Bayangannya masih ada, tak kunjung juga ia menghilang.
Tak ada angin yang membantuku untuk menghapus bentukan gas
itu.
Mengambil sebagian dari udara yang kuhirup.
Sesak. Kau membuatku sesak.
Bayangan hitam yang masih saja ada di belakang meski sudah
beberapa kali kumaki untuk pergi.
Beberapa kali kuejek untuk minggir
Beberapa kali kuhujat untuk merasa marah dan akhirnya hengkang
Tapi nyatanya, ia masih disana menyeringai memandangku yang
menoleh kearahnya dengan wajah jengkel.
Sialan. Kenapa kamu tidak capek mengikutiku dibelakang?
Dan lagi-lagi ia tertawa, seolah menyiksaku dengan
kehadirannya adalah sebuah lelucon yang sanggup membuatnya terpingkal.
Aku terus berjalan, membiarkan bayang hitam itu mengejekku.
Berjalan kedepan, meski bayangan hitam itu sesekali
menyentilku saat sedang tertawa
Membawa aura gelap yang membuatku jengah.
Aku geram. Tak khayal aku hanya bisa menangis dalam gelap.
Berharap untuk diselamatkan.
Sudah ku udarakan bendera putih sejak lama.
Kepercayaan diriku sudah hilang tak bersisa, berharap ia
bisa dengan lega pergi membawa rasa puas.
Tapi tidak, dia tetap disana. Nyengir dan tak jarang sengaja
menunjukkan ekspresi mengejek.
Pergi. pergi yang jauh. pintaku.
Lalu sebuah sentuhan yang hangat mengagetkanku.
Berpaling dari bayangan yang juga ikut terdiam dan terkejut.
Tangan itu menyentuh pundakku pelan, menarikku kedalam pelukannya.
Air mataku tumpah ruah, lenganku melingkar di tubuhnya yang terasa sangat nyaman.
Aku tidak tau siapa dia, aku tidak tau ia datang dari mana.
Ia mendekapku, membelai lembut tubuh dan juga kepalaku yang terasa pening.
Ia tidak bersuara, tapi juga tidak seperti boneka yang hanya diam tak bergerak.
Aku merasa sepeti kucing yang sedang di manjakan oleh majikannya.
Meringkuk entah untuk beberapa lama.
Aku tidak melihat sosoknya, laki-laki, atau perempuan.
Tinggi ataukah pendek, aku tidak tau.
Yang kutau hanya hanyut dalam pelukannya.
Telingaku geli, udara dari bibirnya keluar. Suaranya dekat sekali dengan lubang telingaku.
'Bersahabatlah dengan bayangan itu. Dia bagian dari dirimu.'
Aku mendongak, tidak ada siapapun kecuali aku.
Aku memeluk hampa, memeluk udara yang berlalu.
Sisa tangisku masih ada, terisak untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kupandang lagi bayangan yang menyeringai dan melambaikan tangannya padaku.
Ya, dia bagian dariku. Meski rupanya begitu kelabu.
Kuusap sisa air mataku, mendatangi bayangan yang nampak bingung
Kuulurkan tanganku, berharap ia menjabatnya.
Aneh, dia ikut tersenyum dan menjabat tanganku.
Hingga dalam satu kedipan mata, ia hilang begitu saja.
Komentar
Posting Komentar