Langsung ke konten utama

Bayangan


Bayangannya masih ada, tak kunjung juga ia menghilang.
Tak ada angin yang membantuku untuk menghapus bentukan gas itu.
Mengambil sebagian dari udara yang kuhirup.
Sesak. Kau membuatku sesak.
Bayangan hitam yang masih saja ada di belakang meski sudah beberapa kali kumaki untuk pergi.
Beberapa kali kuejek untuk minggir
Beberapa kali kuhujat untuk merasa marah dan akhirnya hengkang
Tapi nyatanya, ia masih disana menyeringai memandangku yang menoleh kearahnya dengan wajah jengkel.
Sialan. Kenapa kamu tidak capek mengikutiku dibelakang?
Dan lagi-lagi ia tertawa, seolah menyiksaku dengan kehadirannya adalah sebuah lelucon yang sanggup membuatnya terpingkal.
Aku terus berjalan, membiarkan bayang hitam itu mengejekku.
Berjalan kedepan, meski bayangan hitam itu sesekali menyentilku saat sedang tertawa
Membawa aura gelap yang membuatku jengah.
Aku geram. Tak khayal aku hanya bisa menangis dalam gelap.
Berharap untuk diselamatkan.
Sudah ku udarakan bendera putih sejak lama.
Kepercayaan diriku sudah hilang tak bersisa, berharap ia bisa dengan lega pergi membawa rasa puas.
Tapi tidak, dia tetap disana. Nyengir dan tak jarang sengaja menunjukkan ekspresi mengejek.
Pergi. pergi yang jauh. pintaku.
Lalu sebuah sentuhan yang hangat mengagetkanku.
Berpaling dari bayangan yang juga ikut terdiam dan terkejut.
Tangan itu menyentuh pundakku pelan, menarikku kedalam pelukannya.
Air mataku tumpah ruah, lenganku melingkar di tubuhnya yang terasa sangat nyaman.
Aku tidak tau siapa dia, aku tidak tau ia datang dari mana.
Ia mendekapku, membelai lembut tubuh dan juga kepalaku yang terasa pening.
Ia tidak bersuara, tapi juga tidak seperti boneka yang hanya diam tak bergerak.
Aku merasa sepeti kucing yang sedang di manjakan oleh majikannya.
Meringkuk entah untuk beberapa lama.
Aku tidak melihat sosoknya, laki-laki, atau perempuan. 
Tinggi ataukah pendek, aku tidak tau.
Yang kutau hanya hanyut dalam pelukannya.
Telingaku geli, udara dari bibirnya keluar. Suaranya dekat sekali dengan lubang telingaku.
'Bersahabatlah dengan bayangan itu. Dia bagian dari dirimu.'
Aku mendongak, tidak ada siapapun kecuali aku.
Aku memeluk hampa, memeluk udara yang berlalu.
Sisa tangisku masih ada, terisak untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kupandang lagi bayangan yang menyeringai dan melambaikan tangannya padaku.
Ya, dia bagian dariku. Meski rupanya begitu kelabu.
Kuusap sisa air mataku, mendatangi bayangan yang nampak bingung
Kuulurkan tanganku, berharap ia menjabatnya.
Aneh, dia ikut tersenyum dan menjabat tanganku.
Hingga dalam satu kedipan mata, ia hilang begitu saja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...

mentari dari Lawu

hai, kau yang memberikan pandangan indah mengenai mentari di puncak Lawu pagi itu. sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian yang akhirnya membuatku mulai menilik lebih dalam? masih sangat jelas, waktu kau tiba-tiba menghilang dari notifikasi itu. muncul dengan sebuah lukisan indah yang Tuhan berikan. corak mentari yang mencobba untuk membaur pagi itu benar-benar indah. dan itu adalah salah satu hal terbaik yang kau bagi denganku.. sesuatu yang masih sangat kungat sampai kini, sampai tiba-tiba kau membuat jarak setelah ada temu nyata antara kita. sudah ada dua kemungkinan yang coba kuyakini, baik dan juga buruk. hanya saja aku bergeming, dan berharap sesuatu yang baik akan mengikuti. nyatanya tidak. entah karena alasan apa, sibuk selalu kau jadikan tameng. hanya saja kita berdua tau, atau setidaknya aku, jika itu hanya alasanmu saja untuk mengakhiri apa yang terlanjur dimulai. dan aku kecewa, aku kecewa dengan sikap itu dan aku juga kecewa dengan diriku yang terlalu be...