Langsung ke konten utama

gundah

aku mengejanya dalam sebuah kata.
aku menantinya dalam gelisah.
aku mempercayainya dalam rapuhku.
kataNya, semua sudah tertulis,
mungkin lebih dulu sebelum aku bahkan megenal huruf.
apalagi mengenalmu.
aku berbisik dalam pengap malam.
dadaku nyut-nyutan meski kucoba untuk berebah saja.
ada tanya yang selalu tak terjawab.
aku benci itu.
disaaat berat dan terasa datar.
aku mencoba mengingat bagaimana caramu yang selalu berhasil buatku merona.
tapi nampaknya kita sama-sama lelah.
rasanya seperti ada yang memukul keras dadaku.
dipukul lagi dan lagi.
dum. dum. dum.
kenapa kata yang selalu kau dendang tak lagi kubaca?
kenapa tawa yang selalu tergerai tak lagi kudengar?
dan kenapa, aku hanya berdiam tanpa tau kapan berhenti dan kapan memulai.
aku jengah dengan semua ini.
kebodohanku hanya membuatku semakin jatuh.
dan langit, masih saja menyeringai menatap jeritku.
seolah ia senang melihat ronta kesakitanku.
hei kau,sungguhkah ingin menggenggam
atau hanya ingin menebus yang lalu?
karena aku, hanya bisa bertopang dengan hati bobrokku.
membiarkanmu menyayatnya jika mau
atau mungkin menambalnya dengan cerita baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...