Langsung ke konten utama

anxiety

setiap orang memiliki kisahnya sendiri. setiap orang memiliki rasa sakitnya sendiri.
ceritaku, mungkin bukan cerita yang tak pernah ada sebelumnya.
sebagian orang tentu pernah merasakannya, sampai ke bagian terburuk sekalipun.
aku tak pandai mengutarakan kata lewat tutur halus. aku lebih suka menurturnya lewat tulisan.
aku tau aku orang yang penuh dengan nilai negatif, begitu juga dengan mereka yang selalu membuatku merasa terhimpit.
pernah pada suatu ketika rasanya sesak sekali. tetapi bibir tetap menunjukkan seulas senyuman.
jemariku hanya bisa menggenggam erat bagian punggungnya yang kokoh, membiarkan sesaknya hilang hanya dengan berada di pelukan seseorang yang kau sayangi.
ya, itu berhasi. kala itu. akan tetapi ceritanya tidak selalu semudah itu.
aku terbangun dengan debaran menyakitkan, dan mengetahui tak ada yang bisa mendekapku.
gambaran dirinya ada di sebrang sana, entah dengan gemelut pemikiran semacam apa.
kau tak selalu bisa menghakimi apa yang dipikirkan maupun dilakukan orang lain.
karena kau hanyalah dirimu. bukan hakim atas seseorang yang kau kenal.
mataku tak selalu nanar, tapi dadaku sering nyeri karena otak yang selalu mengatakan hal yang tak benar-benar ingin kudengar.
aku terbiasa menyalakan diri dan keadaan yang membuat segalanya terasa terhimpit. meski tau itu salah. hey! kau tak bisa berlaku seperti itu, karena ini semua masuk dalam kehendak otakmu sendiri. itu yang kuteriakkan. tapi nyatanya? sekali kau merasa depres, sekali kau merasa ada yang terjadi diluar apa yang kau harap, disitulah momen dimana semua terlihat berhambur begitu saja didepanmu.
berhambur bukan berarti hancur. tetapi separuh dari duniamu seolah membias. karena tanganmu tak lagi kuat untuk menggenggam apa yang semestinya aku kendalikan.
dan disaat seperti itulah kau merasa seolah dirimu hendak ditarik perlahan, masuk kedalam lubang gelap yang kau gali sendiri dengan beberapa wajah wajah yang bagimu menakutkan.
dan disaat seperti itu, aku.. hanya ingin kamu ada.
memeluk dengan ikhlas dan sabar. hingga himpitan itu perlahan melonggar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...