Langsung ke konten utama

Hei, you

hai, kamu. ya, kamu. yang secara random datang. yang secara tiba-tiba menawarkan hal yang menggiurkan. kita panggil saja kamu dengan sebutan si Hijau. hai hijau, kamu sesegar itu untuk akhirnya membuatku tergoda. tergoda untuk mau menyambut lengan yang kamu ulurkan.
hei hijau, kenapa kamu selalu menjadi pengisi malamku ? bukan, bukan dalam mimpi. tapi dalam putaran waktu yang sunyi dikala semua kepala sedang berada di alam bawah sadarnya masing-masing.
hijau, kuakui beberapa kalimat yang kau katakan benar adanya. dan beberapa terdengar seperti bualan. dan beberapa bahkan terdengar seperti tamparan buatku. hijau, sebenarnya apa motifmu untuk datang kemari ? ke gubuk reot ini ?
jika kau ingin menolong tetapi kau tutupi dengan dalih memberi masa depan, maaf aku tidak bisa. kau tau kenapa ? karena aku tidak butuh seseorang dengan mimpi masa depan yang semu. yang sebenarnya hanya ingin membantu untukku melupa rasa yang lalu. yang bisa saja akan pergi saat aku sudah benar-benar lupa dengan lukaku, dan kau merasa cukup untuk membantu dan pergi. lalu kau kira, siapa yang akan membantuku untuk menghapus harap denganmu yang merasa tugasnya sudah selesai ?
hai hijau, kau tak tau bagaimana dadaku berdebar kala kudengar suaramu yang melembut. caramu untuk menjelaskan sesuatu yang kadang aku tidak mengerti.
tapi hijau, waktu yang kita lalui bersama begitu singkatnya. yang hangat kini menjadi dingin. sesuatu yang kurindukan, suara sabarmu dikala menjelaskan apa yang aku tidak mengerti- kini hilang. aku tidak lagi menemui kamu yang seperti itu, kadang kau lebih sering menghardik dibanding menjelaskan dengan halus.
hijau, aku sering bertanya pada diriku sendiri. ada apa dengan semua hal yang kini kulalui ? ada apa dengan semua hal yang kini kujalani ? kenapa harus seperti ini ? tentang lelaki, tentang cinta. dan kini, kamu jadi salah satu ceritaku. yang bisa kutulis, yang bisa menjadi kenang.
lalu siapa yang nantinya akan menjadi yang paling akhir ? yang nantinya jadi yang menjabat tangan ayah, yang nantinya jadi ia yang selalu meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja asalkan kita bersama ?
apakah itu kamu ? atau seseorang lain sebelum atau sesudahmu nanti ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nyaris

aku nyaris menyerah. otak kumal ini lelah untuk diajak bergelut. tentang kau, inginmu, dan egoku. kemelut yang ada berujung badai. tak terlalu dasyat memang. tetapi sempat buatku menyeringai sinis. jemariku saling bertautan. menjaga satu sama lain. tak kubiarkan ada jemari yang mengikat. aku sudah terlalu lelah dengan omong kosong. aku berbalik. memunggungi teriak dan tatap mereka. wajah bengis itu kadang membuatku takut sekaligus kalut. ragaku berdiri sendiri seperti hendak dihujam tombak langkahku mulai gontai menunggu seseorang untuk menangkap. ingin kuhempas semua biar beban hilang. tapi itu percuma. karena onggokan sampah itu lebih banyak dari yang terkira. satu demi satu menggerogoti seperti kutu kecil yang mematikan. berjalan, terseret, sendiri.

Kelabu

awan kelabu datang. bukan ini yang kumau. langit kelabu datang. bukan ini yang kudamba. kata-kata yang terlontar membuatku terdiam, suara berat itu sayup-sayup menghilang. ketiadaannya mulai terasa, penjelasan-penjelasan yang kudengar terasa seperti kata pamit. senyumnya menghilang, dingin mulai merasuki. kehangatan itu mulai menghilang. badai yang menderanya, sepertinya terasa makin kencang. meski kucoba untuk renggangkan tangan, badainya belum juga mereda meski kucoba untuk mendekapnya, bahunya masih begidik. seolah-olah aku tengah memeluk debu yang berbentuk. debu itu membentuk sosokmu yang kudamba. damba yang kini mulai menjauh. hei kau, apa ini yang kau mau? apa jarak dan ketidak terikatan ini yang kau mau?

titik (?)

Titik. yah, kali ini rasanya titik. kukira aku tidak akan menemui titik diantara kau dan aku. mungkin hanya persepsi atau keinginanku saja. karena meski kau tak lagi menjadi pengganggu malamku, aku tetap ingin ada koma diantara kita. atau mungkin aku salah sangka ? ini bukan titik. tapi kau hanya sedang membatasi apa yang seharusnya jadi konsumsimu tiap harinya. bisa jadi. dan kau tidak membutuhkan aku. itu kenapa kau membangun tembok diantara kita. hey, hijau. siapa sangka akan seperti ini ? jika menemui akir, aku sudah bisa menduga. tapi dengan sesuatu yang tdak baik (?) aku tidak pernah dalam sedetik pun mengharapkannya. mungkin kau yang ingin. tapi tidak denganku. ah, apa yang salah denganku ? kenapa masih ingin merajut cerita dengan masa lalu dan berdalih ingin menjadikannya kawan. dasar si bodoh, padahal terkena satu cercaan saja kau sudah loyo. apalagi dengan kata-katanya yang kadang hanya bisa membuatmu sesak. apa niatmu ? ingin cari pelampiasan untuk belajar mengasah mental...