Ada apa dengan anganku. Selalu saja membuat pertanyaan pertanyaan yang hanya membuatku tidak tenang. Padahal hidup memang seperti itu kan? Tidak ada kepastian yang hakiki. Begitu juga dengan perkenalanku denganmu, harus kusebut dengan panggilan apa dirimu? Teduh. Yah. Panggil saja teduh. Sejak pertama kali namamu muncul dilayar ponselku, ada perasaan aneh yang muncul dari dalam diriku. Dia siapa? Kenapa dia berteman dengan teman lamaku? Rasa rasanya aku ingin abai saja. Tapi teduh, aku tidak bisa. Buktinya aku sempat membagi kehadiranmu kepada temanku. Jika memang kamu hanya sosok yang sekedar datang dan kupandang sebelah mata. Aku tak mungkin setertarik itu untuk berbagi dengan mereka. Mungkin karena aku tau, ini tidak munngki kebetulan. Jikapun ini kebetulan, sepertinya ini akan menjadi salah satu kebetulan yang menarik.
Teduh, sedari awal kita berbincang, aku merasa ada yang aneh. Pembawaanmu yang sopan, dan caramu menanyakan dan mengutarakan sesuatu. Awalnya kaku sekali bukan. Akupun tidak menyangka namamu akan muncul lagi. Dan kali ini kamu mengajakku untuk berbincang. Yah. Itu kali pertama kau menyapaku. Hingga pembicaraan itu mengalir begitu saja. Dan aku, dengan santainya juga mengikuti kemana arah pembicaraan itu berjalan.
Teduh, aku takut. Sudah banyak kisah yang singgah dan berlalu dari lembaranku. Hingga aku kadang tidak tau harus bersikap dan menanggapi seperti apa orang2 yang akan datang. Termasuk kedatanganmu. Hingga aku akhirnya menanyakannya padamu. Yah. Saat itu. Aku sudah tidak tahan. Ada banyak tanya yang muncul di kepalaku. Aku gelisah.
Teduh, mungkin bagimu aku hanya satu dari banyak wanita yang kau pernah temui. Aku tidak ada bedanya dengan mereka dalam beberapa level. Atau mungkin kau memiliki pemikiran yang lain? Aku tidak tau. Tapi teduh, aku lelah. Aku lelah merasa jika mereka yang datang hanya akan datang lalu berlalu jika mereka tau siapa aku.
Dan saat kau bilang ingin mengobati lukaku, dengan menjadi pendengar. Aku nelangsa. Jika lukaku sudah sembuh, kau mau apa? Pergi? Oh ayolah. Omong kosong apalagi ini. Aku sudah pernah memikirkan hal ini dengan hijau, setelah niatannya selesai. Ia pergi. Dan apakah lukanya sembuh? Tidak. Tapi bertambah. Dengan perginya dia. Jadi kumohon teduh, aku tidak butuh itu.
Aku butuh yang ingin tinggal dan tak berniat untuk pergi.
Teduh, sedari awal kita berbincang, aku merasa ada yang aneh. Pembawaanmu yang sopan, dan caramu menanyakan dan mengutarakan sesuatu. Awalnya kaku sekali bukan. Akupun tidak menyangka namamu akan muncul lagi. Dan kali ini kamu mengajakku untuk berbincang. Yah. Itu kali pertama kau menyapaku. Hingga pembicaraan itu mengalir begitu saja. Dan aku, dengan santainya juga mengikuti kemana arah pembicaraan itu berjalan.
Teduh, aku takut. Sudah banyak kisah yang singgah dan berlalu dari lembaranku. Hingga aku kadang tidak tau harus bersikap dan menanggapi seperti apa orang2 yang akan datang. Termasuk kedatanganmu. Hingga aku akhirnya menanyakannya padamu. Yah. Saat itu. Aku sudah tidak tahan. Ada banyak tanya yang muncul di kepalaku. Aku gelisah.
Teduh, mungkin bagimu aku hanya satu dari banyak wanita yang kau pernah temui. Aku tidak ada bedanya dengan mereka dalam beberapa level. Atau mungkin kau memiliki pemikiran yang lain? Aku tidak tau. Tapi teduh, aku lelah. Aku lelah merasa jika mereka yang datang hanya akan datang lalu berlalu jika mereka tau siapa aku.
Dan saat kau bilang ingin mengobati lukaku, dengan menjadi pendengar. Aku nelangsa. Jika lukaku sudah sembuh, kau mau apa? Pergi? Oh ayolah. Omong kosong apalagi ini. Aku sudah pernah memikirkan hal ini dengan hijau, setelah niatannya selesai. Ia pergi. Dan apakah lukanya sembuh? Tidak. Tapi bertambah. Dengan perginya dia. Jadi kumohon teduh, aku tidak butuh itu.
Aku butuh yang ingin tinggal dan tak berniat untuk pergi.
Komentar
Posting Komentar