setiap orang memiliki kisahnya sendiri. setiap orang memiliki rasa sakitnya sendiri.
ceritaku, mungkin bukan cerita yang tak pernah ada sebelumnya.
sebagian orang tentu pernah merasakannya, sampai ke bagian terburuk sekalipun.
aku tak pandai mengutarakan kata lewat tutur halus. aku lebih suka menurturnya lewat tulisan.
aku tau aku orang yang penuh dengan nilai negatif, begitu juga dengan mereka yang selalu membuatku merasa terhimpit.
pernah pada suatu ketika rasanya sesak sekali. tetapi bibir tetap menunjukkan seulas senyuman.
jemariku hanya bisa menggenggam erat bagian punggungnya yang kokoh, membiarkan sesaknya hilang hanya dengan berada di pelukan seseorang yang kau sayangi.
ya, itu berhasi. kala itu. akan tetapi ceritanya tidak selalu semudah itu.
aku terbangun dengan debaran menyakitkan, dan mengetahui tak ada yang bisa mendekapku.
gambaran dirinya ada di sebrang sana, entah dengan gemelut pemikiran semacam apa.
kau tak selalu bisa menghakimi apa yang dipikirkan maupun dilakukan orang lain.
karena kau hanyalah dirimu. bukan hakim atas seseorang yang kau kenal.
mataku tak selalu nanar, tapi dadaku sering nyeri karena otak yang selalu mengatakan hal yang tak benar-benar ingin kudengar.
aku terbiasa menyalakan diri dan keadaan yang membuat segalanya terasa terhimpit. meski tau itu salah. hey! kau tak bisa berlaku seperti itu, karena ini semua masuk dalam kehendak otakmu sendiri. itu yang kuteriakkan. tapi nyatanya? sekali kau merasa depres, sekali kau merasa ada yang terjadi diluar apa yang kau harap, disitulah momen dimana semua terlihat berhambur begitu saja didepanmu.
berhambur bukan berarti hancur. tetapi separuh dari duniamu seolah membias. karena tanganmu tak lagi kuat untuk menggenggam apa yang semestinya aku kendalikan.
dan disaat seperti itulah kau merasa seolah dirimu hendak ditarik perlahan, masuk kedalam lubang gelap yang kau gali sendiri dengan beberapa wajah wajah yang bagimu menakutkan.
dan disaat seperti itu, aku.. hanya ingin kamu ada.
memeluk dengan ikhlas dan sabar. hingga himpitan itu perlahan melonggar.
ceritaku, mungkin bukan cerita yang tak pernah ada sebelumnya.
sebagian orang tentu pernah merasakannya, sampai ke bagian terburuk sekalipun.
aku tak pandai mengutarakan kata lewat tutur halus. aku lebih suka menurturnya lewat tulisan.
aku tau aku orang yang penuh dengan nilai negatif, begitu juga dengan mereka yang selalu membuatku merasa terhimpit.
pernah pada suatu ketika rasanya sesak sekali. tetapi bibir tetap menunjukkan seulas senyuman.
jemariku hanya bisa menggenggam erat bagian punggungnya yang kokoh, membiarkan sesaknya hilang hanya dengan berada di pelukan seseorang yang kau sayangi.
ya, itu berhasi. kala itu. akan tetapi ceritanya tidak selalu semudah itu.
aku terbangun dengan debaran menyakitkan, dan mengetahui tak ada yang bisa mendekapku.
gambaran dirinya ada di sebrang sana, entah dengan gemelut pemikiran semacam apa.
kau tak selalu bisa menghakimi apa yang dipikirkan maupun dilakukan orang lain.
karena kau hanyalah dirimu. bukan hakim atas seseorang yang kau kenal.
mataku tak selalu nanar, tapi dadaku sering nyeri karena otak yang selalu mengatakan hal yang tak benar-benar ingin kudengar.
aku terbiasa menyalakan diri dan keadaan yang membuat segalanya terasa terhimpit. meski tau itu salah. hey! kau tak bisa berlaku seperti itu, karena ini semua masuk dalam kehendak otakmu sendiri. itu yang kuteriakkan. tapi nyatanya? sekali kau merasa depres, sekali kau merasa ada yang terjadi diluar apa yang kau harap, disitulah momen dimana semua terlihat berhambur begitu saja didepanmu.
berhambur bukan berarti hancur. tetapi separuh dari duniamu seolah membias. karena tanganmu tak lagi kuat untuk menggenggam apa yang semestinya aku kendalikan.
dan disaat seperti itulah kau merasa seolah dirimu hendak ditarik perlahan, masuk kedalam lubang gelap yang kau gali sendiri dengan beberapa wajah wajah yang bagimu menakutkan.
dan disaat seperti itu, aku.. hanya ingin kamu ada.
memeluk dengan ikhlas dan sabar. hingga himpitan itu perlahan melonggar.
Komentar
Posting Komentar