aku diterima. pujangga, terima kasih. aku juga mencintamu

katakan

pujangga, katakan padaku apa yang ingin kudengar. pujangga, perlakukan aku seperti bagaimana aku ingin diperlakukan. jangan biarkan orang lain melakukannya. jangan biarkan ada senyum sesal diwajahmu. pujangga, apa kau ingin menggenggam tanganku? atau kau hanya ingin menyentuh tepiannya? pujangga, apa sudah luluh hatimu yang sempat mengeras? apa sudah berakhir sandiwara diantara kau dan kebingunganmu? sampai kapan kau ingin dikejar? atau memang aku yang terlalu ingin mengejar? pujangga, yakinkan aku. karena aku butuh kata, bukan hanya sikap yang kadang anomali.

kedua kalinya

lembarnya terbuka lagi, terhenti di halaman dimana namanya mulai muncul. ia melambaikan tangan, mengajakku untuk melihat ulangan cerita yang pernah tertoreh. aku mengikuti, dengan perlahan. membiarkan ia berdendang. ia menceritakan semuanya, yang membuatku rindu kala itu. ia menceritakan semuanya, yang membuatku jatuh kedalam rasa hangat. lalu kupandang dirinya yang berbisik semu meminta pelukan selamat datang sekali lagi. aku memandangnya barang beberapa menit. beberapa tanya muncul. aku tak lekas menjawab, tapi membiarkan ia terus saja melambai tangan. apa iya ini jalannya? apa iya aku harus menerimanya lagi? bukankah sudah ada sosok lain yang kini hadir di pelataranku? lalu kenapa ia juga hadir dan membuka indah yang lalu? bagaimana dengan pahit yang selalu mengiringi? apa memang pantas? aku tersenyum, senyum yang entah bermakna apa. aku hanya tersenyum. karena aku tak tau. bolehkah kenangan yang lalu membuatku lagi-lagi dilema? bolehkah aku terjun ke jurang yang su...

yang lalu kembali

yang lalu masih terasa hangat. meski tidak lagi terkepul yang lalu masih teringat. meski tak lagi tegas dan sedikit mangkak. yang lalu datang. membawa salam. membawa sesal. yang lalu datang. membawa rasa. membawa nostalgia. membawa kenangan lalu. yang lalu datang. mengombang ambingkan diri. yang lalu, kenapa kau datang? apa sudah lelah kau berkelana? apa akhirnya kau merasa jika ragaku yang ringkih ini yang bisa memelukmu? apa kau pikir tubuh mungil ini yang bisa mencambukmu menjadi lebih baik? yang lalu, kenapa kau datang? ingin menghapus luka dan memperbaiki, atau sekedar menyapa? ingin meyakinkan dan berusaha, atau sekedar singgah sebentar? yang lalu, mengapa kau berdendang lagi? ingin membuatku yakin dan meminta maaf atau hanya sekedar mengeluarkan angan? ingin melihat reaksi atau tulus memohon agar dimaafkan? yang lalu, jangan katakan sayang. jangan katakan harapan taukah kau, aku tak tau lagi. mana yang dulu kusebut sayang. mana yang kurasa cinta. aku buta. dan ...

aku senang. meski hanya sebatas itu.

aku senang melihat caranya berbicara. aku senang melihat ia tertawa aku senang melihat caranya berdendang. aku senang melihat gurat aneh yang ada di wajahnya tiap kali ia mulai berekspresi aneh aku senang melihatnya berteori aku senang melihat geriknya yang kadang tak biasa. geriknya yang aneh. geriknya yang tak mudah kutebak. aku senang, meski ada jarak diantara kita aku senang, meski hanya dijadikan sampingan aku senang, meski hanya dijadikan bahan untuk pembicaraan aku senang, asal ia bisa tertawa selepas itu. asal ia bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. asal ia bisa terlihat seperti dirinya sendiri. aku senang..

firasat

seperti buku yang kutulis, lalu kubaca dan nelangsa sendiri tertawa sinis seraya merasa bodoh pada diri sendiri selalu saja memilih dengan kepercayaan penuh selalu saja memilih sosok yang belum tentu membalas peluk tulusku yah, punggung itu. dengan jelas ia semakin bias langkahnya menapak keluar, sedang aku masih termangu. tertunduk memandang bayangnya menghilang senyumnya masih tergambar jelas, seolah hendak meloncat ke jurang kenangan pilihan, pertama atau kesekian itu tetap sebuah pilihan apa benar aku sudah membaca semuanya dengan jelas? apa tidak ada yang terlewat darinya? satu bait, dua bait? apa benar firasat burukku terjawab? apa benar kau masuk kedalam deretan firasat burukku? oh ayolah pujangga, jangan buat aku menampar diriku sendiri jangan kau rontokkan bulu percayaku yang sudah kususun sedemikian rapi jangan kau porak-porandakan potongan puzle yang kunamai dengan bait tentangmu sungguh, meski aku berkata jangan aku tetap tak bisa berkutik aku tetap mencint...

dalam sayup, kuberbisik

tak apa, meski kau terlihat abuabu tak apa, meski kau tak seperti buku yang biasa kubaca. tak masalah, jika niatmu berbeda denganku. semuanya akan ada balasannya. aku tulus, mungkin tulusku bisa merangkulmu dari jauh lewat sayup doaku yang terdendang namamu. mungkin juga tulusku bisa membelai rambut gelombangmu, dikala kau ingin terlelap. meski aku berjalan sendiri, tanpamu disisi. cukup dengan memandang senyum dan tawa itu. diujung jarak yang ada, aku yakin aku bisa menyapamu. meski dalam bisik hatiku yang kadang tak kau dengar. siapapun yang berdusta, nantinya akan menyesal. maka dari itu, aku tak mau berdusta. aku mencintaimu. pujangga.

aku terbang

jelas, jelas kudengar. jelas, meski merunduk malu. jelas. gelitik sikapnya, aku ingin tersenyum. aku ingin melihatnya. tapi aku menahannya, meski sesekali menatap. gemerincing suaranya, serak, tapi jelas. dadaku memompa lambat, berirama, susunan yang indah. ia bangkit, kukira akan menyapa, tapi tidak. lagi dan lagi ia nampak tersipu, aku penasaran. ia siap berdendang, meski sedikit berantakan. ia berdendang jua. sepetik dua petik ia mainkan nada, mengalun di telingaku. ah, lihat aku. aku melihatmu. lihat aku, aku selalu memandangmu. lihat aku, aku akan menunggumu. lihat aku, seolah aku bisa terbang. yah, sedetik saat kau dendangkan itu, aku ingin terbang. aku ingin terbang bersamamu.

pencipta jarak

purnamaku menangis, kelu rasa hati. sebab ku tak mengerti mengapa tetapi leleh menuruni wajahku tangis ini wahai pencipta jarak, mengapa kau tega? membolak balikkan hati yang dirundung sepi dan rindu mengapa kau buka tabir itu dan menciptakan jarak disana? meninggikan dinding yang sempat terkikis oleh waktu. ringkih aku memandang dengan nestapa dihadap dinding itu tak bisakah kutembus? lalu mengapa kau masih mencuri pandang? adakah aku hanya seonggok kerang kering ditepian pantai? wahai kau yang kini mencipta jarak, apakah kau ingin pergi? adakah ini isyarat darimu untuk melangkahkan kaki kearah yang berlawanan? adakah ini tanda darimu jika kau tak memilihku? adakah ini jawaban jika sukamu hanyalah perasaan yang bisa berlalu bagai fatamorgana? kumohon. jangan lebarkan jarak ini. sungguh aku jengah. sungguh itu menyiksa. karena aku hanya ingin memandang tawamu, dan menangkap tatapan hangatmu menuju kearahku.

kau adalah aku

kau selalu berbuat gegabah. kau selalu berbuat bodoh. pikirkan dulu sebelum melangkah, atau lebih baik asal saja dengan hati tangguh? lihat genggammu, apa yang kini kau genggam? tak ada. kau melepas yang baik, dan kau coba menggenggam yang semu. kau bodoh. dan hatimu belum sembuh betul. kau merusaknya lagi, karena pilihanmu yang berdasar hati bopeng terburu-buru, mungkin bisa jadi begitu nyatanya. dan lagi-lagi kau gali lubangnya, ditanah yang sama. mungkin berdampingan dengan lubang yang lama. apa kau mau mengubur diri lagi? dasar bodoh. jangan menyesal. itu tak ada guna. perbaiki, itu yang bisa kau lakukan. tak perlu lagi menoleh, mencari dia atau dia yang lain. kau hanya perlu berdiri. melangkah, maju. meski sendiri. karena memang itu yang kini bisa kau lakukan. bukan menunggu sesuatu yang menghentikan langkahmu. bukan menanti sosok yang membuatmu terkubur sedikit demi sedikit. seratus kalipun kukatakan kau tak kan paham. seratus kalipun kudendangkan kau tak akan pedu...

lihat, dan katakan dengan jelas.

apa mungkin yang selama ini kudengar hanyalah omong kosong belaka. apa mungkin beberapa hal yang kau dendangkan hanyalah kalimat yang muncul dikala kau sepi ? atau mungkinkah aku salah mencerna semua kata-kata yang kau utarakan padaku ? entah. dan lagi, lagi lagi aku merasa seperti saat itu. yah, saat dimana suasana jadi se-aneh hari ini. bukan enggan untuk menyapamu, hanya saja aku ragu. bukan takut untuk memandangmu, tapi kurasa kedua bola matamu tak kan balik memandang bukan berusaha untuk melupakan, karena semuanya berputaran di kepalaku. ada apa denganmu? atau mungkin ada apa denganku? sejenak aku berharap kau tak pernah mengatakan semua kata itu. sejenak aku berharap kau tak pernah mencoba untuk berjalan di lembarku. sejenak, sejenak sekali aku berharap aku tak pernah mencoba untuk menghancurkan dindingmu. sejenak, sebelum akhirnya aku membiarkan pengharapanku tak terjawab lagi. kau indah, indahmu tersembunyi, dan aku mencoba untuk menerobos, mencoba untuk melihat sesuat...