ditengah hembus napas yang sedikit tercekat.
kudengar suaranya mendendangkan namanya. sekali lagi.
dengan teramat santai.
ya, sekali lagi kudengar nama itu melantun dalam lubang telingaku.
napasku berat. dan aku hanya diam. sekali lagi perihnya terasa.
gadis itu, yaah gadis yang tak kukenal.
gadis yang tak kutau apa ia baik, buruk, cantik, atau berbopeng.
kenapa? kenapa ia muncul lagi seperti hantu?
kenapa? namanya harus lagi-lagi kudengar dan seolah menyayat luka yang masih belum kering jua
kenapa? aku harus mendengarnya langsung dari pita suaramu yang membuatku begidik?
diujung sana, kau mulai khawatir jika putrimu akan goyah.
diujung sana, ada rasa takut jika putrimu akan terluka lagi.
dan yah. kau benar.
wajah kakuku seolah menyiratkan.
jika saking perihnya, akupun tak bisa bersua.
kudengar suaranya mendendangkan namanya. sekali lagi.
dengan teramat santai.
ya, sekali lagi kudengar nama itu melantun dalam lubang telingaku.
napasku berat. dan aku hanya diam. sekali lagi perihnya terasa.
gadis itu, yaah gadis yang tak kukenal.
gadis yang tak kutau apa ia baik, buruk, cantik, atau berbopeng.
kenapa? kenapa ia muncul lagi seperti hantu?
kenapa? namanya harus lagi-lagi kudengar dan seolah menyayat luka yang masih belum kering jua
kenapa? aku harus mendengarnya langsung dari pita suaramu yang membuatku begidik?
diujung sana, kau mulai khawatir jika putrimu akan goyah.
diujung sana, ada rasa takut jika putrimu akan terluka lagi.
dan yah. kau benar.
wajah kakuku seolah menyiratkan.
jika saking perihnya, akupun tak bisa bersua.
Komentar
Posting Komentar