lembarnya terbuka lagi, terhenti di halaman dimana namanya mulai muncul.
ia melambaikan tangan, mengajakku untuk melihat ulangan cerita yang pernah tertoreh.
aku mengikuti, dengan perlahan. membiarkan ia berdendang.
ia menceritakan semuanya, yang membuatku rindu kala itu.
ia menceritakan semuanya, yang membuatku jatuh kedalam rasa hangat.
lalu kupandang dirinya yang berbisik semu meminta pelukan selamat datang sekali lagi.
aku memandangnya barang beberapa menit.
beberapa tanya muncul. aku tak lekas menjawab, tapi membiarkan ia terus saja melambai tangan.
apa iya ini jalannya? apa iya aku harus menerimanya lagi?
bukankah sudah ada sosok lain yang kini hadir di pelataranku?
lalu kenapa ia juga hadir dan membuka indah yang lalu?
bagaimana dengan pahit yang selalu mengiringi?
apa memang pantas?
aku tersenyum, senyum yang entah bermakna apa.
aku hanya tersenyum.
karena aku tak tau.
bolehkah kenangan yang lalu membuatku lagi-lagi dilema?
bolehkah aku terjun ke jurang yang sudah kucoba untuk keluar dari bibirnya?
hingga akhirnya aku hanya bisa membalas dengan lambaian dan menyerahkannya padamu Tuhan.
ia melambaikan tangan, mengajakku untuk melihat ulangan cerita yang pernah tertoreh.
aku mengikuti, dengan perlahan. membiarkan ia berdendang.
ia menceritakan semuanya, yang membuatku rindu kala itu.
ia menceritakan semuanya, yang membuatku jatuh kedalam rasa hangat.
lalu kupandang dirinya yang berbisik semu meminta pelukan selamat datang sekali lagi.
aku memandangnya barang beberapa menit.
beberapa tanya muncul. aku tak lekas menjawab, tapi membiarkan ia terus saja melambai tangan.
apa iya ini jalannya? apa iya aku harus menerimanya lagi?
bukankah sudah ada sosok lain yang kini hadir di pelataranku?
lalu kenapa ia juga hadir dan membuka indah yang lalu?
bagaimana dengan pahit yang selalu mengiringi?
apa memang pantas?
aku tersenyum, senyum yang entah bermakna apa.
aku hanya tersenyum.
karena aku tak tau.
bolehkah kenangan yang lalu membuatku lagi-lagi dilema?
bolehkah aku terjun ke jurang yang sudah kucoba untuk keluar dari bibirnya?
hingga akhirnya aku hanya bisa membalas dengan lambaian dan menyerahkannya padamu Tuhan.
Komentar
Posting Komentar