aku mengejanya dalam sebuah kata.
aku menantinya dalam gelisah.
aku mempercayainya dalam rapuhku.
kataNya, semua sudah tertulis,
mungkin lebih dulu sebelum aku bahkan megenal huruf.
apalagi mengenalmu.
aku berbisik dalam pengap malam.
dadaku nyut-nyutan meski kucoba untuk berebah saja.
ada tanya yang selalu tak terjawab.
aku benci itu.
disaaat berat dan terasa datar.
aku mencoba mengingat bagaimana caramu yang selalu berhasil buatku merona.
tapi nampaknya kita sama-sama lelah.
rasanya seperti ada yang memukul keras dadaku.
dipukul lagi dan lagi.
dum. dum. dum.
kenapa kata yang selalu kau dendang tak lagi kubaca?
kenapa tawa yang selalu tergerai tak lagi kudengar?
dan kenapa, aku hanya berdiam tanpa tau kapan berhenti dan kapan memulai.
aku jengah dengan semua ini.
kebodohanku hanya membuatku semakin jatuh.
dan langit, masih saja menyeringai menatap jeritku.
seolah ia senang melihat ronta kesakitanku.
hei kau,sungguhkah ingin menggenggam
atau hanya ingin menebus yang lalu?
karena aku, hanya bisa bertopang dengan hati bobrokku.
membiarkanmu menyayatnya jika mau
atau mungkin menambalnya dengan cerita baru.
aku menantinya dalam gelisah.
aku mempercayainya dalam rapuhku.
kataNya, semua sudah tertulis,
mungkin lebih dulu sebelum aku bahkan megenal huruf.
apalagi mengenalmu.
aku berbisik dalam pengap malam.
dadaku nyut-nyutan meski kucoba untuk berebah saja.
ada tanya yang selalu tak terjawab.
aku benci itu.
disaaat berat dan terasa datar.
aku mencoba mengingat bagaimana caramu yang selalu berhasil buatku merona.
tapi nampaknya kita sama-sama lelah.
rasanya seperti ada yang memukul keras dadaku.
dipukul lagi dan lagi.
dum. dum. dum.
kenapa kata yang selalu kau dendang tak lagi kubaca?
kenapa tawa yang selalu tergerai tak lagi kudengar?
dan kenapa, aku hanya berdiam tanpa tau kapan berhenti dan kapan memulai.
aku jengah dengan semua ini.
kebodohanku hanya membuatku semakin jatuh.
dan langit, masih saja menyeringai menatap jeritku.
seolah ia senang melihat ronta kesakitanku.
hei kau,sungguhkah ingin menggenggam
atau hanya ingin menebus yang lalu?
karena aku, hanya bisa bertopang dengan hati bobrokku.
membiarkanmu menyayatnya jika mau
atau mungkin menambalnya dengan cerita baru.
Komentar
Posting Komentar