hai, kamu. ya, kamu. yang secara random datang. yang secara tiba-tiba menawarkan hal yang menggiurkan. kita panggil saja kamu dengan sebutan si Hijau. hai hijau, kamu sesegar itu untuk akhirnya membuatku tergoda. tergoda untuk mau menyambut lengan yang kamu ulurkan.
hei hijau, kenapa kamu selalu menjadi pengisi malamku ? bukan, bukan dalam mimpi. tapi dalam putaran waktu yang sunyi dikala semua kepala sedang berada di alam bawah sadarnya masing-masing.
hijau, kuakui beberapa kalimat yang kau katakan benar adanya. dan beberapa terdengar seperti bualan. dan beberapa bahkan terdengar seperti tamparan buatku. hijau, sebenarnya apa motifmu untuk datang kemari ? ke gubuk reot ini ?
jika kau ingin menolong tetapi kau tutupi dengan dalih memberi masa depan, maaf aku tidak bisa. kau tau kenapa ? karena aku tidak butuh seseorang dengan mimpi masa depan yang semu. yang sebenarnya hanya ingin membantu untukku melupa rasa yang lalu. yang bisa saja akan pergi saat aku sudah benar-benar lupa dengan lukaku, dan kau merasa cukup untuk membantu dan pergi. lalu kau kira, siapa yang akan membantuku untuk menghapus harap denganmu yang merasa tugasnya sudah selesai ?
hai hijau, kau tak tau bagaimana dadaku berdebar kala kudengar suaramu yang melembut. caramu untuk menjelaskan sesuatu yang kadang aku tidak mengerti.
tapi hijau, waktu yang kita lalui bersama begitu singkatnya. yang hangat kini menjadi dingin. sesuatu yang kurindukan, suara sabarmu dikala menjelaskan apa yang aku tidak mengerti- kini hilang. aku tidak lagi menemui kamu yang seperti itu, kadang kau lebih sering menghardik dibanding menjelaskan dengan halus.
hijau, aku sering bertanya pada diriku sendiri. ada apa dengan semua hal yang kini kulalui ? ada apa dengan semua hal yang kini kujalani ? kenapa harus seperti ini ? tentang lelaki, tentang cinta. dan kini, kamu jadi salah satu ceritaku. yang bisa kutulis, yang bisa menjadi kenang.
lalu siapa yang nantinya akan menjadi yang paling akhir ? yang nantinya jadi yang menjabat tangan ayah, yang nantinya jadi ia yang selalu meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja asalkan kita bersama ?
apakah itu kamu ? atau seseorang lain sebelum atau sesudahmu nanti ?
hei hijau, kenapa kamu selalu menjadi pengisi malamku ? bukan, bukan dalam mimpi. tapi dalam putaran waktu yang sunyi dikala semua kepala sedang berada di alam bawah sadarnya masing-masing.
hijau, kuakui beberapa kalimat yang kau katakan benar adanya. dan beberapa terdengar seperti bualan. dan beberapa bahkan terdengar seperti tamparan buatku. hijau, sebenarnya apa motifmu untuk datang kemari ? ke gubuk reot ini ?
jika kau ingin menolong tetapi kau tutupi dengan dalih memberi masa depan, maaf aku tidak bisa. kau tau kenapa ? karena aku tidak butuh seseorang dengan mimpi masa depan yang semu. yang sebenarnya hanya ingin membantu untukku melupa rasa yang lalu. yang bisa saja akan pergi saat aku sudah benar-benar lupa dengan lukaku, dan kau merasa cukup untuk membantu dan pergi. lalu kau kira, siapa yang akan membantuku untuk menghapus harap denganmu yang merasa tugasnya sudah selesai ?
hai hijau, kau tak tau bagaimana dadaku berdebar kala kudengar suaramu yang melembut. caramu untuk menjelaskan sesuatu yang kadang aku tidak mengerti.
tapi hijau, waktu yang kita lalui bersama begitu singkatnya. yang hangat kini menjadi dingin. sesuatu yang kurindukan, suara sabarmu dikala menjelaskan apa yang aku tidak mengerti- kini hilang. aku tidak lagi menemui kamu yang seperti itu, kadang kau lebih sering menghardik dibanding menjelaskan dengan halus.
hijau, aku sering bertanya pada diriku sendiri. ada apa dengan semua hal yang kini kulalui ? ada apa dengan semua hal yang kini kujalani ? kenapa harus seperti ini ? tentang lelaki, tentang cinta. dan kini, kamu jadi salah satu ceritaku. yang bisa kutulis, yang bisa menjadi kenang.
lalu siapa yang nantinya akan menjadi yang paling akhir ? yang nantinya jadi yang menjabat tangan ayah, yang nantinya jadi ia yang selalu meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja asalkan kita bersama ?
apakah itu kamu ? atau seseorang lain sebelum atau sesudahmu nanti ?
Komentar
Posting Komentar