lagi-lagi jadi kelabu. seolah tanganku enggan dan takut untuk sekedar meraih sendu.
enggan untuk mendengar egois yang membusungkan dadanya dengan percaya diri.
enggan untuk sekedar mengintip apa yang ia tuturkan dan dengan siapa.
aku terlalu muak hingga rasa kesalku memuncak.
air mataku mengering karena terlalu lelah dengan cacian yang itu itu saja.
lagi-lagi aku merasa jika ia hanyalah pembohong.
yah, ia seperti pendusta yang ingin membenarkan apa yang sudah ia tulis.
kututup telingaku. aku tak mau mendengar apapun keluar dari mulutmu.
kualihkan pandangku. aku tak mau melihat kobaran kesombongan di matamu.
aku hanya ingin sendiri.membiarkan musik keras memakiku.
membiarkan mereka tertawa dan bertanya kenapa aku pengecut.
karena memang, saya adalah pengecut ulung.
saya dewasa, tetapi saya terlalu takut menggenggam harapan yang seolah telah berlalu.
saya pengecut, berusaha dan akhirnya terdiam di tengah persimpangan.
dasar penjahat ulung! kau tidak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah kau rusak.
tapi hanya kembali merusaknya. lagi dan lagi. seolah hal itu masih belum cukup bobrok.
Komentar
Posting Komentar