bersama gradasi sinar mentari sore ini, kulihat lagi parasmu. lagi-lagi kupandang wajah letih itu. mengapa? inginkah kau untuk bertutur? atau hanya menikmati semilir angin yang menabrak tubuhmu yang mulai gontai?
bibirku mencoba untuk menunjukkan seulas senyum, kau tak mungkin tau bagaimana rasanya jantungku memompa dengan kecepatan ekstrem. 'kamu dimana?' kata itu yang terngiang di satu, dua, tiga dan langkah seterusnya yang membawaku kearahmu. kumohon, demi apapun. jangan kau bersedih. dimana dirimu yang penuh dengan tawa itu? aku merindunya. dimana tutur kata bijak yang biasa kau dendangkan hingga membuat hatiku merasa syahdu? lihat aku pujangga, kau tak sendiri.
kau tak perlu melihatku sebagai seseorang yang kau suka, lihat saja aku sebagai apapun yang kau mau. yang kau butuhkan. karena untuk kali kedua, aku tak mau mengacaukannya lagi. aku ingin menebus yang lalu.
tidakkah kau lihat sinarnya semakin menggelap, berubah menjadi pendar warna orange, bercampur dengan warna langit yang semakin pekat. indah bukan? ya. dan mengapa kau masih terlihat lesu. kau tak sendiri. semesta bersamamu jika kau mau mencurahkan semuanya. dan ya, kau sudah mencurahkan semuanya, tapi tidakkah jahat jika kau masih saja terlihat muram?
aku ingin bersamamu, menikmati sore ini, meski dengan orbit yang berbeda. karena pikiran kita memiliki poros yang berbeda, aku tak mengapa. karena menikmati keagungan sore ini sudah sangat spesial untukku.
tidakkah kau tau, satu, dua patah kata yang keluar dari bibirmu sudah cukup untuk membuatku merasa diterima. hanya dengan bertukar tatap sudah membuatku merasa jika kau menerima kehadiranku disini. dan satu simpul senyummu, sudah membuatku merasa jika aku berguna sudah berada disini. tidakkah kau tau wahai pujangga?
bibirku mencoba untuk menunjukkan seulas senyum, kau tak mungkin tau bagaimana rasanya jantungku memompa dengan kecepatan ekstrem. 'kamu dimana?' kata itu yang terngiang di satu, dua, tiga dan langkah seterusnya yang membawaku kearahmu. kumohon, demi apapun. jangan kau bersedih. dimana dirimu yang penuh dengan tawa itu? aku merindunya. dimana tutur kata bijak yang biasa kau dendangkan hingga membuat hatiku merasa syahdu? lihat aku pujangga, kau tak sendiri.
kau tak perlu melihatku sebagai seseorang yang kau suka, lihat saja aku sebagai apapun yang kau mau. yang kau butuhkan. karena untuk kali kedua, aku tak mau mengacaukannya lagi. aku ingin menebus yang lalu.
tidakkah kau lihat sinarnya semakin menggelap, berubah menjadi pendar warna orange, bercampur dengan warna langit yang semakin pekat. indah bukan? ya. dan mengapa kau masih terlihat lesu. kau tak sendiri. semesta bersamamu jika kau mau mencurahkan semuanya. dan ya, kau sudah mencurahkan semuanya, tapi tidakkah jahat jika kau masih saja terlihat muram?
aku ingin bersamamu, menikmati sore ini, meski dengan orbit yang berbeda. karena pikiran kita memiliki poros yang berbeda, aku tak mengapa. karena menikmati keagungan sore ini sudah sangat spesial untukku.
tidakkah kau tau, satu, dua patah kata yang keluar dari bibirmu sudah cukup untuk membuatku merasa diterima. hanya dengan bertukar tatap sudah membuatku merasa jika kau menerima kehadiranku disini. dan satu simpul senyummu, sudah membuatku merasa jika aku berguna sudah berada disini. tidakkah kau tau wahai pujangga?
Komentar
Posting Komentar