Langsung ke konten utama

matahari

bagai mentari yang kadang kutunggu dan kadang kubenci
kunanti kilau jingganya yang indah
kucaci saat teriknya membuat merah raga
jarak antar kota terpaut, jemari kita tak pernah bisa bertautan.
dalam binar keorangean senja lalu,
pernah kubiarkan ragaku bersatu dengan bahumu
akal otakku kubiarkan bebas, menikmati keindahan itu dalam separo pelukmu.
langitnya berbeda. bukan karena ada kamu.
tapi gemerlapnya sedang cantik-cantiknya.
seolah semesta ingin memberi kenangan sebelum kau hilang dari pandang lagi.
tak ada keorangean seperti yang biasa kulihat saat menunggumu.
ungu, dengan sedikit bias warna biru cerah.
beberapa bintang mulai nampak, meski tak kentara.
senyummu mengudara, menambah cantik sore kala itu.
jemari kita tak lagi berjauhan, bisa kurasakan peluk jemarimu diujung pundakku.
bahkan semilir anginpun tak bisa memisah dua hati yang sedang bersanding.
seolah tak ingin dipisah cepat-cepat.
aku masih menunggumu, matahari ulungku
dengan sedikit perasaan kesal saat hanya pendar sinarmu yang menerangi.
menunggu momen yang lalu akan datang lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...