Langsung ke konten utama

chit chat

pernahkah kau merasa lelah hanya karena hal yang bergulir tak juga usai?
dimana hal itu bukanlah sesuatu yang baik untuk berdiam didalamnya?
alhasil kau hanya bisa memillih untuk diam atau mengabaikan.
disaat sesuatu menjadi buruk dan kau merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, haruskah kau memina maaf? sepertinya iya. karena meski kau tak lakukan apapun yang menurutmu salah, kau punya kewajiban untuk menjaga semuanya baik-baik saja. dan itu butuh keteguhan hati yang besar.
memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang dimau oleh orang lain tidak selalu membuat kita bahagia. itu nyatanya. bahkan kadang malah membuat eksistensi kita seolah samar.
karena apa? harus ini. harus itu. sesuai kata dia. sesuai kata si A si B.
kau tau kau punya pendirian dan jawaban atas apa yang sudah kau tunjuk. tetapi harus berbelok dan harus menerima pembelokan itu terjadi meski kau tak ingin.
apakah ada yang peduli? kadang tidak.
pihak yang berucap hanya akan tersenyum saat tau kau melakukan tepat seperti yang mereka mau. dan sebaliknya mungkin mereka akan diam jika kau menolak atau berontak.
dan aku? aku sudah berada dalam situasi seperti itu beberapa waktu belakangan.
apa aku bahagia? yah, bagi mereka yang melihatku bisa tertawa pasti mereka akan bilang 'dia bahagia' meski mereka tidak tau otakku selalu terasa panas saat terbayang akan kata-kata yang terlontar dari bibir mereka.
dan bagaimana dengan orang yang kau perjuangkan? realitanya tak jauh beda.
mungkin karena kita manusia. berbuat salah sadar ataupun tidak. kadang aku merasa jika tak ada yang benar-benar mengerti. termasuk diri saya sendiri. dan saya sudah terbiasa didoktrin untuk melakukan apa yang orang-orang tersayang katakan. meski mereka tidak tau jika itu menyakitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...