Langsung ke konten utama

bersama senja

bersama gradasi sinar mentari sore ini, kulihat lagi parasmu. lagi-lagi kupandang wajah letih itu. mengapa? inginkah kau untuk bertutur? atau hanya menikmati semilir angin yang menabrak tubuhmu yang mulai gontai?
bibirku mencoba untuk menunjukkan seulas senyum, kau tak mungkin tau bagaimana rasanya jantungku memompa dengan kecepatan ekstrem. 'kamu dimana?' kata itu yang terngiang di satu, dua, tiga dan langkah seterusnya yang membawaku kearahmu. kumohon, demi apapun. jangan kau bersedih. dimana dirimu yang penuh dengan tawa itu? aku merindunya. dimana tutur kata bijak yang biasa kau dendangkan hingga membuat hatiku merasa syahdu? lihat aku pujangga, kau tak sendiri.
kau tak perlu melihatku sebagai seseorang yang kau suka, lihat saja aku sebagai apapun yang kau mau. yang kau butuhkan. karena untuk kali kedua, aku tak mau mengacaukannya lagi. aku ingin menebus yang lalu.
tidakkah kau lihat sinarnya semakin menggelap, berubah menjadi pendar warna orange, bercampur dengan warna langit yang semakin pekat. indah bukan? ya. dan mengapa kau masih terlihat lesu. kau tak sendiri. semesta bersamamu jika kau mau mencurahkan semuanya. dan ya, kau sudah mencurahkan semuanya, tapi tidakkah jahat jika kau masih saja terlihat muram?
aku ingin bersamamu, menikmati sore ini, meski dengan orbit yang berbeda. karena pikiran kita memiliki poros yang berbeda, aku tak mengapa. karena menikmati keagungan sore ini sudah sangat spesial untukku.
tidakkah kau tau, satu, dua patah kata yang keluar dari bibirmu sudah cukup untuk membuatku merasa diterima. hanya dengan bertukar tatap sudah membuatku merasa jika kau menerima kehadiranku disini. dan satu simpul senyummu, sudah membuatku merasa jika aku berguna sudah berada disini. tidakkah kau tau wahai pujangga?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...