maaf jika sekenanya saya tidak bisa mengucapkan apa yang ingin anda dengar.
maaf karena saya juga memiliki keteguhan hati sendiri saat anda seolah memaksa saya untuk menuturkan apa yang begitu ingin anda dengar.
maaf karena saya tidak pandai mengucap kata yang nantinya hanya akan anda sanggah dengan beberapa kalimat yang sudah saya hapal diluar kepala.
buat apa berhatur maaf jika tidak datang dari dalam hati?
buat apa memaksakan sesuatu yang tak seharusnya dipaksa hanya untuk kesenangan diri semata?
aku sudah jengah. berada dalam posisi terhimpit dan seolah bisa sesak napas kapan saja saat dindingnya lagi-lagi mulai bergerak menghimpit.
aku sudah jengah, selalu merasakan debaran jantung karena ketakutan yang entah harus berujung sampai titik mana.
mohon maaf, tapi saya tak ingin mendengar sindiran apapun keluar dari pihak anda.
saya selalu merasa sendiri. meski saya punya keluarga, punya beberapa sahabat, bahkan semu memiliki anda.
karena hakikatnya, saya memang tak punya siapapun kecuali Tuhan saya yang kadang sering kali saya abaikan. bahkan kadang saya merasa, apa itu jiwa? saya ini bagian dari apa jika raga hanyalah sesuatu yang terlihat dari luar. apa hanya sebuah hati? ataukah jiwa?
tersesat. saya tersesat dijalan yang saya coba jajaki. yang semakin lama semakin gelap saja.
lentera yang saya bawa kadang redup, kadang mati tak bersisa.
dan yah.. saya tetap sendiri dipeluk gulita.
maaf karena saya juga memiliki keteguhan hati sendiri saat anda seolah memaksa saya untuk menuturkan apa yang begitu ingin anda dengar.
maaf karena saya tidak pandai mengucap kata yang nantinya hanya akan anda sanggah dengan beberapa kalimat yang sudah saya hapal diluar kepala.
buat apa berhatur maaf jika tidak datang dari dalam hati?
buat apa memaksakan sesuatu yang tak seharusnya dipaksa hanya untuk kesenangan diri semata?
aku sudah jengah. berada dalam posisi terhimpit dan seolah bisa sesak napas kapan saja saat dindingnya lagi-lagi mulai bergerak menghimpit.
aku sudah jengah, selalu merasakan debaran jantung karena ketakutan yang entah harus berujung sampai titik mana.
mohon maaf, tapi saya tak ingin mendengar sindiran apapun keluar dari pihak anda.
saya selalu merasa sendiri. meski saya punya keluarga, punya beberapa sahabat, bahkan semu memiliki anda.
karena hakikatnya, saya memang tak punya siapapun kecuali Tuhan saya yang kadang sering kali saya abaikan. bahkan kadang saya merasa, apa itu jiwa? saya ini bagian dari apa jika raga hanyalah sesuatu yang terlihat dari luar. apa hanya sebuah hati? ataukah jiwa?
tersesat. saya tersesat dijalan yang saya coba jajaki. yang semakin lama semakin gelap saja.
lentera yang saya bawa kadang redup, kadang mati tak bersisa.
dan yah.. saya tetap sendiri dipeluk gulita.
Komentar
Posting Komentar